Arema Lolos Semifinal Bakal Rombak Rambut Jadi Biru

FISIOTERAPIS tim nasional Muhammad Yanizar Lubis berlabuh di skuad Arema Cronus. Pria asal Depok berdarah Batak itu, sudah dua bulan merasakan hangatnya sepak bola Singo Edan. Bergabung dengan Arema, bagi pria berambut nyentrik ini, bukan sekadar cita-cita, tapi bagian dari mimpi yang jadi kenyataan.
Rambutnya merah menyala. Potongan rambutnya jambul. Pria dengan badan gempal ini, berlari-lari di pinggir lapangan latihan Arema Cronus. Tiba-tiba, Suroso, defender Singo Edan, mengerang kesakitan. Dia berhenti dari latihan dan berjalan pelan ke pinggir. Pria berambut merah langsung bergerak cekatan.
Dia memapah Suroso. Sepatu pemain yang akrab disapa Cak So itu dilepas. Dengan teliti, pria berambut merah ini menanyai Suroso. “Daerah mana yang sakit?” tanyanya. Sambil setengah meringis, Suroso menunjuk betisnya. Setelah itu, Suroso diinstruksikan untuk jogging ringan sembari melihat seperti apa kondisi betisnya.
Muhammad Yanizar Lubis. Itulah nama pria yang meminta pemain untuk jogging demi melihat seberapa parah cedera betis yang diderita. Nizar, sapaan akrabnya, adalah fisioterapis baru Arema. Dia bukan fisioterapis sembarangan. Setelah 10 tahun bergelut dengan dunia fisioterapi cedera olahraga, Nizar berlabuh di skuad pujaan Aremania.
Kali pertama gabung Arema, Nizar sudah dibuat terkesan oleh Arema dan Aremania. “Saya pertama datang ke sini saat ulang tahun Arema. Saya melihat-lihat suasana Malang yang dipenuhi dengan spanduk support Arema. Saya terkesan dengan suasana sepak bola di Malang. Menurut saya ini yang membedakan Arema dengan klub lain,” kata Nizar kepada Malang Post, di Graha Cakra Hotel Bali, kemarin.
Menurut alumnus UPN jurusan Fisioterapi ini, skuad Arema adalah skuad yang sudah tak asing lagi buatnya. Meskipun dia baru kali pertama bergabung dengan tim berjuluk Singo Edan, Nizar tidak asing dengan para pemainnya. Sebab, penggawa tim berlogo singa juga sudah sering jadi langganan timnas senior.
Nizar sendiri, adalah fisioterapis langganan timnas senior. “Karena Arema punya banyak pemain timnas, saya tidak terlalu sulit beradaptasi di Arema. Bukan cuma itu. Ofisial juga sangat welcome. Biasanya, kalau kedatangan orang baru pasti dianggap saingan. Tapi, Arema tidak begitu. Mereka welcome, mendukung dan sudah anggap saya seperti keluarga,” papar anak kedua dari empat bersaudara ini.
Meski demikian, Arema bukanlah klub pertama yang dibelanya sebagai seorang fisioterapis. Angkatan 1999 UPN tersebut mengawali karirnya setelah lulus dari jurusan fisioterapis. Berawal dari sepakbola hobi, Nizar akhirnya masuk sebagai tim fisioterapis Persikota Tangerang. Pria yang besar di Depok itu menjadi fisioterapis Persikota pada 2005.
Dia membela Persikota selama tiga musim. Karirnya meroket sejak dilirik oleh pelatih timnas senior saat itu, Benny Dollo. Tahun 2008, Nizar berlabuh di timnas senior. Lalu, Bendol juga kembali memakai jasa Nizar saat membela Persija Jakarta pada tahun 2009-2010. Puncaknya, dia sempat ikut merasakan tangan dingin Alfred Riedl saat membesut timnas AFF 2010 bersama Cristian Gonzales dkk.
Dari situ, Nizar tak pernah absen lagi dari kegiatan fisioterapis tiap musim. Selalu ada tim yang menginginkannya sebagai fisioterapis. Bogor raya, Persija dan timnas adalah skuad yang dibela Nizar dari medio 2010 hingga 2015. Namun, karena suspend PSSI, dia sempat berhenti dari sepakbola.
“Saat suspend PSSI, saya sempat berhenti di klub bola. Baru dua bulan lalu, saya kontak lagi dengan manajemen Arema, dan akhirnya membela Arema,” papar Nizar. Pria 35 tahun ini mengatakan, dia sebenarnya sudah pernah hampir bergabung dengan Arema, era awal almarhum Suharno tahun 2013.
Arema adalah tim besar. Semua pemain, ofisial hingga tenaga medis pasti berharap pernah membela Arema. Tak terkecuali Nizar. Namun, dia urung membela Arema karena alasan krusial. Anaknya sakit dan membutuhkan perhatian lebih. Padahal Nizar sudah negosiasi dan deal dengan Arema.
“Siapa sih yang gak mau membela tim sebesar Arema. Tim ini adalah tim yang diinginkan banyak orang. Tahun 2013 sudah nego dengan Pak Ruddy (Direktur Arema) dan deal. Tapi, anak saya sakit dan butuh perhatian banyak dari saya. Akhirnya gak jadi masuk. Ya baru sekarang ini,” aku Nizar.
Dalam hati kecil Nizar, Arema adalah tim yang jadi angan-angannya selama menggeluti dunia sepak bola. Sebab, dia menganggap Arema sebagai tim yang punya gengsi serta berpengaruh dalam sepak bola Indonesia. Tak heran, ia menyebut masuk Arema sekarang sebagai angan-angan yang jadi kenyataan.
“Bukan cita-cita sih masuk Arema. Tapi, lebih kepada angan-angan, mimpi. Dari dulu sudah kepingin sekali gabung dengan Arema. Baru sekarang terpenuhi,” paparnya. Selain menikmati perannya sebagai fisioterapis tim, Nizar juga merasa nyaman dengan Malang. Dibandingkan Jakarta, Malang jauh lebih tenang, santai dan tidak macet.
Macetnya Malang pun hanya secuil kemacetan dan carut marut ibu kota. Karena itu, ia merasa lengkap tinggal di Malang. “Suporternya luar biasa. Klubnya pun besar. Timnya disegani dan ditakuti. Kotanya pun nyaman dan tenang. Arema dan Malang itu lengkap,” paparnya.
Meskipun dia baru dua bulan jadi fisioterapis, tampaknya Nizar bakal lebih kerasan lagi di Malang. Dia hanya menunggu sepak bola berjalan lagi sebelum ada kepastian soal masa depannya di Arema.(fino yudistira/ary)