Kisah Para Pemilik Darah Rhesus Negative di Malang

Jumlahnya hanya satu persen di Indonesia. Mereka terkoneksi satu sama lain, melebihi saudara. Memiliki darah dengan rhesus negative memang bukan hal yang tidak normal. Gabungan antara anugerah, atau justru petaka. Yang pasti, dengan jumlah yang sangat sedikit di dunia, pemilik darah dengan rhesus negative pun harus selalu berhati-hati menjaga badan mereka dari luka.

Keinginan saling menyelamatkan nyawa satu dengan yang lain sangat kuat. Tidak peduli jarak, maupun waktu. Saat ada yang membutuhkan darah, pemilik darah rhesus negatif langsung berangkat.
Kekompakan serta kebersamaan yang terjalin didukung dengan keaktifan mereka memberikan dukungan. Enam pemilik rhesus negative tergabung dalam Rhesus Negatif (RNI) wilayah Malang meraih penghargaan dari PMI Kota Malang beberapa waktu lalu.
“Tahu golongan darah saya rhesus negative 2012 lalu. Saat itu saya sakit demam berdarah,’’ aku Estu Winayun Ditta salah satu anggota RNI .
Estu yang merupakan koordinator RNI Wilayah Malang ini mengaku jika sejak kecil hidupnya normal. Tidak pernah ada masalah dengan kesehatannya. Bahkan, saat usianya menginjak dewasa, dia aktif melakukan donor darah. Setiap tiga bulan, jika ada event donor darah dia selalu ikut. Atau jika tidak dia datang ke PMI.
Hingga tahun 2012 lalu, mendadak dia terkena demam berdarah, dan harus menjalani rawat inap di salah satu RS di Surabaya. Karena saat masuk trombositnya 35.000, Estu wajib mendapatkan suplai trombosit. Tentu saja tim medis tidak sembarangan. Sebelum memberikan darah, pihak RS tempat Estu dirawat lebih dulu melakukan tes golongan darah. Dari hasil tes itulah kemudian diketahui jika golongan darahnya ada B rhesus negative.
Jenis darah yang tidak biasa ini membuat tim medis saat itu kalang kabut. RS tempat Estu dirawat tidak menyediakan darah jenis rhesus negative. Juga PMI Kota Surabaya tidak memiliki stok. Kepanikan pun terjadi. Orang tua Estu bertanya ke sana kemari. Semua cara dicoba, agar sang anak mendapatkan darah dengan golongan B rhesus negative.
“Rhesus adalah protein (antigen) yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Karena jenisnya negative, maka permukaan sel darah merah tidak ada kandungan protein. Ini yang harus diwaspadai. Saat kami menerima darah dengan golongan rhesus positif jelas fatal akibatnya, atau berujung pada kematian,’’ kata Estu.
Mengetahui kondisi itulah sang ayah merasa sangat panic dengan berbagai cara dia mencari darah jenis B rhesus negative.  Estu bersyukur, karena di Malang ada stok. Yang semula sudah putus asa, Estu dan keluarganya pun bernafas lega.
Tapi bukan itu yang membuat Estu terharu dengan darahnya. Kekompakan para pemilik darah rhesus negative inilah yang membuatnya saling mengenal satu sama lain. “Saya pernah ke Solo, waktu itu sedang ada hajatan keluarga. Karena saya tergabung saya merupakan koordinator RNI Malang maka, saat di Solo saya pun calling teman-teman di sana,’’ kata wanita yang sekarang bekerja sebagai perawat di RS Baptis ini.
Bukan itu saja, Estu juga langsung menawarkan kesiapan jika ada teman yang membutuhkan. Tidak disangka, saat malam tiba-tiba ada temannya menelepon, butuh darah rhesus untuk seorang pasien. Tanpa pikir panjang Estu yang menggunakan kebaya, serta dandanan ala penerima tamu pergi dari area hajatan, mendatangi PMI Kota Solo. Tidak sedikit orang terheran dengan penampilannya. Demi nyawa Estu tidak mempedulikan itu semua.
Dengan kondisi masih berkebaya Estu langsung menyodorkan tangannya, untuk donor. “Saya pamit ke PMI. Keluarga sudah tahu. Tapi mereka juga banyak yang heran juga. Lha saya datang ke PMI naik motor, dengan pakaian kebaya dan dandan,’’ kenangnya sambil tertawa.
Kendati sukses menyumbangkan darahnya, tapi kebutuhan darah pada pasien masih kurang. Kendati Solo bukanlah kotanya, dia tetap memiliki tanggung jawab mencari. Beberapa temannya pun di telepon untuk kesediannya berangkat ke Solo. Hasilnya, seorang teman bernama Jamal, warga Batu bersedia.
“Saya kaget, waktu itu teleponnya malam banget. Tapi karena kita saling memiliki satu sama lainnya, saya berangkat malam itu juga,’’ kata Jamal.
Jamal juga memiliki golongan darah B rhesus negative. Dia care dan peduli dengan para pemilik rhesus negative lantaran ada sejarahnya. “Dulu saya kecelakaan, dan harus dirawat di RS. Karena darah saya golongan rhesus negative, sulit mencari. Susah payah kami mencari. Kondisi saya itu tidak perlu terulang. Makanya saya langsung berangkat saat Estu memberitahu ada pasien butuh darah rhesus negative,’’ katanya, sembari mengatakan pasien yang membutuhkan darah rhesus negative tersebut sakit leukemia.
Berbeda dengan Estu dan Jamal, Mariana Puspa Dewi memiliki cerita lain. Pemilik golongan darah O rhesus negative ini mengaku sulit mendapatkan keturunan. Merry begitu dia akrah dipanggil bercerita tahun 2002 lalu menikah dengan Hendra Permana. Tahun 2003 dia keguguran. Awalnya, Merry tidak curiga, dan beranggapan keguguran tersebut karena dia terlalu lelah. Tapi begitu, selang beberapa bulan kemudian dia kembali keguguran.
“Keguguran kedua, saya masih beranggapan wajar, dan berpikir kalau kondisi saya drop. Tapi saat tahun 2004 keguguran lagi, saya shok,’’ akunya.
Karyawan Asuransi Axa inipun langsung pindah dokter. Dari dokter itulah Merry mengikuti tes. Tapi saat itu hasil menunjukkan semuanya normal. Hingga akhirnya, sang dokter menyarankan agar tes rhesus  darah. Dari situlah Merry kemudian tahu jika darahnya adalah jenis O rhesus positif.
“Dari situ kemudian saya tahu, bawa wanita pemilik rhesus negative lebih rentan dan sulit memiliki anak,’’ ujarnya.
Merry memang tidak menjelaskan detail kerentanan tersebut. Tapi yang jelas, begitu mengetahui darahnya rhesus negative, dia terus melakukan konsultasi. Dan upaya tersebut berhasil. Tahun 2005 dia melahirkan anak pertama, dan tahun 2007 anak keduanya pun lahir.
Lantaran kondisi tersebut, wanita 45 tahun inipun banyak memberikan pesan, terutama untuk wanita pemilik darah rhesus negative, agar langsung melakukan konsultasi setelah menikah dan ingin memiliki momongan.
“Mencari dokter yang tepat, karena penanganan kehamilan untuk pemilik darah rhesus negative berbeda dengan rhesus positif,’’ katanya.
Sementara itu  Dorothea Dearson Nelson juga memiliki cerita berbeda. Wanita asal Amerika ini juga memiliki rhesus ajaib itu. Beberapa waktu lalu, Thea begitu ibu dua anak ini akrab dipanggil merupakan salah satu anggota RNI Wilayah Malang. Dia juga sangat aktif dengan komunitasnya. Tidak sekadar datang berkumpul, tapi Thea juga langsung berkata yes saat ada warga membutuhkan darah rhesus negative.
“Kalau dulu rajin donor, sekarang tidak. Kami donor jika ada permintaan,’’ katanya tersenyum.
Bukan karena jual mahal, tapi ini untuk kebutuhan. Menurut dia, saat donor darahnya akan disimpan di PMI. Jika tidak ada pasien yang membutuhkan, darahnya akan terbuang, karena darah memiliki usia penyimpanan hanya 3 bulan saja.
‘’Sekarang donor, terus ternyata sebulan lagi ada pasien rhesus negative butuh darah, kita tidak bisa lagi donor. Lantaran itulah kemudian saya memilih untuk donor jika ada kebutuhan saja,’’ tuturnya.
Wanita yang juga aktifis kemanusiaan ini mengaku pantang untuk bertemu dengan pasien ataupun keluarganya. Bukan lantaran tidak mau, tapi dia tidak ingin ada perasaan tidak enak, apalagi hutang budi. Saat dia donor, dilakukan di PMI, disalurkan ke mana darah tersebut, PMI lah yang tahu.
“Alurnya demikian, jika ada pasien sakit butuh darah rhesus negative, RS yang mengusahakan. Mencari ke PMI. PMI melanjutkan dengan menelepon kita, siapa yang bersedia. Selanjutnya, kami datang donor, dan PMI yang menyalurkan darahnya tanpa kita tahu disalurkan kepada siapa,’’ terangnya.
Thea mengaku jika selama ini dirinya senang dengan dapat membantu orang lain. Terlebih, membantunya untuk kehidupan. “Karena kami hanya sedikit, hanya satu persen di Indonesia, hubungan kami dekat meskipun tidak kenal. Ibarat sehidup se penanggungan, kami kompak  dan selalu bersedia jika diminta untuk donor, syaratnya memang waktunya,’’ urainya.
Ya, pada umumnya masyarakat hanya mengenal golongan darah dengan sistem ABO. Jarang sekali masyarakat mengenal golongan darah rhesus positif dan negative. Padahal selain sistem ABO golongan darah ada dua jenis yaitu rhesus negative dan rhesus positif. Tapi begitu di dunia rata-rata manusia memiliki darah dengan golongan rhesus positif. Jarang sekali dari mereka yang memiliki rhesus negative. Karena jarang itulah kemudian mereka pemilik rhesus negative kompak. Untuk memudahkan berkomunikasi para pemilik rhesus negative ini kemudian membentuk komunitas. Hampir di setiap kota dan kabupaten, selalu ada komunitas RNI.(ira ravika/ary)