Tembus Level Nasional, Bawa Timnas Raih Perak Sea Games

Jamaluddin (kaus abu-abu), CEO Indonesia Jersey atau Injers yang sudah menasional serta menjadi brand tim olahraga profesional tanah air.

Indonesia Jersey, Home Industry Apparel Asal Sawojajar
Indonesia Jersey atau Injers makin berkibar di kancah brand jersey nasional. Produsen pakaian olahraga industri rumahan yang bermarkas di Sawojajar tersebut, telah menempel di banyak klub profesional. Bahkan, Injers yang didirikan oleh Jamaluddin, ikut mengecap prestasi internasional, saat timnas basket putri Indonesia, merebut medali perak di Sea Games Singapura pertengahan tahun 2015 lalu.

Suasana Perumahan Dirgantara Permai Sawojajar tampak begitu tenang. Namun, tidak demikian dengan rumah nomor C4 no 16. Sekilas, rumah ini terlihat seperti tempat usaha konveksi biasa. Banyak tumpukan kain, ada pula pegawai yang lalu lalang membawa barang.
Ada pula pegawai yang cukup sibuk menjahit jersey. Pada bagian luar rumah terdapat tulisan Indonesia Jersey atau Injers,yang menempel di salah satu dinding depan dan kaca ruangan. Saat memasuki ruangan bertuliskan Injers, banyak display jersey yang sudah diproduksi oleh perusahaan milik Jamaluddin tersebut.
Jersey-jersey ini adalah produk Injers yang sudah menemani tim-tim olahraga profesional di Indonesia saat berkompetisi. Dari rumah sederhana di Sawojajar ini, lahir perusahaan apparel asli Malang yang menasional dan diakui kualitasnya oleh tim-tim olahraga profesional Indonesia.
Jamaluddin, menyebut bahwa Injers sudah menjadi brand apparel klub-klub olahraga ternama di Indonesia. “Kita sudah jadi brand apparel dari Persiba Balikpapan, Perseru Serui, Pra PON Jatim, PSIS Semarang, Martapura FC, Persema Malang hingga Metro FC,” kata Jamaluddin.
Terbaru, Injers juga menjadi apparel resmi dari tim-tim NBL, seperti Bimasakti Malang, NSH Jakarta, Pelita Jaya Jakarta, CLS Knight Surabaya hingga tim putri Surabaya Fever.
Nama Injers memang sudah dikenal di kalangan produsen apparel, khususnya klub basket dan sepak bola. Perusahaan yang sudah mempekerjakan puluhan karyawan ini, telah memproduksi ribuan unit jersey untuk klub-klub profesional yang bekerjasama dengan Injers.
Nama Injers pun makin melejit, saat Jamaluddin sukses memenangkan kepercayaan dari timnas basket putri Indonesia. Pada pertengahan tahun 2015, timnas basket putri Indonesia, mengenakan jersey apparel Injers untuk berlaga di Sea Games Singapura.
Bersama Injers, timnas basket putri Indonesia, membuat kejutan dengan melaju ke partai final cabor basket. Bahkan, timnas basket putri yang dibranding Injers, merebut medali perak setelah 24 tahun puasa gelar. Tak heran, prestasi timnas putri ini juga ikut melambungkan nama Injers ke level internasional.
Dengan prestasi yang mencapai level internasional, tak heran Injers bisa disandingkan dengan produk lain yang sudah menasional, macam League Specs, Nike, Adidas, Umbro hingga Rebook. Jamaluddin membenarkan, standar kualitas Injers sejatinya harus mengacu pada produk internasional.
“Ya sejujurnya kami memang punya target seperti itu. Karena, kita punya standar yang tidak main-main. Acuan produk dan quality control kita mengacu sepenuhnya pada dua brand apparel raksasa, yakni Adidas dan Nike,” papar alumnus FE UB ini.
Namun, Jamaluddin menyebut, meroketnya Injers di kancah produsen apparel home industry hanyalah fenomena gunung es. Saat ini, mungkin Jamaluddin terlihat mulai menikmati kesuksesan. Namun, Jamal menyebut bahwa dia harus banting tulang dan pasang surut untuk bisa sampai di titik ini.
Sebagai produsen apparel dari klub-klub olahraga profesional, ia harus bekerja keras untuk meraih kepercayaan. Selama 14 tahun menggeluti bisnis apparel, Jamal tak pernah melupakan titik awalnya. Yakni, saat masih berkuliah di FE UB tahun 2001.
Awalnya, Jamal hanya diminta untuk membuat desain jersey tim basketnya. Namun, setelah desain selesai, tidak ada konveksi Malang bahkan Jawa Timur yang sanggup menerima order pembuatan jersey basket. Pasalnya, menurut Jamal, saat itu popularitas jersey lokalan masih rendah, sehingga tidak ada pengusaha konveksi yang berminat menerima order jersey.
Dari segi keuntungan pun, produk t-shirt atau kaus jauh lebih menguntungkan. “Karena tak ada yang mau, terpaksa saya yang membereskan. Saya yang bikin desain, saya juga yang tanggungjawab menyelesaikan jersey tim basket saya,” kata Jamal.
Bapak dua anak itu, bekerjasama dengan penjahit orderan bebas. Dari sinilah, dia mendapat inspirasi untuk mendirikan usaha konveksi jersey. Sembari kuliah dan tetap main basket, Jamal pelan-pelan menekuni bisnis jualan jersey. Dia mengawali pemasaran produknya dari teman-teman basket.
Tiga tahun pertama, Jamal kedodoran dengan pesanan yang sangat banyak. Meskipun laris, produksinya tidak bisa tepat waktu karena dia memakai penjahit orderan. Selama tiga tahun ini, usaha konveksi Jamal jatuh bangun. Orderan pun pasang surut.
Tahun 2004, Jamal membuat loncatan penting buat usaha jersey miliknya. Dia merekrut penjahit dari uang modal pesanan jersey. Pada tahun inilah, nama Indonesia Jersey atau Injers lahir. Tahun 2004 juga menjadi batu loncatan kemajuan usaha Jamal.
Sejak pesanan makin banyak dan pemenuhan ordernya tepat waktu, Injers makin laris. Dia bisa mengontrak rumah di Perum Dirgantara Permai untuk workshop. Berawal dari modal nol rupiah, Injers kini rata-rata bisa meraup omset Rp 150 juta per bulan.
Usaha Jamal juga tetap berjalan, meskipun sepak bola sedang vakum. Sebab, sejak awal dia tidak hanya fokus sebagai apparel sepakbola. Dia punya jaringan di olahraga basket yang masih setia memakai produknya. Tak terkecuali, timnas basket putri yang jadi finalis cabor Sea Games 2015 di Singapura, serta meraih medali perak.
Meski demikian, sampai sekarang bapak dua anak ini masih punya satu mimpi yang belum kesampaian. Yakni, menjadi produsen apparel resmi dari tim kebanggaan masyarakat Malang, Arema Cronus. Andai ada kesempatan, Jamal mengaku siap mendukung tim pujaan Aremania lewat produk apparelnya.(fino yudistira/ary)