Mirsa Ita Dewi Adiana, Pencipta Alat Penampung Sperma

Negara yang kaya dengan ternak tidak akan pernah miskin,
maka negara yang miskin dengan ternak tidak akan pernah kaya
-Campbell dan Lasley-


Kutipan ini milik Campbell dan Lasley adalah penulis buku The Science of Animals that Serve Mankind. Menjadi kalimat inspirasi Mirsa Ita Dewi dalam menghasilkan karya bagi anak bangsa. Mahasiswi Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya menciptakan sebuah alat yang dinamakan Electrical Insemination Gun (EI-GUN).

Rendahnya produktivitas ternak lokal di Indonesia, mendorong Mirsa Ita Dewi Adiana membuat alat itu. Kini EI-GUN telah banyak dimanfaatkan dalam bidang pengembangan produk ternak.  
Alat yang telah terdaftar dalam Hak Paten di Sentra HKI LP3M ini mengantarkan Mirsa dan kawannya meraih dua emas. Pada kategori poster dan presentasi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-28 di Universitas Halu Oleo, Kendari-Sulawesi Tenggara pada 5-10 Oktober lalu.
 “Saya cukup prihatin dengan kondisi peternakan di Indonesia. Padahal kita negara agraris akan tetapi kebutuhan pangan masih belum tercukupi khususnya di sektor peternakan seperti protein hewani,” urai mahasiswi penggagas alat IE-Gun sekaligus Ketua Tim PKM dari Fapet UB ini.
Mirsa melanjutkan, salah satu faktor rendahnya konsumsi protein hewani di Indonesia adalah masih  rendahnya  produksi  dan  populasi  ternak  lokal.  Hal  ini  mengakibatkan mahalnya  harga  pangan  sumber  protein  hewani  yang  sulit  dijangkau  oleh  daya beli  masyarakat. Maka dari itu, tercetuslah ide ini alat EI-GUN tersebut.
EI-Gun merupakan alat buatan yang menampung sperma segar hewan ternak, dalam hal ini kambing. Sehingga sperma segar ternak dapat secara efisien diinjeksikan pada ternak betina lainnya.
Tidak sampai di situ saja, Mirsa menjelaskan, kambing dalam sekali ejakulasi mengeluarkan banyak sekali sperma segar. Sperma itu dapat diperuntukkan bagi tidak hanya satu betina saja melainkan cukup untuk 10 betina. Hal ini dapat menimbulkan keborosan. Sedangkan, sperma segar merupakan sperma terbaik yang dapat menghasilkan ternak unggul.
IE-Gun dapat menampung sperma ternak, menyimpannya dengan baik tanpa mengurangi kualitas sperma tersebut. Sehingga tidak akan lagi terjadi keborosan sperma dan juga dapat mengurangi tingkat penyakit bawaan.
“IE-GUN ini memang lebih kami uji coba kepada kambing jenis Boer. Kambing jenis tersebut merupakan kambing unggul yang berasal dari Australia. Yang memiliki kualitas daging yang sangat baik tetapi harganya mahal,” imbuh wanita asal Magetan ini.
Maka, IE-GUN diperuntukkan bagi peningkatan reproduksi kambing unggul Boer di Indonesia. Sehingga peternak kambing dengan jenis unggul ini, tidak lagi kesulitan menghasilkan ternak unggul. Yang nantinya dapat menigkatkan kualitas pangan Indonesia, terlebih dalam bidang hasil ternak.
 Alat IE- GUN itu sendiri tercipta dengan bantuan Dana Hibah dari DIKTI yang diikutkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa yang diusulkan tahun 2014. Di bawah bimbingan Dosen Peternakan Dr. Ir Gatot Ciptadi, DESS.
Dengan IE-GUN, Mirsa telah menorehkan berbagai prestasi nasional dan internasional. Ia berhasil meraih juara ke-II Kompetisi Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Nasional di UB, Juara II National Innovation and Creativity Exhibition 2015 di UNJ, dan Juara  harapan II LKTI Mahasiswa Peternakan se-Indonesia di UGM.
Selain itu, alumni MAN 2 Madiun ini juga meraih penghargaan di tingkat internasional melalui kompetisi I Engineering Invention & Innovation Exhibition (-ENVEX) di Malaysia dengan membawa medali perak dan International Youth Invention Contest (IYIC) 2015 di Seoul-Korea Selatan dan berhasil menyabet medali emas.
Tentunya, prestasi tersebut tidak diraihnya dengan begitu mudahnya. Suka duka juga menyertai perjalanan, perempuan yang gemar mi pedas ini.
“Waktu itu beberapa jam sebelum saya dan tim berangkat ke Pimnas di Kendari. Saya mengalami kecelakaan kecil saat mengendarai sepeda motor hendak membeli makan. Ada motor dengan laju kencang menyerempet kami sehingga kami berdua jatuh,” tutur Mirsa sambil tertawa.
Untungnya, ia melanjutkan, saat itu ia tidak mengalami luka serius apapun. Pada pukul 3 pagi, Mirsa dan tim berangkat ke Kendari. Hal yang lucu adalah, besok paginya saat hendak maju presentasi, Mirsa mendadak sakit sekujur tubuh dan suhu tubuh menjadi panas. Namun, dengan keteguhan hati, ia tetap menjalani proses seleksi dengan baik, sambil menahan sakit.
“Belum lagi saat proses pengerjaan alat. Saya yang dibantu teman saya dari teknik seringkali beda pendapat dan berantem,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
Namun, sampai saat ini semuanya berhasil dan lancar. Mirsa mengungkapkan rasa terimakasihnya pada seluruh pihak yang telah membantu demi terciptanya alat IE-GUN. Alat ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak.
Ia mengungkapkan, apresiasi dari pemerintah akan hasil karya ilmiah anak bangsa perlu diberikan perhatian lebih. Pasalnya, ia merasa masih banyak karya ilmiah yang sangat berpotensi. Tetapi tidak mendapatkan pengakuan ataupun minimal perhatian dari pemerintah setempat.
“Maka dari itu, saya sangat berterimakasih atas program Dikti ini. Program Dikti dengan pekan ilmiah ini dapat memotivasi anak muda lain untuk berkarya lebih. Tetapi, program seperti ini harus lebih diperbanyak, bukan dari Dikti saja. Melainkan departemen lain,” pungkas perempuan kelahiran 1995 ini.(Sisca Angelina/ary)