Sunarto, Tukang Bangunan Sekaligus Seniman Kaligrafi

Kayu jati bekas bangunan yang lapuk termakan rayap, mungkin bagi sebagian orang dianggap tidak berarti. Namun, ini tidak berlaku bagi Sunarto, warga Bareng Raya Gg 2 N, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Kayu jati bekas bagi pria berusia 58 tahun ini, justru sengaja dicari. Sunarto bisa menyulap kayu lapuk itu menjadi kaligrafi dengan karakter natural dari kayu lapuk itu sendiri.

Ruang kerja Sunarto di Jalan Bareng Raya Gg 2 N nomor 534 dipenuhi kayu jati lapuk yang termakan rayap. Kayu itu tergeletak di pojok ruangan yang hanya berukuran 4 x 7 meter itu. Beberapa kayu justru sudah tampak berdebu, tertumpuk-tumpuk oleh barang-barang lain. Tapi, di sudut yang lain pemandangan berbeda bisa ditemukan. Di dinding-dinding ruang kerjanya,  sejumlah seni kaligrafi ukir yang bagus tergantung rapi.
Kaligrafi ukir ini memiliki ornamen yang sulit ditemukan pada kaligrafi pada umumnya. Ornamen pada seni kaligrafi bentuknya berlubang-lubang tidak aturan, ada juga yang berbentuk cekungan panjang bergelombang, ornamen lain membentuk kayu yang seolah pecah. Ornamen itu tampak natural, seperti kayu lapuk pada umumnya dan bukan dari hasil buatan manusia. Ya, ornamen itu tampak seperti kayu lapuk sesungguhnya, karena memang kaligrafi hasil ukiran tangan Sunarto itu berasal dari kayu lapuk yang ada di pojok ruang kerjanya.
Sunarto yang akrab dipanggil Narto Akik, sengaja menjadikan kayu lapuk sebagai media untuk mengukir seni kaligrafi. Ini disebabkan pria yang lahir 12 November 2015 itu tertarik dengan karakter natural dari kayu lapuk yang ada. Menurutnya, karakter natural dari kayu lapuk itu unik dan memberikan kesan tersendiri. “Sulit untuk membuat bentuk seperti ini dengan tangan manusia, ini memang buatan alam, tampak natural. Karena itu, saya suka memanfaatkan bentuk natural dari kayu ini," kata Narto kepada Malang Post, kemarin.
Sehari-hari, Narto memang hanya merupakan seorang  kuli bangunan. Sebagai kuli bangunan, penghasilannya jelas tidak begitu besar. Namun, baginya hal itu tidak masalah. Malah, dengan pekerjaannya itu membuahkan karya seni yang mungkin sulit ditemui.
Pada 2008 silam, ditengah sibuk mengerjakan pembongkaran banyak pintu di sebuah bangunan, ia menemukan semacam ide. “Waktu itu saya lagi kerja, terus lihat tumpukan pintu dari kayu jati. Saya amati, kok bagus. Akhirnya, mulailah saya dalami dan mencoba-coba untuk membuatnya sebagai kaligrafi," kata Narto.
Pria berambut panjang itu lalu mulai tertarik dengan seni yang baru ia pelajari tersebut. Sehingga, jadilah karakter lapukan menjadi sebuah ornamen dari kaligrafi. Ayah empat anak itu menjadikan bentuk kayu lapuk ini sebagai ciri khas dari karyanya.
Tidak mudah untuk membuat ukiran kaligrafi di atas kayu lapuk. Ia harus menyesuaikan letak karakter kayu agar bisa menambah estetika karyanya. Belum lagi, Narto juga harus hati-hati dalam mengukir kayu lapuk tersebut menjadi sebuah karya seni. Sebab, bila tidak hati-hati risikonya, kayu jati itu bisa pecah. Makanya, butuh waktu lama untuk mengerjakan satu karua. Setidaknya, satu karya baru bisa diselesaikan minimal dalam satu bulan.
“Cari kayunya yang lama. Rata-rata, baru bisa dapat kayu yang sesuai setelah tiga bulan mencari. Kadang-kadang, kalau lagi nukang saya juga lihat-lihat, ada atau tidak kayu yang bisa digunakan. Kalau ada, ya saya bawa. Nanti menyesuaikan mood saya buatnya," jelas Narto. Bila saat bekerja di bangunan ia mendapatkan kayu yang bisa digunakan, lanjut Narto, kayu itu dibawanya pulang dan disimpan bila sewaktu-waktu ia sedang longgar untuk mengerjakannya.
Awal Narto mendalami dunia kaligrafi di atas kayu lapuk, sebenarnya berawal dari iseng-iseng. Namun, rupanya itu berbuah manis. Sejumlah karyanya dibeli oleh orang lain dengan harga rata-rata Rp 2 juta per buah. Narto mengaku sengaja tidak memasang harga tinggi untuk karya seninya itu. "Kalau saya yang penting susahnya mencari kayu itu terbayar," ucap Narto.
Hingga saat ini, Narto sudah bisa menghasilkan sekitar 15 karya yang ia pajang di rumahnya. Empat buah di antaranya, sudah laku terjual. Sedangkan, satunya lagi ia berikan kepada Wali Kota Malang HM Anton saat blusukan ke Kelurahan Bareng Minggu (18/10/15) lalu sebagai cindera mata. Ia mengatakan, bakal terus membuat karya seni Kaligrafi untuk melampiaskan hobinya itu.
Sebenarnya, Narto sendiri tidak hanya membuat karya seni berupa kaligrafi. Di luar hobinya membuat seni rupa, ia juga masih giat membuat lagu, lukisan, serta patung yang juga berasal dari kayu bekas. Ini semua ia lakukan, karena ia senang melakukan hal tersebut. Kemampuan itu ia dapat karena sejak kecil, ia sudah mendalami dunia seni.
Sejak SD menjelang SMP, Narto masuk ke dunia karawitan, kemudian ia juga menjalani dunia dangdut dan keroncongan. Memasuki tahun 1998, ia mulai menjajal dunia seni rupa dengan memahat patung dari kayu jati bekas. Baru pada 2008 ia temukan karya seni barunya itu, yakni mengukir kaligrafi di atas kayu lapuk. "Sebenarnya hanya untuk menyalurkan hobi saja, namun kalau ada yang mau membeli, ya saya jarang memasang harga," ungkap Narto sambil tertawa kecil. (Muhamad Erza Wansyah/ary)