Sabet Tiga Emas dan Satu Perak di Dua Kompetisi Italia

“Jika kamu menyanyikan lagu tentang keindahan, walau sendirian di puncak gurun, kamu akan didengarkan” Kahlil Gibran.

Kutipan tersebut menggambarkan prestasi Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Gitasurya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). PSM ini mampu meraih tiga  emas dan satu perak dalam dua kompetisi sekaligus di Italia! Wow.

Kecintaan sekelompok mahasiswa berbakat di bidang vokal dan musik ini memang membawa atmosfir sejuk. Keindahan dari sentilan lagu yang didendangkan membuat penat hilang seketika.
Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Gitasurya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kembali menorehkan prestasi internasional ini meraih Emas dan Perak dalam kompetisi internasional,  9th Rimini International Choral Competition pada 24-27 September dan 1st International Choir Festival Puccini pada 30 September hingga 4 Oktober 2015.
Dengan  membawakan lima  lagu asli Indonesia yaitu Yamko Rambe Yamko, Luk Luk Lumbu, Ugo Ugo, Kicir-Kicir, dan Tari Indang, PSM yang berjumlah 39 mahasiswa ini berhasil meraih 1 emas dalam Mixed Category dan 1 perak dalam kategori Folklore. Sedangkan di Puccini, PSM Gitasurya meraih emas untuk masing-masing Mixed Category dan Kategori Folklore.
“Ini sebuah pengalaman yang luar biasa. Saat di Rimini kami juga mewakili Asia karena tidak ada negara Asia lain yang mengikutinya. Kalau di Puccini, Tiongkok juga ikut dalam perlombaan. Tapi kami jadi satu-satunya yang mewakili Indonesia,” ujar Nanda Avieatharsya, Ketua PSM Gitasurya UMM, saat dihubungi, Senin (19/10/15).
Sebelum berangkat dari Indonesia hingga tiba di Italia, Nanda bersama timnya sempat merasa cemas. Rasa itu muncul karena para pesaingnya berasal dari 16 negara. “Sebagian dari mereka bahkan sudah professional singer. Sempat minder bisa menang atau tidak ya,” kata Nanda, yang juga mahasiswi Akuntansi angkatan 2013 ini.
Rasa minder makin terasa besar karena melihat postur tubuh pesaing yang tinggi semampai, berpakaian elegan bak putri.
“Waktu itu, kita yang paling berbeda sendiri. Sudah badan kami kecil-kecil, kami satu-satunya kelompok yang memakai Jilbab. Ternyata hal ini menarik perhatian banyak penonton,” tutur Nanda.
Pengalaman unik terjadi setelah itu. Banyak penonton berseru mendukung kelompok paduan suara yang sudah sering malang melintang di kompetisi internasional mewakili Indonesia ini, dengan seruan “You are Beautiful,” “You’re Different,” dan lain sebagainya.
“Saya gak nyangka, kenapa mereka bisa begitu antusiasnya sesaat setelah kami tampil. Mungkin karena pakaian kita juga yang aneh, seperti ondel-ondel. Di Italia kan ga ada,” cerita Nanda sambil tertawa kecil.
Namun, semua pesimisme itu buyar saat PSM Gitasurya menampilkan performanya. Banyak pesaingnya yang kemudian penasaran hingga terkagum-kagum dengan satu-satunya paduan suara yang mewakili Indonesia ini. Kebahagiaan kemudian datang dari tiap raut wajah anggota PSM Gitasurya pada saat itu.
Kebahagiaan semakin lengkap saat pengumuman kompetisi kedua mereka berhasil mendapat emas. Secara spontan 39 mahasiswa yang awalnya tampil elegan dengan balutan busana klasik menarikan goyang ala Bang Jali.
“itu moment paling lucu yang akan kami kenang selama pengalaman PSM Gita Surya mengikuti perlombaan di luar negeri,” sahut salah satu anggota PSM Gitasutya lainnya, Jorgi Kasandra Putra.
Ia menjelaskan, seluruh anggota yang lolos untuk mengikuti kompetisi di Italia kemarin, telah melewati banyak usaha yang perlu dicontoh. Setelah mengirimkan rekaman lagu kategori mixed yaitu musica, water night dan vineta. Dan untuk Kategori Folklore (traditional indonesia) mereka memilih lagu kicir-kicir, tari indang dan luk - luk lumbu.
Perjuangan untuk mengikuti kompetisi juga harus dilakukan dalam soal pendanaan. Memberangkatkan 39 penyanyi, satu pelatih, satu pendamping dan satu perwakilan rektorat bukan biaya yang murah. Selain dibantu kampus, mereka juga mencari dana dari perusahaan swasta maupun pemerintah.
“Kampus juga ikut partisipasi dalam hal pendanaan. Tapi tidak 100 persen, kampus juga memberikan solusi bagaimana mengelola keuangan kami,” terang salah satu anggota PSM lainnya.
Keberangkatan kelompok paduan suara ini, empat hari sebelum perlombaan tidak hanya dihabiskan untuk mengenal negeri empat musim itu. Tetapi mereka juga berlatih vocal. Hanya saja kelompok paduan suara yang sempat shock karena menghadapi suhu dingin Italia yang mencapai 13 derajat ini, harus menyiasati tempat latihan yang ada agar tidak mengganggu orang lain.
“Kami sempat kok untuk latihan disana meskipun dengan ruangan seadanya seperti di kamar hotel atau di restoran hotel setelah pinjam ruangan juga. Kami juga sempat jetlag tapi untungnya sehat sampai akhir,” papar Nanda, Ketua PSM Gitasurya UMM 2015.
Ke depannya, PSM Gitasurya UMM akan mempersiapkan kembali mental dan vokal untuk mengikuti kompetisi yang lainnya jika mendapat kesempatan. Latihan yang mereka lakukan seminggu dua kali, akan lebih ditingkatkan kembali, agar kualitas suara dan kebersamaan selalu terjalin pada tiap anggota.
Nanda berpesan, agar dengan diraihnya prestasi membanggakan seperti ini. Masyarakat, terlebih teman muda-mudi dapat terinspirasi untuk mengembangkan bakat dan kemampuan di mana pun dan dengan keterbatasan apapun.
“Karena di setiap usaha ada doa. Doa itu lah yang dapat membawa kami bisa meraih apa yang kita raih saat ini,” pungkas Nanda.(sisca angelina/ary)