Aji Prasetyo, Komikus Malang Sukses Lolos Frankfurt Book Fair 2015

BERBAKAT : Komikus Malang Aji Prasetyo bersama artis Maudy Koesnaedi menunjukan salah satu bukunya yang berhasil lolos Frankfurt Book Fair 2015 bersama artis Maudy Koesnaedi.

MAESTRO komik Alm. Teguh Santosa mungkin  tersenyum bangga di surga bila mengetahui mulai banyak komikus berbakat asal Malang yang karyanya mendunia. Jerih payah Teguh Santosa untuk terus membanggakan warga Malang tak terputus sampai dirinya saja. Bibit-bibit baru yang akan membawa nama harum bangsa Indonesia terus bermunculan, seiring dengan perkembangan zaman.
Misal saja, pada era tahun  1980-an, Teguh Santosa memiliki seorang murid bernama Bambang Priadi alias Erost BP. Meski sebagai komikus nama Erost BP tak begitu tenar, tetap saja karya si spesialis komik Islami ini pernah menjadi kebanggaan orang Indonesia karena distribusinya mencapai Malaysia dan Singapura.
Begitu pula dengan generasi muda, seperti Admira Wijaya. Pria asli Malang ini selalu memiliki peran dalam setiap karya komik, maupun film animasi dari perusahaan komik internasional sekelas DC Comic dan Marvel. Kedua komikus yang profilnya pernah diangkat di Malang Post tersebut, patut diberi apresiasi.
Kini, muncul satu nama lagi yang jejak  prestasinya  sangat membanggakan. Dialah Aji Prasetyo, komikus, seniman dan budayawan, sekaligus pengelola kedai kopi Tjangkir 13. Pria dengan gaya khas rambut panjang terikat dan kacamata oval, berhasil menjadi perwakilan Indonesia ke pameran buku internasional dan pembicara di Frankfurt Book Fair 2015, Jerman pada  11 ktober 2015 mendatang. Tak hanya itu, Aji juga terpilih sebagai salah satu pembicara bersama penulis sekelas Andrea Hirata yang namanya melejit berkat Trilogi Laskar Pelangi.
Sejak kecil, pria kelahiran Pasuruan, 11 Desember 1976 ini memang sudah suka menggambar. Ia bercita-cita menjadi seniman lukis ternama. Jalannya memang sempat terhambat karena sang ayah melarang dirinya menjadi seniman, namun karena pendirian untuk terus menekuni jalan hidup sebagai seniman, kini tak hanya orang tua yang dibuatnya bangga. Bangsa Indonesia pun, patut berbangga memiliki komikus generasi muda berbakat seperti dia.
Ia berhasil menjadi perwakilan Indonesia di pameran buku tertua dan terbesar di dunia itu berkat tiga judul komiknya, yaitu “Hidup itu Indah”, “Teroris Visual” dan “Kidung Malam”. Ketiga komik ini lolos seleksi sebagai bagian dari 300 judul buku dari sekitar 2.000 judul yang diajukan peserta pada Frankfurt Book Fair 2015 di Jerman.
Dari ketiga buku ini, yang paling berkesan baginya adalah buku komik berjudul Hidup Itu Indah. Buku tersebut sempat dicekal oleh salah satu Organisasi Masyarakat (Ormas) yang merasa tersindir dari cover komiknya. Pada cover buku itu, terdapat tiga orang yang sedang berbonceng tiga menggunakan sepeda motor dan berpakaian seperti orang Arab. Saat mengendarai sepeda tersebut, tiga orang ini tak memakai helm. Hingga akhirnya ketiga pengendara itu terjaring razia polisi.
"Nah di komik itu diceritakan, pada saat dirazia, polisi menanyakan kelengkapan surat. Si pengendara itu malah marah-marah dengan berkata ‘memang ada haditsnya’," kata Aji kepada Malang Post saat ditemui beberapa waktu lalu. Aji mengatakan, sekelompok Ormas itu kemudian langsung menghampiri Toko Buku Gramedia pusat di Jakarta dan meminta komik karya Aji tidak diedarkan.
"Pihak Gramedia menuruti dan peredarannya di toko-toko buku di Gramedia langsung dicabut. Padahal, komik ini laris dijual. Dalam waktu empat bulan sudah mau dicetak untuk kedua kalinya," tambah Aji.
Nah, Aji tidak menyangka justru komik yang sempat dicekal Ormas ini justru lolos seleksi dalam Frankfurt Book Fair 2015. "Komik ini lebih menceritakan tentang kritik dan sindiran terhadap kondisi sosial di Indonesia. Hampir sama seperti buku kedua, Teroris Visual. Saya memang senang menyampaikan pesan melalui komik, karena dengan itu saya bisa berorasi lebih luas," tandasnya.
Aji sendiri dalam membuat komik tak sekadar menggambar dan memberikan hiburan kepada masyarakat saja. Ia selalu menyelipkan pesan di dalam setiap cerita yang ia buat. Menurutnya, hak ini terinsipirasi dari gaya Alm Teguh Santosa. Saat membaca komik karya Teguh Santosa , Aji masih duduk di kelas V SD. Ia mengaku mendapat pelajaran berharga setelah membaca komik dari Teguh Santosa.
Kekaguman itu muncul karena keistimewaan Teguh Santosa dalam membuat komik. Teguh santosa tak sekadar membuat komik sebatas hiburan. Teguh menyisipkan nilai, wawasan dan pengetahuan ke dalam setiap karyanya. Inilah yang diadaptasi oleh Aji. Baginya, para komikus muda boleh saja memiliki gaya masing-masing dalam teknik menggambar. Namun, lebih baik lagi, ketika komik tersebut mengandung wawasan dan pengetahuan yang dapat mencerdaskan pembacanya.
"Orang Jawa sangat mengagumi cerita wayang. Namun, pada generasi saya pentas pertunjukan wayang mulai berkurang minatnya. Berbagai kendala, membuat generasi saya sulit untuk memahami pesan dari kisah pewayangan. Nah, saat itu Teguh Santosa hadir dengan menceritakan kisah wayang melalui komik. Komik ini, membuat generasi kami bisa kembali memahami kisah perwayangan. Ini sangat menginspirasi saya," ujarnya.
Kini, Aji tengah sibuk mengurusi persiapan dirinya untuk berangkat ke Jerman. Ia mengaku masih grogi, karena itu kali pertama ia pergi ke luar negeri. Apalagi, ia akan menjadi salah satu pembicara dalam pameran yang akan dihadiri perwakilan dari ratusan negara. "Saya saja masih bingung, namun saya punya gambaran ingin menyampaikan hebatnya pluralisme agama di Indonesia, negara dengan jumlah penduduk Islam terbanyak," serunya.
Selain ke Frankfurt pada Oktober 2015 mendatang, karya Aji juga pernah dipamerkan ke Yunani pada 2012 silam. Meski begitu, karena satu dan lain kendala, ia tidak bisa ikut ke Yunani untuk berpartisipasi dalam festival seni yang diselenggarakan di sana. "Makanya ini kali pertama saya ke luar negeri, cukup grogi juga masih," pungkas Aji. (muhammad erza wansyah/nug).