Gus Fahrur Diundang ke Amerika Serikat Melalui Program IVLP

MENJADI tamu undangan pemerintah Amerika Serikat selama hampir satu bulan, merupakan pengalaman menarik bagi KH Ahmad Fahrur Rozi Burhan S.Ag, M.Ag. Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nur 1 Bululawang ini berbangga diri, lantaran berkesempatan mengikuti program International Visitor Leadership Program (IVLP).

IVLP merupakan program yang dicanangkan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat untuk mengundang perwakilan negara lain, untuk belajar tentang negara tersebut. Gus Fahrur bersama 13 tokoh lainnya dari Indonesia, berkesempatan mempelajari semuanya tentang negara yang dipimpin Presiden Barack Obama ini.
Sedangkan yang dipelajari antara lain tentang masalah pendidikan, lingkungan, sosial dan politik serta budaya. Program ini, tampaknya ingin membangun opini, bahwa Amerika Serikat terbuka untuk siapa saja termasuk perwakilan dari negara lain. Hal itulah yang pertama kali dirasakan oleh KH Ahmad Fahrur Rozi Burhan S.Ag, M.Ag.
Ketika Gus Fahrur sapaan akrabnya menginjakan kakinya di negara adidaya tersebut pada hari pertama 8 September 2015 yang lalu. “Program IVLP ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Tujuan diselenggarakan program ini, supaya negara lain, bisa belajar segalanya tentang Amerika,” ujarnya kepada Malang Post, mengawali pembicaraan.
Pada hari pertama itu, dia pertama kali mengunjungi Washington DC. Saat itu, Gus Fahrur bersama rombongan dipandu oleh pemandu Mr. Vinicius Portugal dari Capital
Communications Group. Tur khusus ini memperkenalkan tentang ibukota negara.
Dalam tour itu menjelaskan  landmark kota untuk memperkenalkan konsep demokrasi Amerika dan proses politik yang berlangsung di Amerika. “Kami diajak mengunjungi beberapa tempat bersejarah terpenting. Selain itu, menikmati keragaman kota yang hidup dan indah dengan Penduduk 632.323 jiwa,” kata Gus Fahrur.
Menurutnya, Kota Washington DC terletak di pertemuan Sungai Potomac dan Anacosta, antara negara bagian Maryland dan Virginia, Dibangun pada masa Presiden George Washington atas persetujuan dari Kongres pada tahun 1790. Sehingga, Kota washingotn DC ini merupakan kota bersejarah bagi Amierika serikat.
“Saat di Wahington, kami berkesempatan berkunjung mengelilingi The National Mall, yang terletak antara gedung parlemen dan Independence Avenue,” kata pria ramah ini. Setelah puas seharian berkeliling kota Washington lalu, rombonga diantar menuju Silver Spring, Maryland. Untuk mengunjungi pusat Asosiasi Muslim Indonesia di Amerika.
Di tempat itu, terdapat Masjid Indonesian Muslim Association in America (IMAAM) yang diresmikan diresmikan Presiden ke 6 RI, Susilo Bambang Yudohyono tahun 2014. “Sebelum dibeli, bangunan dua lantai berbatu bata merah ini adalah sebuah gereja yang dijual karena telah ditinggalkan oleh jemaatnya,” imbuhnya.
Menurutnya, itu mendandakan perkembangan Islam di negara teresebut sangat baik. Apalagi keberadaan masjid dan lembaga pendidikan terus tumbuh di Amerika Serikat. Setidaknya, saat ini sudah terdapat lebih dari 3.000 masjid yang berdiri di negara itu.
“Meski jumlah masjid dan umat muslim terus bertambah, masih ada kesebjangan maupun permasalahan antara umat muslim dengan non muslim,” sesalnya. Hal itu, terindikasi kuat melalui parlemen Amerika Serikat yang membuat kebijakan dan mempermasalahkan perbedaan agama.
Termasuk mempermasalahkan ras, suku maupun budaya. Terutama kebijakan yang berkaitan dengan negara lain maupun luar negeri. Hal itu terbukti melalui kebijakan-kebijakan yang dibuat mendukung perang yang dilakukan oleh Israel di Palestina. Hal itu, lantaran Amerika juga pernah disakiti oleh Nazi.
“Bolehlah Yahudi membenci Nazi. Namun, tidak harus dilampiskan kepada negara lain, salah satunya Palestina,” tegasnya. Meski mendapat undangan kehormatan itu, dia juga tetap menyampaikan kritikannya. Termasuk kritikan masih membedakan antar suku budaya maupun ras. Terlebih membedakan antara kulit hitam dan kulit putih.
“Kritikan semacam ini, juga saya sampaikan kepada pejabat di Kementerian Luar Negeri Amerika. Mereka juga mengakui hal itu,” tuturnya. Dalam kesmepatan itu, Gus Fahrur juga sempat menjadi pemateri George Fox University Apalgi melalui IVLP ini, mencetak tokoh besar Indonesia seperti Gus Dur dan Megawati.
“Beberapa pemipim luar negeri juga pernah mengikuti program IVLP ini,” imbuhnya. Tidak hanya di Washingotn DC, beberapa tempat juga telah dikunjungi Gus Fahrur. Meski demikian, dia tetap mengambil hal yang positif dan terus mengkiritisi apa yang menjadi kelemahan negara Amerka tersebut.
Sedangkan hal yang positif dapat diambil seperti kedisiplinan, modern dan kebersihan negara Amerika. Sedangkan kritisi tajam juga dilancarkannya, seperti maslaah agama dan tidak boleh membedakan suku maupun ras  (Binar Gumilang/Bersambung).