Andrew Peter D. Jalani Bisnis Sesuai Hobi

Andrew Peter Dawncy dengan koleksi motor yang dia pajang di Monkey Garage.

Para Pengusaha yang Bertahan di Situasi Sulit (2/habis)
Terhitung pendatang baru dalam hal berbisnis, tidak menghalangi owner Monkey Garage untuk meraih sukses. Meskipun menghadapi banyak tantangan, Andrew Peter Dawncy mampu meraup untung di tengah krisis. Dia sukses memadukan pekerjaan dan hobi menjadi bisnis beromzet ratusan juta.

Andrew Peter Dawncy, itulah nama si pemilik Monkey Garage. Melihat dari namanya, dia bukan orang asli Indonesia. Benar, pria ini merupakan warga asal Inggris, yang baru tiga tahun ini resmi menjadi warga negara Indonesia (WNI). “Masih baru, belum genap satu putaran KTP saya menjadi orang Indonesia,” ujarnya, sekaligus menunjukkan tanda pengenal yang dimaksud.
Andi, begitu ia minta disapa, termasuk pebisnis di Malang yang masih seumur jagung. Bisnis salon mobil dan kafe yang dia miliki, masih berdiri dari tahun lalu. Tetapi soal pelanggan dan pergerakan uang di bisnisnya, jangan diragukan. Dalam sehari, omzet Rp 3 juta minimal digapai dari car wash dan salon mobil miliknya. Bila ditambah dengan kafe, dalam sebulan Monkey Garage akan mencatat omzet mencapai Rp 350 juta. “Untuk saat ini, rata-rata omzet di atas Rp 300 juta. Dari dua bisnis yang saya jalankan,” ujar Andi.
Menurut dia, setiap bulan omzet itu terus bertambah, tidak peduli musim hujan ketika awal tahun, hingga kini yang masih dalam musim panas. Melambatnya ekonomi, tidak berefek bagi bisnisnya. “Tidak terpengaruh apa-apa. Yang mencuci mobil tetap banyak, sehari rata-rata 80 sampai 100 orang,” sebutnya, dalam bahasa Indonesia yang masih terbata-bata.
Jika ditambah dengan layanan cutting sticker serta mereka yang nongkrong atau berburu kuliner, akan bertambah lagi customer yang dilayani oleh karyawannya yang berjumlah 55 orang. Baik untuk kafe dan car wash.
Andi mengakui, bisnis dengan investasi mendekati Rp 3 miliar itu, kini sudah memasuki masa panen. Pasalnya, tidak hanya masyarakat asal Malang saja yang mendengar Monkey Garage. Dari kabupaten bahkan sampai luar kota, mulai mendengar tempat bisnis yang juga menggunakan beberapa peti kemas sebagai sudut bisnisnya itu.
“Banyak yang menghabiskan waktu di sini, seperti komunitas, mahasiswa yang garap skripsi, atau customer yang sedang mencuci mobil,” beber dia kepada Malang Post.
Malahan, kini Monkey Garage siap berekspansi di beberapa kota. Untuk area Jatim, memang sesuai dengan target pengembangan dari bisnis. Akan tetapi, muncul permintaan di kota lain, bahkan sampai di luar pulau.
Menurut dia, perjalanan bisnis itu, bisa bertahan bahkan berkembang ketika masa sulit, karena dilakukan dengan sepenuh hati. Total dalam memanage, sebab sesuai dengan hobinya. “Ya total dong. Saya suka dengan bisnis ini. Jika ada masalah, saya ingat mobil dan motor saya, yang sudah saya rawat. Nah, bisnis pun harus dirawat,” tambah pria yang pertama kali di Indonesia 1997 itu.
Dia menyampaikan, solusi menghadapi masa sulit dalam berbisnis. Yakni dengan menunjukkan cinta kepada bisnisnya. “Ketika sudah cinta, nggak mau kan bisnis ini kolaps,” imbuhnya.
Andi bercerita, mengenai perjalanan hidupnya di Indonesia, sekaligus bisnisnya yang berawal dari hobi. Dia, memang hobi otomotif sejak kecil. Ketika masih menempuh pendidikan SMP, dia sudah berhasil mengumpulkan dana untuk membeli mobil sendiri. Jenisnya,  Lotus Cortina. Dari situ, koleksinya kian bertambah. Hingga usia 21 tahun, pria yang berulang tahun setiap 10 Oktober ini memiliki Fireblade, CBR, CB1000, Minicooper dan Ferarri 308.
Tak heran, di Monkey Garage, juga ada koleksi motor gede dan mobil kuno yang dia miliki dan itu semua dibeli ketika sudah di Indonesia. CBX1050, CBR 919, CBR1000 RR, dan Honda Monkey. Masih ada pula ZX 10, KPZ 750, KZ 1300, KLX 150 dan dua seri Ducati, Monster 900 dan Super Sport 900. Ada juga Bonneville 650 CC dan Speed Master dari Triumph. Belum ditambah mobil Porsche, Mini Cooper, Pajero dan Brio yang menjadi kendaraan sehari-hari. “Itu koleksi selama saya di Indonesia. Untuk kendaraan, saya biasa memakai Monster 900,” tegasnya.
Sejatinya, Andi lebih memiliki nama di bisnis tembakau. Keahliannya sebagai teknisi dan programer, membawanya sebagai pegawai di pabrik besar seperti PT Phillip Morris. Selain di Indonesia, dia sempat menjajal peruntungan di Tiongkok, Thailand dan Indonesia. Hingga akhirnya, tertambat dengan Indonesia.
Sebelum di Malang, dia merupakan sosok di balik berdirinya Albens Cider minuman beralkohol yang diproduksi di Bali. Dia pun memiliki saham di PT Indosamia Jembrana Bali itu, hingga kini. Sayang, Andi enggan membeberkan seberapa besar sahamnya. Kepada Malang Post, dia hanya menunjukkan hasil komunikasi dan pembagian keuntungan dengan pemilik Albens yang tertera saat ini. “Saya orang di balik layar saja,” tegas Andi, yang ternyata berasal dari Hendon, wilayah yang sama dengan Paul Cumming, sosok pelatih sepakbola naturalisasi asal Inggris.
Kembali pada bisnis dari pria yang sempat menjajal Ducati Challenge (ajang balap di Inggris), dia memastikan, akan terus mengembangkan bisnisnya. Tujuannya, selain memperoleh keuntungan, juga memenuhi keinginan batinnya. Kafe untuk memenuhi hobinya nongkrong dan salon otomotif, yang menjadi sarana pula baginya mengutak-atik mobil.
“Monkey Garage harus besar, tidak hanya di Malang, dan saya bisa menambah beberapa koleksi moge,” pungkas dia.(stenly rehardson/ary/habis)