Idolakan Joao Carlos, Kepincut Gol Emaleu Serge

NAMA Oky Derry Andriyan saat ini mulai didengar dan dikenal oleh Aremania, suporter fanatik Arema Cronus. Sebab, Oky sekarang sudah masuk dalam lingkaran pemain senior Singo Edan. Dengan posisi asli sebagai gelandang bertahan, Oky mencuri perhatian tim pelatih tim berlogo singa karena bisa bermain di beberapa posisi.

Arema adalah mimpi bagi semua pesepakbola muda asal Malang. Tujuan utama sebagian besar atlet sepakbola Malangan, adalah menjadi bagian dari tim berjuluk Singo Edan. Namun, laksana mencari jarum di antara tumpukan jerami, peluang masuk tim pujaan Aremania sangatlah langka dan sulit didapat.
Hanya bakat-bakat besar saja yang bisa menerobos peluang masuk tim yang saat ini dikomandoi oleh Joko “Gethuk” Susilo. Satu di antaranya, adalah pesepakbola asal Kabupaten Malang, Oky Derry Andriyan. Sepintas, penampilannya memang cukup menonjol di antara anak-anak muda skuad Arema lainnya macam Dio Permana, Utam Rusdiana atau Junda Irawan.
Sebab, selain rupawan, Oky juga memiliki tinggi badan yang ideal. Pemain bernomor punggung 89 tersebut punya tinggi 179 sentimeter. Dari segi attitude, Oky juga adalah tipikal pemain yang blater atau supel. Dia mudah bergaul dengan para pemain senior dan pandai menempatkan diri serta cara bicara.
Karakter atau sifat seperti ini juga yang membuatnya jadi penyandang ban kapten Arema U-21 pada ISL U-21 musim lalu sebelum ban FIFA turun. Tak heran, dia sudah diterima dan tidak sulit beradaptasi dengan skuad senior Arema. Bagi Oky, mimpi jadi pemain Arema adalah hal yang tak pernah disangka-sangka.
Sebab, dia terjun sebagai bagian dari keluarga besar Arema sejak Akademi. Malang Post, terlibat secara tak langsung untuk ‘memasukkan’ Oky di Akademi Arema. “Saat itu tahun 2006, Malang Post pasang formulir pendaftaran Akademi Arema. Saya pun daftar, tapi bareng teman. Soalnya, kalau daftar sendirian saya tidak mau,” ungkap Oky, kepada Malang Post, kemarin.
Tidak disangka-sangka, Oky bisa lolos seleksi hingga menjadi pemain Akademi Arema. Kali pertama masuk, Oky ditanyai soal posisi favoritnya. Saat mendaftar di formulir Malang Post, Oky mencontreng semua posisi yang mungkin dia mainkan, seperti defender, bek sayap hingga gelandang.
“Saat itu saya contrengi saja semua, hahaha. Tidak tahunya, saya diinstruksi untuk main di posisi-posisi yang saya contreng itu. Kalau posisi favorit saya, sebenarnya gelandang bertahan. Tapi kan tidak bisa begitu. Kalau diminta jadi stopper atau bek ya harus dilakukan,” sambung Oky.
Pemain kelahiran 8 September 1993 tersebut digembleng oleh trio pelatih Arema junior saat itu. Yakni, Joko “Gethuk” Susilo, almarhum Setyo Budiarto dan pelatih kiper Yanuar “Begal” Hermansyah. Oky menyebut, trio pelatih ini menyodori anak-anak Akademi Arema dengan materi yang luar biasa berat.
“Almarhum Pak Setyo dan Pak Gethuk pun demikian. Mereka beri materi latihan yang berat tapi variatif sehingga pemain gak bosan. Saya masih ingat, disuruh gendong rekan satu tim, sambil tetap bermain bola. Latihan kondisi sekaligus fisik. Berat namun menyenangkan buat pemain,” sambung Oky.
Arema Junior saat itu satu mess dengan Arema senior di Sengkaling. Setiap hari, Oky bisa melihat latihan serta aktivitas para pemain senior Arema di mess Bentoel. Dari sinilah, ia mulai mengidolakan pemain-pemain Arema era itu. Dengan melihat para seniornya, Oky semakin termotivasi untuk masuk ke skuad senior Arema.
Sembari terus mengasah fisik dan teknik di bawah asuhan trio pelatih Akademi Arema masa itu, pemain asal Sumberpucung tersebut juga mulai jadi anak gawang Arema era Bentoel. Dia pun melihat pertandingan-pertandingan kandang Arema nan spektakuler zaman itu. Oky melihat para pemain senior Arema yang tampil luar biasa di hadapan puluhan ribu Aremania.
Satu pertandingan yang tak pernah bisa dilupakan oleh Oky adalah saat jadi anak gawang pertandingan Arema lawan PSMS Medan. “Saat itu saya jadi anak gawang, pas di belakang PSMS. Saya lihat sendiri, gol tendangan spektakuler Emaleu Serge ke gawang Markus Horison,” tambahnya.
Semangat Oky untuk jadi pemain Arema pun semakin kokoh dan mantap usai melihat para pemain Arema senior seperti Arif Suyono dan Firman Basuki. Tahun demi tahun, pemain yang mengaku menggemari cara main Joao Carlos dan Junior Lima ini terus merangkak naik dari Akademi ke Arema U-21.
Tepatnya, pada tahun 2011-2012 era dualisme, Oky mulai magang di skuad senior Arema. Dia mencicipi rasanya jadi pemain Arema senior saat tim berlogo singa dihandel Wolfgang Pikal. “Saya jadi pemain magang, keluar masuk skuad senior sejak masuk Arema U-21. Saya masih umur 18 tahun, tapi terus magang sejak era Wolfgang Pikal,” sambung Oky.
Selama berkostum Arema U-21, Oky terus belajar dari para pemain senior di bawah asuhan banyak pelatih. Dia juga sudah mencicipi menu latihan banyak pelatih, seperti Wolfgang Pikal, Joko “Gethuk” Susilo hingga Suharno. Oky juga terlibat dalam turnamen seperti Piala Suratin dan Piala Yamaha.
Jika dihitung, total Oky sudah empat tahun keluar masuk skuad Arema senior. Lalu, pada era Joko “Gethuk” Susilo tahun 2015, Oky yang umurnya sudah lewat U-21, akhirnya resmi masuk ke skuad senior. Sekarang ini, alumnus SMAN 1 Sumberpucung ini masih antri untuk dapat kesempatan main yang lebih banyak dari tim pelatih.
Meski demikian, bakat serta talenta Oky, akan mencuri perhatian tim pelatih. Seiring dengan kematangan serta keseriusannya, bisa saja Oky bakal menjelma jadi salah satu gelandang muda yang naik daun di kompetisi masa depan. Banyak tawaran yang masuk buat Oky untuk bekerja di luar bidang sepakbola.
“Saya sempat ditawari jadi tentara, tapi tidak mau. Saya ingin bermain bola. Karena saya mencintai olahraga ini. Sekarang saya jalani saja situasi ini. Fokus latihan dan kerja keras. Kalau diberi kesempatan, pasti saya akan manfaatkan sebaik-baiknya,” tutupnya.(Fino Yudistira/ary)