Sejak Tragedi WTC, Makin Banyak yang Ingin Belajar Tentang Islam

ISLAM memang menjadi bahasan menarik di Amerika Serikat. Baik itu dibahas oleh kalangan masyarakat, politisi, akademisi hingga pengusaha. Hal itulah yang dirasakan oleh KH Ahmad Fahrur Rozi Burhan S.Ag, M.Ag. Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nur 1 Bululawang, selama mengikuti mengikuti program International Visitor Leadership Program (IVLP), hampir sebulan.

Tragedi 11 September 2001 lalu, memang tidak pernah bisa dilupakan oleh masyarakat negeri Paman Sam tersebut. Saat pesawat ditabrakkan ke gedung World Trade Center (WTC). Sejak itulah, nama Islam selalu dikaitkan dengan aksi terorisme dan jaringan organisasi radikal.
Padahal, kejadian itu sebenarnya bertujuan merusak citra dan nama Islam. Selepas kejadian itu, nama Islam banyak diperbincangkan. Terlepas dari sisi kontroversial yang dilakukan oknum tidak bertanggungjawab itu, Islam justru semakin berkembang di Amerika.
Dari sebelum kejadian itu penduduk Amerika yang beraga Islam hanya sekitar lima juta jiwa, sekarang bertambah mencapai lebih dari tujuh juta jiwa. “Pascatragedi 11 September tersebut, penduduk Amerika yang beragama Islam semakin banyak. Baik itu yang berpindah agama ke Islam, maupun pendatang,” ujar Fahrur kepada Malang Post.
Selain masjid yang terus bertambah, lembaga pendidikan berbasis Islam juga terus bertambah di negeri yang dipimpin Presiden Barack Obama ini. Sedangkan beberapa lembaga pendidikan Islam, sempat dikunjungi oleh Gus Fahrur sapaan akrabnya.
Diantaranya Huda School and Montessori di Franklin City dan Muslim American Youth Academy (MAYA) School, di Dearborn City, Michigan. Dijelaskannya, Huda School and Montessori merupakan sekolah Islam yang sangat terkenal dan elit. Sekolah yang dipimpin Mr. Mohammad Isthiaq, mempunyai 350 murid.
Selain mengunjungi sekolah Islam, Gus Fahrur sapaan akrabnya juga mengunjungi sekolah Katolik, salah satunya Shrine Catholic high School, di Royal Oak, Michigan. “Sekolah-sekolah Katolik di Amerika Serikat mempekerjakan guru muslim. Begitupula juga sekolah-sekolah Islam, juga memperkerjakan guru non muslim,” kata dia.
Hal ini menandakan, kata dia, bahwa tragedi 11 September itu, tidak mempengaruhi Islam. Memang, harus diakui ada beberapa oknum tidak bertanggungjawab, yang ingin merusak citra Islam. Dia pun berkesempatan mengikuti beberapa diskusi mengenai Islam di Amerika. Sedangkan tanggapan melalui diskusi itu, cukup bagus.
“Sebenarnya, masyarakat Amerika itu tidak mempermasalahkan Islam. Namun, memang ada beberapa pihak yang ingin merusak nama Islam,” tegasnya.
Meskipun demikian, Islam semakin kuat di Amerika. Tidak hanya bertambahnya jumlah masjid yang ada, melainkan pemeluk Islam di negara adidaya tersebut juga semakin banyak.
Terlebih oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab itu, terus menyerukan Islam Phobia. Kendati demikian, Islam phobia itu ternyata tidak mempengaruhi pertumbuhan Islam di Amerika tersebut. Dalam kesempatan itu juga, Gus Fahrur berkesempatan mengunjungi beberapa tempat bersejerah dan penting bagi Amerika Serikat.
Diantaranya gedung parlemen , Independence Avenue, Amerika Serikat Capitol Building, dah The White House atau biasa disebut Gedung Putih. Selama hampur sebulan, Gus Fahrur bersama 13 tokoh lainnya yang tergabung dalam program IVLP ini, merasakan perkembangan Islam yang cukup signifikan di negara itu.
Sedangkan beberapa pengalaman yang didapat, bisa diterapkan di negara Indonesia. Diantaranya pendidikan 12 tahun gratis, disiplin yang sangat tinggi dan juga menjaga kebersihan. Di sisi lain, juga ada modernitas dan tata kelola yang baik dalam segala hal. Mengikuti program itu, memberikan manfaat dan pengalaman bagi Gus Fahrur.
“Meski sudah maju dalam berbagai bidang, pemerintah Amerika Serikat juga masih harus berbenah dan melakukan evaluasi. Diantaranya menghilangkan Islam Phobia, tidak membedakan suku, ras maupun agama, serta kepemilikan senjata api,” paparnya.
Selanjutnya, dia akan mengimplementasikan hal yang positif selama kunjungannya ke Amerika Serikat. Terutama untuk semakin memajukan Ponpes  An-Nur 1 Bululawang yang diasuhnya. Diantaranya, menerapkan kedisiplinan yang tinggi dan juga mendatangkan pengajar asing untuk memberikan pendidikan kepada seluruh santri.  
Sebelumnya, dia juga pernah mendatangkan pengajar bahasa Inggris untuk berbagi ilmu kepada seluruh santrinya.
“Tentunya saya mengambil yang positif dari Amerika untuk diterapkan di Indonesia,” imbuhnya.
Dia pun percaya pendidikan berbasis agama di Indonesia dapat lebih maju. Mengingat Indonesia menjadi negara penganut agama Islam terbanyak di dunia.(Binar Gumilang/ary/Habis)