Ngajar Komik hingga Manca Negara, Kini Siap Pulang Kampung

Malang kaya akan seniman komik. Toni Masdiono salah satunya. Pria asal Jalan Muria Kota Malang yang kini tinggal di Bandung ini, sudah menciptakan sejumlah komik. Kini illustrator Agatha Christie itu tengah merampungkan satu komik berlatar sejarah yang bakal fenomenal.

Komik yang telah diterbitkan antara lain, tahun 2006 : Komik Pahlawan dan Shima, 2013 : The Hunt For The Lion, Singapura, 2014 : Komplotan Eyang Sobur, 2015 : Future Food, Edukomik untuk Ashoka Foundation, Banglor, India. Serta tahun 2015 ini adalah komik berjudul Karimata 1890, bentuk novel grafis. Komik terakhir fenomenal, bercerita roman sejarah.
Pria yang lahir di Malang 25 Maret 1961 ini, terus mencari cara untuk mengembangkan kembali dunia komik. Mulai dari rencana menggelar workshop komik, pria ini juga membuat karya komik berbahasa Inggris. Alasannya, dengan komik berbahasa Inggris, karya komik anak negeri ini akan banyak dikenal di luar negeri.
“Sekarang masih dalam pengerjaan. Akhir tahun nanti akan launching di Jogjakarta, komik berbahasa Inggris. Selain bisa dijual dan dinikmati masyarakat Indonesia, komik ini juga bisa di jual di Malaysia dan Singapura,’’ kata Toni.
Kecintaan Toni pada dunia komik dimulai sejak usianya masih kecil. Ketika menginjak kelas empat SD, dia melihat komik menjadi bacaan yang sangat menyenangkan. Gambar yang unik, dengan cerita sangat menarik pada komik membuat ayah dari Sebastian Seno ini pun terbius. Dengan tangan mungilnya saat itu, Toni pun belajar. Dia mulai menggambar, dan menulis cerita.
“Saat itu saya tertarik dengan gaya komik Teguh Santosa dan Jan Mintaraga. Keduanya memiliki gaya komik yang berbeda,’’ kata Toni yang menyebut, komik judul Dewi Airmata dan Tambusa karya Teguh Santosa menjadi isnpirasi dirinya untuk kemudian mengabdi sebagai pembuat komik. Toni mengaku dua komik tersebut berbeda genre, tapi begitu keduanya memiliki kesamaan pada kekuatan gambar dan itu yang membuat dirinya bertekad untuk terjun di dunia komik.
Tahun berganti, Toni terus belajar. Dia tidak pernah menyerah, sekalipun banyak orang mengatakan komik adalah pekerjaan sampah. Hari demi hari, tahun pun berganti, Toni tidak pernah putus asa untuk belajar. Hingga akhirnya tahun 1986, suami dari Melani Kusnadi ini kemudian mulai mengerjakan komik majalah.
Di Jakarta, Toni pun membuat karya. Berjudul Ketika Itu Natal, karyanya membuai para pembaca sebuah majalah ibukota. Meskipun hanya tiga lembar, tapi komik tersebut sangat disambut antusias pembaca majalah tersebut. Di komik ini, Toni menyampaikan sebuah pesan bahwa kebahagiaan dapat diraih tidak hanya oleh orang kaya, tapi orang kecil pun dapat merasakan bahagia.
Berangkat dari karya tersebut, nama lulusan Seni Rupa, ITB Bandung ini menjadi incaran para editor. Mereka meminta Toni untuk membuat komik untuk menjadi rubrik majalahnya. Bak mendapat angin segar, Toni pun meladeni semua. Dia menggambar dan membuat cerita sesuai permintaan dari para editor majalah. Dengan karyawannya yang terus beredar, nama Toni pun kian melambung.
“Karya-karya komik saya di majalah lebih banyak pada sejarah, ilmu pengetahuan, serta cerita-cerita legenda. Ya, karena memang saya tidak sekadar membuat, dari goresan tangan ini, saya juga ingin anak-anak atau pembaca mendapatkan pengetahuan serta wawasan,’’ urainya.  
Mengisi rubrik komik di majalah membuat Toni senang. Karena selain hobi menggambarnya tersalurkan tentu saja dia juga mendapatkan imbalan dari karyanya itu. Tapi begitu, Toni sendiri enggan menyebutkan nominalnya.
Tahun 1999, nama Toni pun di atas awan di dunia komik. Layaknya komikus lainnya, Toni pun terus mengembangkan bakatnya. Hingga akhirnya dia membuat komik berjudul Avatar. Avatar merupakan komik silat, dengan cerita yang sangat kompleks di dalamnya. Komik ini banyak yang memuji. Dan pujian inilah yang kemudian membuat Toni bersama timnya berjumlah tiga orang membuat thriller. Tidak sekadar membuat triler Avatar ini juga dikirimkannya ke Canes tahun 2000 lalu.
“Saat itu kami berencana membuat thriller Avatar ini dalam bentuk film. Tapi karena biayanya sangat besar, rencana itu tidak bisa diwujudkan tahun itu,’’ kata alumni SD Panderman ini.
Tapi begitu, setelah beberapa tahun kemudian saat hendak memproduksi film Avatar, Toni justru kaget. Itu karena judul tersebut telah digunakan oleh pihak lain. Tidak hanya satu yang mendaftar tapi ada dua. “Kagetlah, tapi kami tidak mau berdebat kusir. Kami tidak mengklaim. Karena pada intinya memang sudah ada dua judul Avatar yang dipatenlan saat itu,” jelasnya.
Meski sempat kecewa, mantan Creative Director C-59 Bandung ini tidak pernah putus asa. Dia tetap membuat karya komik. Bahkan, sampai saat ini Toni tetap mengisi rubrik komik di beberapa majalah.
Bahkan, karena kepiawaiannya dalam membuat komik, dan karya-karyanya yang sudah ratusan judul, Toni juga dilirik oleh pemerintahan luar negeri. Ada dua negara yang meminta penulis buku 14 jurus membuat komik ini membuat komik tentang sejarah negara masing-masing.
“Negara yang meminta saya membuat komik sejarah negaranya adalah India dan Singapura,’’ tegasnya sambil tersenyum.
Memang dia tidak mengerjakan komik tersebut sendirian tapi bekerja bersama tim.  Nama Toni pun kian terkenal. Bahkan, tidak jarang dia diundang menjadi juri dalam kontes atau festival komik. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dia menjadi juri hingga ke Tiongkok. Sementara, Toni juga terus gencar mengenalkan komik di luar negeri. Baik Malaysia, Singapura dan Filipina. Dia ingin komik Indonesia juga dapat dikenal.
“Orang luar negeri tidak banyak tahu jika di Indonesia ini juga memiliki komik. Itu kesalahan kita memang, karena komik yang kita buat hanya berbahasa Indonesia. Kami ingin maju dan berkembang. Kami ingin komik Indonesia dikenal, salah satu upayanya adalah dengan membuat komik bahasa Inggris,’’ terang mantan dosen ilustrasi dan pembimbing tugas akhir di Universitas Tarumanagara ini.
Bukan itu saja, Toni juga tidak ingin meninggalkan Kota Malang begitu saja. Alumni SMA Santa Maria ini juga ingin menghidupkan dunia komik di Malang. Menurut ayah dari Putri Ningrum, Malang memiliki segmen pasar yang sangat besar untuk komik. Lantaran itu dia dan beberapa seniman lain pun sedang berencana membuat event besar terkait komik. Sayang, Toni sendiri enggan berkoar-koar soal eventnya itu. Yang pasti event besar yang diusung ini pihaknya akan bekerjasama dengan Malang Post.
Mantan Desainer Grafis dan Panggung di Intermodel, Bandung ini juga mengatakan animo anak-anak belajar komik kian tahun terus meningkat. Salah satu patokannya adalah buku 14 jurus membuat komik yang ditulisnya terus dicetak. Lantaran itulah, dia yakin, jika ke depannya komik di Indonesia akan kembali dan terus berjaya.
“Komik Indonesia lesu bukan karena tidak ada suplay komik. Secara tehnik menggambar kita tidak kalah dengan komikus dari luar. Yang kalah hanya cerita. Ya, bicara komik tidak sekedar gambar yang dilihat, tapi juga cerita. Ini yang harus terus dilatih. Jika cerita itu ada dan kreatif, maka kami yakin begitu, ada suplai komik, pasar komik tidak lagi lesu. Tapi akan maju pesat,’’ jelasnya.
Darah komik Toni pun kini mengalir kepada anak gadisnya, yaitu Putri Ningrum. Putri tidak sekadar menggambar, tapi dia juga piawai membuat cerita. “Sudah ada beberapa karya. Harapannya, dengan karya-karya anak-anak muda inilah, dunia komik Indonesia bisa dikenal di mata dunia,’’ tandas pria berkacamata minus ini.(ira ravika/ary)