Para Pengusaha yang Bertahan di Situasi Sulit (1)

Kondisi ekonomi tanah air boleh melambat, banyak sektor bisnis yang mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan keuntungan ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Namun, perempuan asal Malang ini, tak terpengaruh dengan situasi sulit. Bisnis berlangsung normal bahkan omzetnya melebihi angka Rp 2 miliar per bulan.

Keberuntungan masih berpihak pada Nuke A. Limanov. Sosok single parent yang berbisnis mandiri. Menjadi trader di bidang penyediaan ayam potong bagi pabrik besar di Jawa Timur hingga Jogjakarta dan Jawa Tengah. Krisis ekonomi yang dikhawatirkan banyak pebisnis, tidak dia rasakan. Sebab, usahanya masih berjalan normal.
Ya, memang normal. Di tahun ini, berdasarkan catatannya, bisnis yang dia geluti sejak tahun 2009 tidak terkendala. Omzet masih normal, antara Rp 40 juta sampai Rp 70 juta per hari. Dalam sebulan, pernah omzetnya melebihi angka Rp 2 miliar.
Padahal, pekerjaannya terlihat sangat santai. Tidak ada yang menduga, perempuan yang mengaku sosialita ini, harus bergelut dengan data keuangan setiap hari. Menerima pemesanan dari perusahaan yang membutuhkan suplai ayam potong dan dia mencarikan stok di peternak ayam, yang tersebar pula di Malang Raya bahkan hingga ke Banyuwangi.
"Begitu saja setiap hari. Terima telepon, komunikasi via BBM atau SMS, dan deal. Setiap hari, pasti ada transaksi," beber dia.
Jam-jam tertentu, Nuke akan sangat sibuk dengan dua gadgetnya. Pasca mengantar anaknya sekolah, dia akan terlihat mengutak-atik iPhone dan Blackberry-nya. Ternyata, dia tengah melayani permintaan customernya. Transaksi menjual ayam, dengan harga dan berat yang sesuai dibutuhkan. Jika dengan pesan singkat tidak jelas, akan berlanjut dengan telepon.
Ketika berbincang dengan Malang Post pun, perempuan kelahiran Bandung ini sesekali harus menerima telepon. Terdengar memang, pembicaraan mengenai suplai ayam yang dibutuhkan dan kapan pengirimannya. Ketika sudah deal, maksimal keesokan harinya ayam potong sudah harus dikirimakan kepada customer yang membutuhkan.
"Pekerjaan santai, asalkan sudah paham dan dipercaya oleh rekanan. Saya masih bisa mengurusi dua anak saya," bebernya.
Ya, Nuke masih memiliki banyak waktu untuk bersama dua buah hatinya, Reno dan Gaby yang masih duduk di bangku SD. Termasuk pekan ini, mereka akan berlibur ke Singapura, memanfaatkan liburan sang anak pasca penerimaan raport.
Nuke pun bercerita mengenai suka dukanya sebelum sukses di dunia ayam potong. Sejak memutuskan resign dari Ciomas, perusahaan yang berhubungan dengan penyuplai ayam potong pula, dia membantu rekannya dengan skema pekerjaan yang hampir sama. Setelah tiga tahun, dia memberanikan diri memulai usaha sendiri.
Modal nekat, dia menggadaikan surat rumah kepada bank. Pinjaman modal senilai Rp 300 juta, adalah awal mula perjalanan alumnus Universitas Pasundan ini. "Saya memutuskan berbisnis unggas sendiri. Lebih enak dengan waktu yang sangat fleksibel," ujar dia.
Tantangan pun datang. Tidak serta merta perjuangannya mulus, sebab Nuke pun harus mengajukan penawaran kerjasama kepada perusahaan, termasuk penyedia ayam yang merupakan suplier bagi gerai cepat saji ternama. Ditolak dan diacuhkan, tidak hanya satu dua kali. Nuke pun bermain dengan pedagang lokal, dan menyediakan untuk RPA di Kota Malang. Tetapi, pembayaran tersendat, mencapai ratusan juta.
Mulailah dia berurusan dengan klien raksasa. PT Saliman, UD Hartono, Resa Perkasa, Dinamika, dan Ciomas yang dulu merupakan tempat dia mencari nafkah, kini adalah salah satu kliennya. Kesuksesan mulai terjadi di tahun 2012. Terbaru, di tahun ini ada satu perusahaan di kawasan Pandaan, yang terkenal sebagai suplier ayam potong. "Impian dulu bisa bermitra dengan perusahaan Wonokoyo, sekarang kesampaian. Puncaknya, tiga tahun  terakhir ini," tambahnya.
Perempuan yang berdomisili di Puncak Buring Indak Blok B2 ini pun mengakui beberapa saat sulit, selain uang yang nyangkut, juga terjadi ketika ada isu flu burung. Masa itu, mengurangi separuh omzetnya. Namun, begitu kelar virus tersebut, bisnis kembali normal. Dia mengakui, pendapatan bersihnya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan anak dan orang tuanya. Begitu pula, saving untuk pendidikan anak sampai membeli beberapa rumah dan tanah.
“Anak saya ingin melanjutkan studi di Jerman, belajar tentang pesawat terbang. Pasti kan dananya mahal, harus menabung yang banyak. Sisanya, ya untuk kebutuhan jiwa. Belanja dan liburan,” terang dia, lantas tersenyum.
Nuke tercatat hobi belanja dan mengoleksi barang mewah. Tas dengan bandrol di atas Rp 3 juta tidak sedikit dia miliki. Hampir sama, jam tangan dan parfum mewah, juga menjadi kesukaan dia. Malahan, dia mengakui, untuk tas saja, bila diuangkan, cukup untuk membeli dua unit mobil.
“Biasa lah mas, perempuan gampang tergoda dengan barang seperti itu. Untung saya tidak suka mengoleksi mobil,” jelasnya.
Menurutnya, mobil cukup yang dia kendarai, untuk supir demi pemenuhan antar jemput anak, dan untuk orang tuanya. Meskipun aliran dana yang dia jalankan sangat besar, Nuke tampil bersahaja. Dalam keseharian, setelah tidak mengenakan Honda Stream, dia memilih HR-V sebagai kendaraan. Sementara di tubuhnya, balutan berlian tetapi tidak terlalu mencolok ada di jari tangan, leher dan telinganya.
“Mobil ya seperlunya, gak perlu yang mahal asalkan bisa berjalan dan tidak mogok di tengah jalan,” pungkas perempuan yang hampir setiap dua bulan selalu berliburan ke luar negeri itu.(stenly rehardson/ary)