Kesaksian M. Bahrul Ulum, Detik-detik Jelang Ledakan

Siswa kelas 4 SD Negeri Bumiayu 4, menyimpan memori ledakan dahsyat di Bumiayu. Namanya Muhammad Bahrul Ulum, dia melihat detik-detik jelang petasan seberat 35 kilogram itu meledak. Termasuk, ketika adik kesayangannya, Mohammad Rizky Fremdiansyah terlempar menuju surga abadi.


Setelah menjalani pemeriksaan di RS Panti Nirmala, Muhammad Solihin, 30 tahun, dan anaknya Muhammad Bahrul Ulum, 10 tahun, kondisinya membaik. Kedua korban ledakan petasan yang terjadi di di Jalan Kyai Parseh Jaya Gg Cemondelan, RT06 RW 05, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Minggu (25/10) lalu ini dinihari kemarin kembali dengan keluarganya. Keduanya pulang ke rumah pukul 02.30.
“Bapak yang luka-luka banyak, dan di jahit di dada, punggung, perut dan dahinya. Saya tidak ada yang dijahit, tapi luka-lukanya banyak, karena kena kaca dan reruntuhan tembok,’’ kata Ulum panggilan Muhammad Bahrul Ulum kemarin.
Siswa kelas empat SD Negeri Bumiayu 4 ini menceritakan, jika malam itu dia sedang mengajak main Mohammad Rizky Fremdiansyah, adiknya berusia 10 bulan yang sedang rewel. Dengan menggendong sang adik, Ulum pun mengajak ke rumah Nawardi.
“Pak Nawardi punya toko kecil, menjual makanan ringan. Saya sering mengajak adik ke sana, dan biasanya rewelnya hilang,’’ kata Ulum yang saat itu memang ingin membeli makanan ringan.
Seperti biasanya, saat membeli makanan ringan Ulum langsung masuk ke rumah, dan dia langsung memilih makanan yang dibelinya. Saat di dalam rumah, Ulum melihat empat orang di dalam rumah tersebut, sedang membuat petasan.
“Di ruang tengah, mas Yuli, Yanto dan Samsul sedang membuat petasan, saat itu memasukkan sumbu. Sedangkan Mas Huda duduk di kursi sambil bermain HP,’’ kata Ulum sembari mengingat apa yang dilihatnya Minggu malam lalu.
Saat itu Ulum mengaku ngeri. Bagaimana tidak, saat itu tiga orang tersebut sedang memasang sumbu. Untuk memadatkan, bagian atas petasannya juuga dipukul-pukul. Meskipun tidak bisa memastikan alat yang digunakan memukul, tapi yang jelas dia mengatakan aktifitas yang dilakukan oleh Yuli, Yanto dan Samsul ini berpotensi memicu ledakan.
“Saya sempat melihat. Tapi kemudian pergi, apalagi bapak juga memanggil agar saya pulang, karena sudah malam,’’ imbuhnya.
Di depan teras rumah Nawardi, Solihin pun sudah menjemput. Solihin juga sempat melihat aktifitas Yuli, Yanto dan Samsul yang sedang membuat petasan. Bahkan, Solihin sempat mengatakan petasan yang ada itu menggunakan obat 35 kilogram. ‘’Bapak sempat bilang kalau obat petasan yang banyak itu sekitar 35 kilogram. Bapak juga takut, dan buru-buru keluar,’’ kata Ulum.
Saat itu, menurut Ulum, ayahnya Solihin sempat khawatir. Itu sebabnya, Solihin langsung mengambil Rizky yang saat itu digendongnya. Bahkan, Solihin juga sempat meminta dia cepat keluar dari lari dari rumah.
“Kita sudah di teras saat itu. Bapak baru keluar dua langkah dari pintu, dan tiba-tiba terdengar suara ledakan,’’ kata Ulum, yang mengaku ledakan tersebut sangat dahsyat dan keras. Banyak suara kaca pecah. Suara ledakan itu pun dibarengi dengan mati lampu. Suasana malam itu sangat mencekam. Warga langsung berdatangan.
 “Saya terlempar, tidak tahu terlempar di mana,’’ katanya. Ulum langsung berdiri, setelah banyak orang berdatangan.
Dia langsung mendatangi ibunya yang mencari. Begitu juga Solihin, dia yang mengalami luka di punggung, dada, kepala, kaki dan tanganya juga langsung berdiri.
Malam itu warga pun berdatangan. Untuk memberikan pertolongan. Satu persatu korban dibawa ke RS untuk mendapat pertolongan.
“Adik (Mohammad Rizky), sempat terdengar menangis, jadi langsung ketemu. Kami kemudian dibawa ke RS Panti Nirmala,’’ kata Ulum. Tapi begitu, nyawa Rizky tidak bisa diselamatkan. Bayi 10 bulan ini meninggal dunia saat dalam perawatan tim medis.
Ulum juga yang mengatakan jika aktifitas membuat petasan ini sudah dilakukan selama empat hari di rumah Nawardi. Tapi begitu, Ulum sednri tidak tahu bahan-bahan membuat petasan tersebut dibeli dari mana.
Sementara Saifudin, salah satu warga mengaku malam itu langsung terlibat pencarian. Setelah ledakan kondisinya betul-betul mencekam. Seluruh bangunan dua rumah ini ambruk. Debu, pecahan kaca, dan gelapnya malam sangat mencekam. Tapi begitu, warga yang memiliki solidaritas tinggi tetap melakukan pencarian.
“Pertama ketemu adalah Rizky. Dia di bagian luar, tertutup seng. Kemudian Yuli, dia ada di teras, dengan sekujur tubuhnya mengalami luka bakar. Sedangkan Samsul, dia di temukan di ruang tamu, dan Yanto ditemukan di kamar belakang,’’ katanya. Semua korban ini menurut Saifudin kondisinya masih bernafas. Tapi begitu, karena lukanya serius, satu persatu meninggal dunia.(ira ravika/ary)