Meengikuti Tadisi Pecah Cikal Desa Ngabab Kecamatan Pujon

MENYAMBUT datangnya tahun baru Islam 1 Muharram 1437 Hijriah atau 1 Suro, masyarakat Desa Ngabab, Kecamatan Pujon mengadakan tradisi Pecah Cikal. Tradisi turun temurun itu, sekaligus merayakan hari jadi ke 173 tahun, Desa Ngabab. Selain itu, tradisi ini juga sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ribuan masyarakat memadati ruas jalan yang ada di desa itu. Masyarakat yang datang tidak hanya dari Desa Ngabab, melainkan dari desa lainnya di Kecamatan Pujon. Mereka tidak sabar ingin menbgikuti prosesi pecah cikal yang rutin diadakan tiap tahun.
Meski berpanas-panasan, mereka rela menanti prosesi tersebut dilaksanakan. Terlebih prosesi itu, juga dihadiri langsung oleh Bupati Malang, Dr H Rendra Kresna. Setelah orang nomor satu di lingkungan Pemkab Malang ini tiba, prosesi tersebut dimulai. Diawali dengan pembacaan doa dari pemuka agama setempat, KH Hasim Asyari.
Selanjutnya, sesepuh desa setempat Mbah Tulus, memegang kelapa muda yang telah disiapkan di tengah jalan. Selain itu, Mbah Tulus yang berusia 90 tahun ini, juga menyalakan kemenyan dan dupa. Suasanan mistis semakin terasa, ketika Mbah Tulus membacakan mantra melalui bahasa Jawa, di depan kelapa muda tersebut.
Setelah kelapa muda itu dibacakan mantra, siap dipecahkan. Masyarakat yang telah memadati tempat tersebut, semakin heboh. Lantaran tidak sabar ingin merebut air kelapa yang dipecahkan oleh perwakilan adat tersebut. Setelah kelapa dipecahkan, masyarakat langsung berhamburan mengambil air hasil pecahan kelapa tersebut.
Selain mengambil air kelapa, masyarakat juga mengambil air kembang yang telah disiapkan oleh panitia. Pecahan kulit kelapa, juga menjadi sasaran masyarakat untuk diambil. Konon katanya, air kelapa dan air kembang iu, membawa barokah. Selain itu, juga bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dan sebagai penolak balak.
Maka dari itu, masyarakat rela berdesak-desakan  untuk berebut mengambil air kelapa, air kembang dan juga kulit kelapa, pada prosesi tersebut.
“Tradisi ini, sudah ada sejak 173 tahun yang lalu, sesuai dengan umur Desa Ngabab, Kecamatan Pujon,” ujar Kepala Desa (Kades) Ngabab, H Zaini kepada Malang Post.
Setelah prosesi tersebut, maka kemeriahan Hari Jadi Desa Ngabab, tidak terhenti. Masyarakat masih bisa berpesta dengan menikmati hiburan yang telah disediakan. Diantaranya, karnaval pada siang hari dan wayang pada malam harinya. Selain itu, juga ada bazaar dan kegiatan ditutup dengan perwayangan.
“Prosesi ini merupakan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kami, atas rejeki yang diberikan oleh Allah SWT. Ke depannya, juga diharapkan keberkahan tetap melimpah dan terhindar dari malapetaka maupun balak bencana,” tutur Zaini.
Tentunya masyarakat Desa Ngabab terus berpesta untuk merayakan hari jadi tersebut.
Menurut Zaini, sebenarnya ada dua orang sesepuh yang memandu ritual ini. Selain Mbah Tulus, juga terdapat Mbah Nur Ali. Namun, Mbah Nur Ali kali ini sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci Makkah. Sedangkan inti kegiatan ini, sekaligus melestarikan kebudayaan tradisional asli desa tersebut.
Apalagi penyelenggaraan tiap tahunnya, mendapatkan antusiasme yang cukup tinggi dari masyarakat. Wisatawan pun juga datang untuk menyaksikan prosesi tersebut. “Prosesi Pecah Cikal ini, sudah ada sejak dulu. Tepatnya sejak didirikannya Desa Ngabab ini, tradisi Pecah Cikal sudah ada,” terangnya.
Melalui kegiatan ini, dia berharap masyarakat dan terutama para pemuda untuk mencintai kebudayaan tradisional. Terutama tradisi Pecah Cikal yang memang asli dari Desa Ngabab. Karena generasi peneruslah yang nantinya akan melestarikannya. Prosesi ini, memang sebgaja diadakan dalam menyambut datangnya tahun baru Islam.
Sementara itu, Bupati Malang, Dr H Rendra Kresna yang menyaksikan prosesi itu hingga selesai menyatakan, pentingnya pelestarian budaya seperi salah satunya ritual ini.
“Tentunya ritual semacam ini sangat bagus. Lantaran sebagai ciri khas Desa Ngabab dan juga bisa meningkatkan kunjungan wisatawan,” ujarnya.
Melalui ritual semacam ini, khusunya Desa Ngabab dan terlebih Kabupaten Malang, akan diberikan keberkahan dan rakyat semakin makmur, jelang tahun baru Islam. Selain itu, juga terhindar dari malapetaka dan bencana.(Binar Gumilang/ary)