Takut Mati Muda Karena Gendut, Kurus Disangka Sakit

MC Yudha Winata Hiltonz ketika masih gendut dan fotonya pasca berhasil mendapatkan berat ideal.

Kisah Yudha Winata Hiltonz, Turunkan Bobot 38 Kilogram
Memiliki tubuh atletis dan proporsional, menjadi impian banyak orang. Bagi atlet, hal itu gampang diwujudkan. Namun berbeda bagi orang biasa yang telah terlanjur memiliki tubuh gemuk bahkan cenderung over weight. Kerja keras dengan mengubah pola hidup dan pola makan dilakukan demi mendapatkan bobot yang ideal.

Hal tersebut menjadi satu pilihan bagi master of ceremony di Kota Malang, Yudha Winata Hiltonz. Dari bobot 106 kilogram, dia berhasil membuang 38 kilogram, hanya dalam waktu empat bulan. Tak pelak, banyak yang kaget dan takjub dengan penampilan barunya.
Yudha, menceritakan keberhasilannya mendapatkan tubuh ideal ini. Semua berawal dari kenyataan hidup, ketika dia mendapati salah satu kerabatnya yang bertubuh besar pula. Mendadak meninggal, tepat ketika merayakan ulang tahun.
“Semua terjadi ketika jelang akhir 2014 lalu. Satu sahabat saya yang tubuhnya juga gemuk, meninggal pas merayakan ulang tahun,” ujar dia mengawali cerita.
Sejatinya, dia yang sudah merasa over weight dari 2007, ingin melakukan diet di tahun 2010. Namun, selama empat tahun upaya tersebut selalu gagal. Satu dua hari diet berjalan, hari berikutnya, Yudha tidak kuasa melihat lezatnya makanan yang ada di depan matanya.
“Niat diet. Paling tiga hari, ya bye, Makan banyak lagi dan puncaknya tahun lalu,” beber dia kepada Malang Post.
Penyiar salah satu radio di Malang ini mengatakan, setelah melihat sang teman berpulang, malam harinya dia langsung ketakutan. Memiliki bodi yang kurang lebih sama, dia berpikir hal itu akan terjadi padanya. Terlebih, kepikiran juga akan beberapa penyakit yang mengikutinya. Misalnya diabetes sampai jantung.
“Jangan sampai itu terjadi pada saya. Harus bisa kurus dan hidup sehat,” tegasnya.
Selain itu, banyak hal yang tidak menguntungkan baginya ketika memiliki tubuh sangat besar. Sebagai seorang MC yang biasa memimpin suatu acara, dia kerap terhambat ketika mendapatkan job mendadak dan mengusung tema tertentu.
“Misalnya ulang tahun dalam nuansa Chinese. Jika diminta dari 1-2 minggu, masih ada waktu menyewa baju atau membeli. Nah, kurang dua hari, dengan ukuran jumbo, wassalam deh, job melayang,” sebutnya.
Dia pun merasa iri. Ketika teman MC-nya membeli pakaian atau kostum kece, tanpa harus jauh ke luar kota. Sebaliknya, dengan ukuran celana 38 ke atas, di Malang sangat sulit menemukannya. Ingin memiliki kemeja dengan model terkini, ya mesti menjahit sendiri. Perasaan itu dari empat tahun lalu sudah kuat. Tetapi baru tahun ini bisa mewujudkannya. Ketika dia sudah tampil dengan berat badan 68 kilogram, bobot terberat yang dimilikinya, dalam kurun waktu enam bulan terakhir.
Ya, diakuinya, keberhasilan dalam menurunkan berat badan, menghasilkan bobot maksimal bagi pria yang menyukai cokelat dan keju ini hanya 68 kilogram saja.
“Sudah ngunci di angka itu. Bisa turun lagi, tetapi saya memilih 68-69 kilogram saja. Agar terlihat rapi dan berisi karena saya juga masih padat aktivitas,” tambah dia, lantas tertawa.
Yudha menceritakan cara menurunkan berat badan tersebut. Dia meninggalkan nasi putih dan menggantinya dengan karbohidrat lain. Semisal kentang, oats, atau beras merah. Gula dan garam, dia ganti yang rendah kalori, dengan harga yang jauh lebih mahal.
Fase terberat, berlangsung selama dua pekan pertama. Hobi mulutnya mengunyah tanpa mengenal waktu, seakan mendapat hukuman. Beberapa orang di sekitarnya, sempat terimbas ketika dia merasa lapar, tapi terhalang niatan menurunkan bobot. “Wajarlah, bisa dibilang senggol bacok. Perut lapar, mulut ingin mengunyah,” jelas pria yang kini masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang itu.
Ada yang menawarinya makan, langsung mentah. Yudha mengingat sepekan pertama, ketika dia tidak lagi merasakan makan di atas jam lima sore. Berat badannya menyusut empat kilogram. Jika lapar, dia memilih konsumsi buah seperti semangka, yang mengandung banyak air. Dalam waktu sebulan, perubahan terlihat karena bobotnya berkurang 13 kilogram.
Waktu pun berlanjut, hingga empat bulan, dia sudah memiliki bobot yang bagus karena hilang 38 kilogram. Semasa diet tersebut, Yudha mengimbanginya dengan gym dan olahraga, seperti basket dan badminton.
“Saya harus membentuk lengan, paha dan perut, yang dulu penuh lemak. Jika tanpa gym, pasti hasilnya kendor. Makanya, mesti diimbangi dengan olah raga. Bisa terlihat, sekarang ideal tapi berisi,” sebutnya, bangga.
Bungsu dari dua bersaudara ini memaparkan, hadir dengan bodi terbaru, tidak sepenuhnya diterima banyak orang. Banyak yang menduga, dia baru saja sakit berat. Apalagi, selama ini identik menjadi MC dengan bodi besar, pipi chubby yang lucu. Tanpa harus melakukan joke pun, dia sudah dikenal oleh banyak orang.
“Ada yang bilang saya sakit lah atau minum obat apalah. Akhirnya, setiap bertemu dengan orang, saya jadi penceramah,” urainya, disusul dengan tawa.
Padahal, menurut dia, jika melihat masa yang dianggap sebagai waktu menderita itu, maka terasa sangat berat. Sekarang, untuk menjaga bobotnya, sudah lebih mudah karena perut dan tubuhnya telah terbiasa dengan konsumsi yang terjaga. Belum lagi, setelah pulang siaran, dia sering menyempatkan gym atau berolahraga. Gym, minimal sepekan empat kali.
Menurut pria yang semasa SMP dan SMA di pesantren ini, ketika sudah hadir dengan penampilan terbaru, banyak godaan pula. Teman-temannya, kerap menggoda untuk mengajak makan malam, mengonsumsi gorengan, hingga menyantap sajian di restoran cepat saji.
“Ajakan itu sering malam hari. Jika tidak, nasi, cake, atau mie goreng. Teriak sih dalam hati,” aku pria yang sudah 10 bulan tidak mengonsumsi mie instan, yang dulu merupakan favoritnya itu.
Saat hatinya tergoda, dia selalu melihat rangkaian foto di gadgetnya. Beberapa sosok dengan berat ideal, sesuai impiannya. Lalu membandingkan tubuhnya yang masih berbobot di atas 100 kilogram.
“Malu, masa kelam. Janganlah terulang lagi, apalagi ketika gendut, makan saya banyak. J.Co 1 pack, bisa habis dalam beberapa menit saja,” imbuh pria yang terlahir dengan bobot 5 kilogram ini.
Kini, Yudha telah berhasil menanggalkan semua kebiasaan yang dianggap buruk itu. Alhasil, banyak keuntungan didapatkan. Termasuk dari ayahnya, yang dulu kerap meminta untuk Yudha diet. Sang ayah yang juga seorang designer, berjanji membuatkan pakaian untuk aksi panggungnya. Ditambah lagi, Yudha lebih mudah diterima oleh pencari MC, baik di tingkat lokal, regional hingga nasional.
Menurut dia, beberapa stasiun TV nasional, pernah menggunakan jasanya. Misal untuk menjadi host ketika Mata Najwa di Batu hingga acara seperti Super Trap. Di tingkat lokal, banyak yang kini percaya kepadanya. “Dulu, berat di bobot. Hahaha..,” selorohnya.
Keyakinan dengan bobot kali ini, dia buktikan pula dengan memberikan pakaian yang sudah sangat kebesarannya baginya. Jika Desember 2014 ukuran celananya masih 38, kini dia sudah bisa memakai yang berukuran 29. Untuk t-shirt, ukuran S bagi pria pun sudah bisa masuk ke badannya.
Yudha menambahkan, untuk saat ini, sudah jauh lebih ringan dalam menjaga berat badannya. Gym sudah menjadi satu aktivitasnya, sekalipun tidak seinten 5-6 bulan lalu. Begitu pula makanan, dia sudah terbiasa mengonsumsi makanan rendah kalori, serta tidak mengisi karbohidrat di atas pukul 17.00 WIB.  Cara yang alami dan tidak membuat ketergantungan. “Tidak perlu beli yang mahal, uangnya bisa digunakan beli pakaian baru, sesuai dengan ukuran tubuh saya sekarang saja,” pungkas dia.(stenly rehardson/ary)