Suhariyanto Pelukis ‘Nadzar Presiden’ untuk Jokowi

Namanya memang belum setenar seperti Abdullah Suriosubroto, Affandi atau Basuki Abdullah. Namun pelukis asal Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang ini, patut berbangga. Karya lukisannya yang berjudul ‘Nadzar Presiden’, Rabu kemarin dikirimkan ke Presiden RI Joko Widodo oleh pengasuh Ponpes Babussalam Pagelaran, KH Thoriq bin Ziyad, sebagai pengingat Jokowi yang pernah nadzar menjadikan 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional.
 
Melihat tampilannya, Suhariyanto, memang tidak seperti seorang seniman. Tampilannya sangat sederhana sekali. Tidak menunjukkan kalau dirinya seorang pelukis. Namun di balik kesederhanannya itu, warga Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Bantur ini, adalah seorang pelukis.
Satu karya lukisannya yang sangat berharga adalah lukisan berjudul ‘Nadzar Presiden’. Lukisan di atas kain kanvas dengan ukuran 120 x 170 sentimeter tersebut, dikirimkan ke Presiden RI Joko Widodo, Rabu kemarin. Lukisan itu dipesan oleh Pengasuh Ponpes Babussalam, Desa Banjarejo, Pagelaran, KH Toriq bin Ziyad.
Lukisan yang terdapat gambar wajah Jokowi bersama para ulama tersebut, dikirimkan sebagai pengingat nadzar Jokowi. Orang nomor satu di Indonesia ini, sebelumnya pernah menyatakan mendukung 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional, yang digagas oleh KH Thoriq bin Ziyad.
“Awalnya saya sempat menolak tawaran untuk membuatkan lukisan itu. Namun karena menyangkut Hari Santri Nasional, akhirnya saya terpanggil untuk menerima tawaran membuat lukisan itu. Ini merupakan suatu kebanggaan bagi saya, karena lukisan saya untuk Presiden RI. Semoga saja lukisan saya bisa diterima dengan baik,” terang Suhariyanto.
Pria kelahiran 9 Mei 1965 ini, mengatakan bahwa lukisan tersebut diselesaikan dalam waktu sebulan. Dimulai pada 17 Agustus 2015 lalu setelah salat Isya’. Lukisan tersebut harus rampung (selesai, red) pada 10 Dzulhijah setelah salat Idul Adha lalu. “Pesan Gus Thoriq (KH Thoriq bin Ziyad) tidak boleh selesai dari waktu itu,” katanya.
Proses pembuatan lukisan ‘Nadzar Presiden’ ini cukup unik. Karena setiap memulai melanjutkan lukisan, bapak tiga anak ini harus mengawalinya dengan salat sunnah. Kemudian setiap sapuan puas di atas kain kanvas, harus selalu diiringi dengan berdzikir, subhanallah.
“Kenapa berdzikir, karena tangan ini yang menggerakkan adalah Allah SWT. Tidak hanya lukisan ini (Nadzar Presiden, red) lukisan lainnya yang memiliki makna, juga selalu dengan iringan dzikir. Alhamdulillah, meskipun waktunya singkat namun lukisan bisa terlesaikan tepat waktu,” jelas pria yang kini sedang melakoni puasa tarekat selama berpuluh tahun.
Suhariyanto, mengawali melukis pada tahun 1992. Ia belajar melukis secara otodidak, karena memiliki hobi seni terutama melukis. Awalnya, hanya sekedar melukis pemandangan alam serta sketsa wajah. Lukisannya saat itu, hanya sebatas di atas kertas, yang kemudian dijual di pinggir-pinggir jalan. Semisal untuk kado ulang tahun atau lainnya. “Karena pada saat itu, lukisan di atas kertas sangat trend,” ucapnya.
Kemudian pada 1995, suami Meta Krisdiana ini, mulai melukis di atas kain kanvas dengan bergabung Dewi Griyo di Pondok Cabe Jakarta Selatan. Saat itu karya lukisannya adalah meniru lukisan eropa dan hasilnya harus sama persis. Karenanya dibutuhkan ketelatenan dan konsentrasi tingkat tinggi.
Selanjutnya untuk terus meningkatkan ilmunya di bidang seni lukis, Suhariyanto mulai bergerilya untuk bergabung dengan komunitas lukis di beberapa daerah. Seperti di Surabaya, Sidoarjo, Pandaan dan Malang. Baru setelah ilmu yang dia dapat cukup, Suhariyanto membuka galeri sendiri di Dokosari, Kecamatan Gedangan.
“Keputusan membuka galeri itu, untuk mempertahankan lukisan saya supaya tetap eksis. Karena banyak pelukis yang sekarang ini vakum. Ini selain untuk pameran, juga mencari biaya untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan hidup sehari-hari,” paparnya.
Sudah banyak karya lukisan yang telah ia selesaikan. Paling banyak lukisan yang digemari orang adalah lukisan harimau, yang merupakan symbol pemimpin. Lukisan ini sering diburu oleh pejabat. Kemudian lukisan kuda (kejayaan) dan ikan koi (hoki).
Saat ini, Suhariyanto sedang menyelesaikan dua lukisan yang nantinya akan dijual dengan banderol tinggi. Yaitu lukisan Nyi Roro Kidul di atas kereta kencana, serta Nyi Roro Kidul sedang bermeditasi di tengah laut. “Saya juga sedang menyelesaikan lukisan karapan sapi, yang akan dipersiapkan untuk event pameran,” urai pria berkumis tebal ini.
Suhariyanto menambahkan, bahwa kecintaannya dengan seni lukis juga tertular kepada ketiga anaknya. Kendati semuanya perempuan, namun mereka pandai melukis. Salah satu anaknya yang kini sedang menempun pendidikan di perguruan tinggi negeri di Kota Malang, gemar membuat lukisan karya suryalis. Yaitu lukisan yang maknanya menyinggung pemerintah, seperti sebuah rumah banyak tikus yang berarti banyak koruptor.(agung priyo)