Mengenal Prof. Drs. Effendy, M.Pd, Ph.D dari Universitas Negeri Malang

Pengabdian seorang pendidik tidak dapat diukur dari sebuah piagam, medali bahkan dengan uang. pendidik yang baik akan mengabdikan dirinya dalam bentuk apapun tanpa tanda jasa atau pemberian apapun.

Inilah yang menjadi pedoman hidup Prof . Drs. Effendy, M.Pd, Ph.D., seorang guru besar Universitas Negeri Malang yang baru saja dikukuhkan setelah 13 tahun. Saat ini, ia menjadi satu-satunya ilmuwan Indonesia yang namanya masuk daftar Cambridge Structural Database (CSD) di Cambridge Crystallographic Data Centre, sebuah database berisi nama para peneliti yang berhasil mempublikasikan minimal 501 struktur senyawa baru dalam jurnal internasional.
Pria yang akrab disapa Pak Effendy ini mengungkapkan, titel guru besar hanyalah bonus yang bisa didapatkan dari seorang dosen sebagai bentuk apresiasi pengabdian sebagai guru.
“Titel tersebut tidak lebih hanya sebagai titel saja. Hal yang terpenting adalah apa yang dapat dilakukan seseorang dengan titel guru besar dalam meningkatkan mutu pendidikan, terlebih pada masyarakat banyak,” tutur peraih Habibie Award tahun 2012 atas 22 tahun pengabdian penelitian dalam sintesis dan penentuan struktur senyawa koordinasi.
Guru Besar Fakultas MIPA UM ini memang sejak tahun 1981 memfokuskan dirinya, pada penelitian dan pengembangan ilmu eksak dalam bidang Kimia dan Biologi terkhusus pada sistem senyawa dan molekul. Bapak dari tiga orang putra, Naufal Attiqurrahman, Fiqry Ihsanurrahman, dan Adzka Rizqy Taufiqurrahman ini menjelaskan bahwa sistem senyawa merupakan sebuah ketertarikan tersendiri baginya sejak ia mulai mempelajarinya di bangku kuliah.
Effendy mengungkapkan, dirinya tidak pernah bermimpi untuk menjadi ahli kimia dan biologi. Sewaktu masih duduk di bangku SMA, ia bercita-cita menjadi dokter. Namun ayahnya, Nawawi, yang sempat menjadi pengepras atau pemborong tanaman tebu, secara mendadak bangkrut. Ketika itu sang ayah bangkrut karena ditipu oleh oknum-oknum.
Kondisi itu membuat Effendy terpaksa masuk ke Jurusan Pendidikan Kimia Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang. Dia membiayai kuliah dengan membuka kios penyewaan buku dan komik. Usaha inilah yang kemudian juga membantu membiayai kuliah empat adiknya.
Lulus S-1 dari IKIP Malang pada 1981, dua tahun kemudian Effendy melanjutkan ke jenjang S-2 Pendidikan Kimia di IKIP Jakarta. Dia berhasil lulus S-2 tahun 1985. Pada 1987, Effendy memperoleh beasiswa untuk belajar ke Australia bersama 20 pengajar IKIP yang sudah menyandang S-2 dari seluruh Indonesia. Mereka diharapkan menjadi pakar dalam bidang kimia, fisika, dan matematika.
”Di Australia, kami semua diturunkan setara dengan tahun ketiga S-1. Luar biasa berat buat saya karena selama satu tahun harus mendalami teori-teori kimia untuk mencapai gelar BSc dan setahun lagi untuk BSc Honour. Namun, saya merasa beruntung karena bisa menemukan satu senyawa pada saat terakhir masa tesis. Kalau tidak, saya bisa kena drop out,” cerita Effendy bersemangat.
Ia melanjtkan, dari satu senyawa itulah, Effendy melangkah lebih jauh. Ia terus melakukan penelitian dan menemukan senyawa-senyawa koordinasi lain yang kemudian dia pelajari strukturnya. ”Setelah dua bulan, saya berhasil menyintesis 32 senyawa baru,” paparnya sambil sesekali membuka lembaran buku-buku yang ia tulis.
Atas prestasinya itu, Effendy ditawari masuk program doktor tanpa harus menyelesaikan program master. Dua bulan setelah pengumuman kelulusan sebagai doktor pada akhir tahun 1993, Effendy diminta oleh seorang ahli kimia, Prof Allan Henry White, untuk melanjutkan penelitian yang dia lakukan selama menjalani program doktor.
Saat ini, Prof Effendy telah menemukan lebih dari 643 senyawa baru yang diantaranya dapat dijadikan pedoman dalam penyembuhan berbagai penyakit berat seperti kanker dan rematik.  
“Beberapa penelitian saya digunakan untuk aplikasi pembuatan antikanker, antijamur dan antibakteri oleh ilmuwan di Australia,” tambah pria yang berkediaman di  Jl. Sidodadi II No. 12A, Bululawang, Malang ini.
Menjadi peneliti, katanya, adalah tugas dosen. “Tugas dosen utamanya adalah meneliti untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Di luar negeri, semua dosen begitu. Hanya di Indonesia yang tidak begitu,” tandasnya dengan nada lirih.
Pria kelahiran Malang ini menyarankan, khususnya pada rekan dosen agar lebih aktif memulai dan berkonsentrasi pada penelitian. Dan, sebaiknya mulai melakukan kerjasama dengan peneliti luar negri. Pasalnya, biaya penelitian masih terbilang cukup besar.
Beberapa penghargaan internasional yang telah diperoleh, Prof Effendy diantaranya adalah dimasukkannya namanya dalam “International Directory of Distinguished Leadership”, American Biographical Institute, Inc USA pada tahun 2001  dan “2000 Outstanding Intellectuals of the 21st Century”, International Biographical Centre (IBC), Cambridge, UK tahun 2008.
Kemudian, pria yang yang lahir di desa kecil bernama Wandanpuro, Kabupaten Malang ini juga memperoleh “Gold Medal for Indonesia” dari American Biographical Institute, Inc. USA pada tahun 2006 dan merupakan “One of Six Indonesian Leading Scientists” pada tahun 2008.  (Sisca Angelina/ary)