Ubah Sampah Menjadi Berkah Bagi Masyarakat Kepanjen

Ir. Koderi hampir menyerah mengurusi sampah. Namun, rekannya memberikan semangat dan dukungan. Bersama Ir. Renung Rubiyatadji, Koderi akhirnya berhasil menyelesaikan Pipa Porporated. Sebuah pipa yang mampu mengubah sampah menjadi berkah.


Hal inilah yang dilakukan oleh Ir. Koderi, dalam usahanya menyelamatkan lingkungan tempat ia berada. Sosok pria yang melakukan inovasi pembuatan Pipa Porporated dalam mengatasi permasalahan sampah nyatanya dapat membuahkan hasil yang besar dan bermanfaat demi kemaslahatan orang banyak.
“Awal mula mengapa saya mulai memikirkan alat tersebut adalah dengan adanya PP No 18 tahun 2008 yang menetapkan Kota Kepanjen sebagai ibu kota Kabupaten Malang maka tata ruang kota harus dibenahi. Maka Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talangagung harus dipindah ke tengah kota kabupaten. Dari situ, tugas saya dimulai,” tutur Koderi.
Pada saat mengerjakan itu, Koderi masih menjadi pegawai di Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kabupaten Malang urusan Persampahan. Memikirkan bagaimana cara membuat tempat yang dipandang buruk dan jorok oleh sebagian besar masyarakat merupakan tantangan baginya. Koderi yang saat itu mengaku hampir menyerah dengan permasalahan sampah. Terbantu oleh salah satu rekan kerja satu dinasnya bernama Ir. Renung. Rubiyatadji.
Bersama dengan kawannya tersebut, Koderi melakukan sebuah inovasi pembuatan Pipa Porporated tersebut pada awal tahun 2009. Ia menambahkan, pembuatan Pipa ini juga dibantu oleh warga sekitar TPA Talangagung sendiri. Menariknya, orang yang dengan sukrela mengajukan diri tersebut adalah Ketua RW 3 Kelurahan Adirejo Kepanjen bernama Rudi Santoso.
“Saya senang sekali, karena dalam pengerjaan pipa ini. Tantangan terberat adalah menyatukan visi dari para stakeholder yang diantaranya adalah masyarakat, aparatur dan pemilik usaha. Dengan bantuan pak Rudi sebagai tokoh masyarakat, pipa porporated dapat dimanfaatkan sampai sekarang dan terus dikembangkan,” tandasnya sembari menghirup kopi yang ia sajikan sendiri.
Pria yang gemar berkelakar ini menjelaskan sistem cara kerja Pipa Porporated. Melalui sistem porporasi atau lubang penyerapan, pipa yang berdiameter sedang, diberi lubang kecil-kecil di sekelilingnya, kemudian ditempatkan di tiap sudut TPA sebelum dimasukkan sampah. Baik secara vertikal dan horizontal. Aroma busuk sampah (biogas) dari tumpukan sampah di TPA akan masuk melalui lubang pipa kemudian akan diteruskan dengan sistem blower dan purifikasi. Sehingga menjadi gas metan yang dapat digunakan dan disalurkan sebagai gas elpiji dan  sumber listrik bagi warga setempat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talangagung Kepanjen.
Setelah percobaan Pipa Porporated berhasil dilakukan di TPA Talangagung Kepanjen dan ternyata dapat mengatasi masalah polusi udara warga setempat, mulailah ia membentuk TPA Talangagung menjadi  pengelolaan sampah terpadu yang dinamakan TPA Wisata Edukasi Talangagung.
TPA ini setiap harinya mendapat kiriman limbah organik dan anorganik sebanyak 125 meter kubik. TPA Talangagung dilengkapi pengolahan air lindi dan air hasil limbah ke lingkungan dengan kondisi baik sehingga tidak mencemari lapisan tanah hasil pengembangan dan penelitian Koderi dan kawan-kawan.
“Ya, namanya juga setiap hari bekerja dengan sampah. Hal yang saya ketahui betul adalah sampah. Saat ini bagaimana caranya memanfaatkan sampah menjadi hal yang berguna. Itu yang merupakan tujuan utama pekerjaan saya dan kawan-kawan,” tandas pria yang telah memiliki dua putri dan satu putra ini.
Dari hasil kerjanya terhadap lingkungan ini, Koderi yang saat ini bekerja di Balai Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, tengah menggalakkan program Eco-Campus yang rencananya akan dikembangkan di kampus-kampus yang ada di Kota Malang.
Ia menuturkan, proyeksi program eco-campus ini nantinya diharapkan akan mengintegrasikan seluruh kegiatan kampus baik akademik maupun non-akademik dengan kegiatan yang ramah lingkungan.
“Proposal rancangan kegiatan atau programnya masih kita kaji. Namun, proyeksi kedepan memang saya dan teman-teman akan menjadikan program ini nyata. Sehingga, elemen masyarakat lainnya dalam hal ini generasi muda, dapat secara dini mengetahui pentingnya menyelematkan lingkungan bahkan dalam lingkup terkecil yaitu kampus,” papar pria yang pernah mendapat penghargaan Kalpataru pada tahun 2013 ini.  
Pria yang berkediaman di jalan Lowokdoro 3/38 ini mengungkapkan, prestasinya dan usahanya dalam meminimalisir permasalahan sampah masih terbilang hanya satu persen saja dalam progress mewujudkan Malang Kota yang bersih.
Ia melanjutkan, perlu gerakan yang sangat besar dari seluruh elemen masyarakat untuk mengentas masalah sampah dan kebersihan di Kota Malang. Masih banyak kita temui di sudut kota sampah bergelimpangan, orang membuang sampah sembarangan yang akhirnya menimbulkan penyakit yang merugikan mereka sendiri.
“Ketika terjadi wabah penyakit atau permasalahan lingkungan yang timbul, kita mau menyalahkan siapa? Masalah lingkungan hanya akan dapat terselesaikan ketika seluruh elemen masyarakat mulai sadar diri. Minimal sadar diri saja itu sudah bagus,” pungkasnya menutup perbincangan selama kurang lebih dua jam ini. (mg9/ary)