Melihat Kondisi Tosan, Aktifis Penolak Tambang di RS Saiful Anwar

Kondisi kesehatan Tosan,  aktivis lingkungan yang menolak aktivitas penambangan liar di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, masih tak stabil. Ia kemarin mendapat banyak kunjungan, selain anggota DPRD Jawa Timur juga Direktur Perum Perhutani RI, Mustoha Iskandar.



Pria yang juga menjadi korban dari aksi tak manusiawi sekelompok preman pro-tambang itu, kembali dirawat di ruang Intensif Care Unit (ICU) Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, kemarin (2/10/15). Tosan yang dirawat di RSSA sejak Minggu (27/98/15) itu, kembali mengalami sulit bernafas.
Padahal, pada Kamis (1/10/15) pagi kondisi Tosan sudah membaik dan dibawa ke ruang High Care Unit (HCU) atau ruang 13 untuk observasi lebih mendalam. Namun, kemarin tim dokter dari RSSA mendapati Tosan kembali sesak nafas. Sehingga, tim RSSA harus kembali merawatnya di ICU atau ruang 12.
Ia mengalami frekuensi bernafas di atas rata-rata. Supervisor operasi, dr Muhammad S Niam menyebut, frekuensi nafas Tosan lebih dari 30 kali dalam satu menit. Padahal, frekuensi pada orang normal rata-rata di bawah 20 kali dalam satu menit.
"Kami sudah observasi pada pasien, hasilnya frekuensi nafas pasien di atas rata-rata," kata Niam di RSSA Malang, kemarin.
Ia menduga, sesak yang dialami Tosan karena dampak dari adanya gejala infeksi yang ditunjukkan hasil foto rontgen paru-paru pada Kamis (1/10/15) lalu. Malahan, kata Niam, ada bercak-bercak putih yang menyebar di paru-paru Tosan. Kendati demikian, Niam masih belum bisa memastikan bercak putih itu apa.
"Kami belum tahu riwayat kesehatan pasien. Tetapi nampaknya tanda-tanda itu lebih gawat dibanding dampak luka lambung yang telah direparasi," ujar Niam. Meski begitu, lanjut Niam, kondisi vital tubuh Tosan yang lain cenderung stabil dan hanya pernafasannya saja yang bermasalah.
Lebih lanjut, Niam menjelaskan kalau pemindahan Tosan dari HCU ke ICU ini memang harus dilakukan. Sebab, dengan kondisi kritis itu, Tosan memerlukan perawatan yang lebih intensif dibanding biasanya. Ruang ICU atau 12 sendiri, lebih tinggi dari ruang HCU atau ruang 13. "Pada ruang HCU, pengawasan tiga jam sekali. Kalau di ICU lebih ketat, pemantauan per jam," pungkas Niam.
Perlu diketahui, informasi yang dihimpun Malang Post, sejak kemarin pagi Tosan dikunjungi pejabat pemerintah, diantaranya komisi E DPRD Jawa Timur. Pada sore harinya, giliran tim dari Perum Perhutani yang membesuk Tosan. Tim dari Perhutani ini langsung dipimpin Direktur Perum Perhutani RI, Mustoha Iskandar bertemu dengan Tosan yang masih dalam kondisi baru operasi.
Bagi Mustoha, peristiwa mengenaskan ini menjadi momentum bagi Perhutani untuk bertindak jauh lebih keras terhadap penambangan yg ada di kawasan hutan Perhutani. Ia berjanji kalau pihaknya akan mengidentifikasi seluruh titik tambang ilegal sehingga akan diketahui dan bisa ditindak keras agar mereka tidak merusak likungan.
Nah, menariknya, Malang menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian Perhutani. Selain Malang, ada Lumajang, Tasikmalaya dan kota-kota lain di pulau jawa. "Kami sudah perintahkan inventarisir tambang ilegal  di beberapa kawasan, salah satunya Malang," kata Mustoha seraya mengatakan kalau berbagai tambang yang sudah mendapat perhatian Perhutani, mengindikasikan ada tambang liar di kawasan itu. (M Erza Wansyah/ary)