Sempat Minder, Akhirnya Rebut Gelar Duta Bahasa

Perjuangan  Venezia Indra,Mahasiswi FISIP Universitas Merdeka
SEORANG inspirator ternama, John C. Maxwell pernah menyatakan sebuah kata motivasi yang berisi, “bekerja keras sekarang, merasakan hasilnya nanti; bermalas-malas sekarang, merasakan akibatnya nanti”. Seperangkat kata diatas dapat menjadi gambaran awal kisah perjalanan, gadis multitalenta bernama Venezia Indra.
Penyandang gelar Duta Bahasa Tingkat provinsi Jawa Timur tahun 2015 ini mengungkapkan musuh terbesar dalam menjalani kehidupan adalah kemalasan. Keprihatinannya pada generasi muda saat ini yang cenderung memilih tidak melakukan kegiatan dan bermalas-malasan mendorongnya untuk ingin melakukan sesuatu.
Benar saja, dengan memberanikan diri mengikuti salah satu ajang bergengsi pemilihan Duta Bahasa Tingkat Provinsi yang diadakan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur di Sidoarjo, 22 September lalu, Vene, panggilan akrabnya, tidak menyangka dapat terpilih sebagai pemenang.
“Motivasi terbesar saya mengikuti ajang Duta Bahasa ini adalah agar saya dapat menjadi inspirasi teman atau pun adek-adek pelajar yang merasa ingin melakukan sesuatu bagi masyarakat,” ungkapnya kepada Malang Post kemarin.
Mahasiswi semester 5 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Merdeka Malang ini, mengaku sangat minder ketika menjalani tahap demi tahap perlombaan Duta Bahasa tersebut. Pasalnya, sebagian besar pesaing yang datang dari berbagai perguruan tinggi seluruh Jawa Timur ini berasal dari latar pendidikan Ilmu Budaya dan Bahasa yang tidak dipungkiri keahliannya.
Gadis kelahiran Madiun ini menceritakan bahwa, ia merasa sangat minder dalam sebuah sesi perlombaan. Yaitu, dalam sebuah sesi dimana ia diharuskan untuk menggunakan bahasa daerah. Gadis yang bercita-cita menjadi pembawa berita TV nasional ini menjelaskan, dirinya pada akhirnya membawakan dialek bahasa Malangan dan Surabaya sementara pesaing lainnya banyak yang menggunakan Bahasa Jawa Krama Inggil.
“Pada saat itu sempat minder sekali, karena bahasa daerah saya ternyata tidak ada apa-apanya dibanding yang lain. Namun, saya mengerti penguasaan bahasa daerah tidak hanya ditentukan dari bahasa apa yang dikuasai. Melainkan, bagaimana menggunakan bahasa tersebut dalam komunikasi yang baik,” tegas gadis yang pernah meraih 10 besar dalam kompetisi Raki Kota Madiun tahun 2015 ini.
Selain itu, pengalaman yang membuatnya sedikit malu sesaat sebelum mengikuti kompetisi Duta Bahasa yang diikuti oleh 50 peserta ini adalah mengalami mabuk darat saat perjalanan dari Malang ke Sidoarjo. Ia mengaku kejadian tersebut sempat membuatnya tidak merasa fit untuk mengikuti kompetisi.  Namun, berkat dukungan keluarga dan teman dekat, gadis yang pernah meraih Runner Up II dalam Kontes Kakang Mbak Yu Kota Madiun ini, bersemangat kembali, maju dan menjadi juara.
Vene yang juga aktif dalam kegiatan forum budaya Malang ini berujar, sebagai duta bahasa hal-hal yang merupakan tanggung jawabnya adalah menjadi inspirasi muda-mudi dalam melestarikan budaya, bukan hanya dalam lingkup bahasa Indonesia atau daerah saja. Melainkan, kebudayaan lain warisan bangsa lainnya juga patut dipelihara.
Dalam pelestarian bahasa, gadis yang pernah menjadi nominasi unggulan kompetisi Gadis Sampul Majalah Gadis tahun 2012 ini menyatakan prihatin akan kondisi penggunaan bahasa jaman sekarang.
“Gak usah liat jauh-jauh. Banyak dari teman kampus saya menggunakan bahasa Indonesia yang saya tidak mengerti sendiri apa maksudnya. Menyingkat, mengganti dan akhirnya merusak kaidah bahasa itu sendiri merupakan hal yang tidak bisa dibiarkan bagi saya. Namun hal ini terjadi begitu saja tanpa ada yang melakukan sesuatu,” tandasnya.
Gadis kelahiran 13 Desember 1995 ini, menuturkan, sebagai duta bahasa ia akan mulai menggerakkan anak muda untuk menggunakan bahasa sebagaimana mestinya melalui kegiatan prostif yang akan diselenggarakan Balai Bahasa seperti lomba pidato, seminar, pelatihan, ataupun kegiatan edukatif lainnya yang berkaitan dengan pelestarian bahasa dan budaya.
Selain menjuarai kompetisi Duta Bahasa Tingkat Provinsi ini, ternayata gadis multitalenta ini juga pernah menjuarai Pekan Olah Raga Kota Madiun Cabang Olah Raga Pencak Silat pada tahun 2012 dengan memboyong piala juara ke-3.
“Saya memang menyukai bidang olah raga pencak silat. Sampai saat ini saya masih menjadi anggota Perguruan Setia Hati Teratai yang berpusat di Madiun. Pencak silat merupakan salah satu seni bela diri asli Indonesia kan? Maka dari itu saya makin tertarik menggelutinya,” ungkapnya sambil tersenyum kecil.
Putri pasangan seorang PNS dan Dokter Gigi ini menegaskan, yang terpenting dalam menjalani hidup sebagai generasi muda adalah jangan takut mencoba hal-hal baru. Apa yang dapat dilakukan pada masa muda sebaiknya dilakukan dengan tekun dan sungguh-sungguh.
Ia mengatakan, bakat dan prestasi merupakan hal yang dapat diusahakan asalkan ada kemauan. Salah satu cara adalah berani melakukan sesuatu untuk kebaikan tidak pandang besar atau pun kecil pengaruhnya.
“Saya sejak kecil memang selalu ingin membuktikan diri bahwa saya bisa melakukan sesuatu dan tidak tinggal diam. Berbagai prestasi yang saya dapatkan semenjak kecil merupakan hasil usaha saya yang juga turut didukung kedua orang tua. tetapi, jika punya keberanian semua halangan tidak akan berarti apa-apa,” ujar gadis yang pernah mewakili Indonesia dalam kompetisi melukis, World Children Picture Contest IE- No Hikari di Jepang pada 2008 lalu.  (Sisca Angelina/nug)