Bukti Catatan Gemilang Perjalanan Sebuah Generasi

LANJUTKAN PERJUANGAN AYAH   : Anak kedua Teguh Santosa (alm) Dhany Valiandra menyerahkan foto sang ayah  sedang berkarya kepada Redpel Malang Post Bagus Ary Wicaksono.

PEMERINTAH  Provinsi  Jatim menganugerahkan penghargaan Tokoh Berdedikasi dalam Seni dan Budaya kepada sejumlah seniman dan  budayawan di Gedung Negara Grahadi Surabaya,Senin pagi ini (12 Oktober 2015).Diantara penerima penghargaan tersebut  adalah Ki Djati Kusumo dan Teguh Santosa (alm)  komikus asal Kepanjen Kabupaten Malang yang telah puluhan tahun mengukir catatan gemilang dalam  bidang seni dan budaya.
Ki Djati Kusumo menuturkan  bangga karena  Pemprov Jatim memberikan penghargaan  kepada para budayawan dan seniman pada   tahun  2015 ini. ‘’Rasa kebanggaan ini sekaligus disertai harapan  agar bangsa Indonesia harus segera kembali kepada jati diri dan kepribadiannya sendiri,’’ paparnya kepada Malang Post kemarin.
Mantan anggota DPR  RI dan MPR RI ini  sangat miris melihat keadaan  masyarakat Indonesia sekarang ini lebih menggandrungi pakaian maupun berbagai makanan dari luar negeri. Begitupula kerap menghambur-hamburkan uangnya diluar negeri.‘’Padahal pakaian,makanan maupun budaya bangsa kita sendiri sebenarnya tidak kalah dengan dari luar negeri tersebut. Hal ini sangat menjadi keprihatinan kami selama ini,’’ papar Ki Djati Kusumo yang  tetap  enerjik dalam usia 71 tahun sekarang ini.
Mantan Ketua Cabang GMNI di Malang ini  memaparkan jika bangsa Indonesia kembali kepada jati dirinya sendiri, maka kemakmuran bangsa yang dicita-citakan para pendiri dan pahlawan bangsa Indonesia benar-benar dapat terwujudkan. ‘’Kesenjangan yang sedemikian mengangga antara masyarakat miskin yang selama ini terus menjerit dengan golongan berkemampuan pasti  tidak akan terjadi,jika kita semua mau kembali ke jati diri kita dan meneruskan budaya warisan leluhur kita,’’ serunya.
Kiprah konsisten  Ki Djati Kusumo dalam bidang  seni dan budaya berlangsung selama puluhan tahun.Bahkan pada tahun 1967 ketika masih berkuliah di Universitas Brawijaya, pria kelahiran Blitar 5 Agustus 1945 ini sudah aktif melatih tari di Pabrik Rokok Faroka dan beberapa tempat lain. Suami RA Sri Andi Astuti ini kemudian aktif dalam grup lawak Kwartet S,menjadi artis dan beberapa organisasi  budaya dan seniman termasuk PARFI. Mantan pegawai Departemen Penerangan RI ini sampai sekarang aktif dalam himpunan Suaka Adat serta beberapa organisasi lainnya untuk memperjuangkan cita-cita terwujudnya negara Pancasila yang bermartabat dan berbudaya.
Sementara itu penghargaan  bagi  Teguh Santosa (alm)  akan diterima oleh anak keduanya yakni  Dhany Valiandra.  “Kami sama sekali tidak menyangka.  Ya, karena ini merupakan kali pertama bapak mendapatkan penghargaan dari Pemerintah  dalam hal ini Pemerintah Provinsi Jatim,’’ katanya.
 Dhany memaparkan ayahnya juga pernah mendapatkan penghargaan dari Mitreka Satata Budaya Nusantara (ASEAN COMMUNITY tahun  2015). Penghargaan tersebut berupa Gonden Achievement Award Cultural Award Asean Community, menobatkan Teguh Santosa (alm)  dengan gelar prestasi sebagai Dato Manggala Gatra Budaya Komik Wayang Nusantara.   
Dhany mengatakan kiprah Teguh Santosa dalam dunia perkomikan dimulai tahun 1970. Dia memulainya dengan menjadi ilustrator di majalah mingguan. Dalam proses menjadi komikus, Teguh Santosa  yang lahir 1 Febuari tahun 1942 ini terpengaruh gaya ilustrator  Ekayana Siswoyo dan Nasyah Djamin. Tapi setelah berproses Teguh Santosa memiliki gaya sendiri. Sejak mulai berkarir hingga meninggal, sudah lebih dari 100 judul komik telah digarap. Bahkan beberapa diantaranya, Teguh Santosa juga mengerjakan naskah dari SH Mintardja, Ko Ping Ho, RA Kosasih, dan Arswendo Atmowiloto.
Pada era tahun 1970-an,  komik roman berjudul Sandora mampu menempatkan namanya dalam jajaran komikus papan atas di Indonesia. Beberapa komik laga karya Tegus Santosa adalah berjudul Mencari Mayat Mat Pelor, Mat Romeo, Tambusa, Kraman, Sang Nagasasra, Kuil Loncatan Setan, Good Father, Gitanjali, Anyer Panarukan, Cokro Manggilingan, Suling Perak Naga Iblis, dan Gerombolan Barong Mataram serta beberapa karya lainnya.
Selain itu, Teguh Santosa berkarya dengan membuat karya komik wayang diantaranya Dewa Ruci, dan Asal Usul Punokawan. “Teguh telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk komik. Ia adalah ruh komik jagad seni rupa kita. Bahkan di saat-saat terakhir hidupnya, bapak masih setia dengan kertas dan pensil di tangannya,’’ kata Dhany. Untuk  itu,ia menilai bahwa Teguh tidak sekadar meninggalkan ribuan gambar cerita komik.Tetapi juga sekaligus memberi bukti  catatan gemilang tentang perjalanan sebuah generasi yang pernah muncul di negeri ini.
Dhany juga menguraikan penghargaan yang diberikan kepada sang ayah ini tak lepas dari dukungan semua pihak. Mulai dari para seniman, maupun media terutama Malang Post. Selama ini menurutnya Malang Post getol menayangkan komik karya Teguh Santosa. “Dari karya yang termuat di Malang Post inilah kemudian nama bapak dikenal pejabat Pemprov. Sebelumnya sama sekali tidak ada,’’ katanya. Lantaran itu juga, selain mengucapkan terima kasih kepada Pemprov Jatim, Dhany juga mengucapkan  terima kasih kepada Malang Post yang sudah memberikan support penuh kepada komikus Teguh Santosa.
Penghargaan ini bukanlah menjadi sebuah akhir bagi Dhany. Sebagai anak dari Teguh Santosa, Dhany memiliki tanggung jawab moral untuk melestarikan dan mengembangkan komik ke khalayak luas. Bergabung dengan Indonesian Comic Heritage, Dhany dan pun  mengumpulkan seluruh karya komikus se angkatan Teguh Santosa untuk menjadi karya pustaka. “Ini yang kami lakukan, mengumpulkan seluruh karya komik se angkatan bapak untuk menjadi karya pustaka dan diarsipkan. Langkah yang kami lakukan ini salah satu bentuk melestarikan komik Indonesia,’’ tandasnya. (ira ravika/nugroho)