Miliki 40 Karyawan,Laris Manis Hingga Manca Negara

KULIT JAGUNG, bagi kebanyakan orang mungkin dianggap sebagai sampah. Namun tidak demikian jika di tangan Tusweni Mayang Sari. Kulit jagung tersebut, justru bernilai tinggi. Seperti apakah ?

Tidak sulit mencari rumah sekaligus home industri milik Wenny sapaan akrabnya. Di Desa Urek-urek, Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang  masyarakat sekitar sudah mengenalnya. Cukup menanyakan Azizah Florist, warga sudah mengenalnya.
Di rumah yang cukup luas tersebut, Wenny menjalankan usaha bunga hias dari bahan kulit jagung. Meskipun sepele, namun usaha ini cukup menjanjikan. Bahkan, usaha bunga hias kulit jagung ini sudah  laris menembus berhasil menembus  ke  manca negara. Seperti Kuwait, Italia, Singapura serta Malaysia.
“Yang mengirim ke luar negeri, bukan saya. Tetapi pihak kedua yang selama ini bekerjasama dengan saya. Itupun tidak rutin, karena tergantung dengan pesanan,” ujar Wanny, mengawali pembicaraan dengan Malang Post.
Usaha bunga hias dari kulit jagung ini, diawali pada 1998 lalu. Awalnya, wanita berusia 43 tahun ini, iseng membuat bunga dari bahan kulit jagung. Ia membuatnya, saat salah satu saudaranya sedang panen jagung.
Bunga hias yang sudah dirangkai tersebut, sedianya tidak untuk dijual. Melainkan untuk dibuat hiasan sendiri di rumah. “Tidak ada yang membelajari, karena semua saya lakukan secara otodidak. Sejak kecil, saya memang suka membuat kerajinan. Termasuk orangtua saya juga rajin membuat kerajinan untuk dimiliki sendiri,” terangnya.
Setelah bunga dirangkai cukup bagus, bunga hias dari kulit jagung tersebut ternyata banyak saudara serta tetangganya yang berminat. Wenny kemudian diminta untuk membuatkan lagi. Dari situlah, akhirnya muncul niatan Wenny mengembangkan keterampilan yang dimiliki sebagai sebuah usaha.
Untuk memulai usaha, perlu perjuangan keras yang harus dilaluinya. Mulai dari belajar pemasaran kepada orang lain, sampai door to door untuk menawarkan kerajinan bunga hias. “Semula hanya saya jual di salah satu toko di Malang. Tetapi tidak dapat  berkembang, karena pesanannya terlalu sedikit dan pembayarannya tidak lancar,” katanya.
Akhirnya untuk bisa mengembangkan usahanya, Wenny mengikuti sebuah pelatihan pemasaran di Surabaya. Dari pelatihan tersebut, ibu tiga anak ini mendapat dukungan dari seorang teman untuk mencoba memasarkan di wilayah Jakarta.
Petunjuk itupun diikutinya. Selama beberapa hari, Wenny bersama suaminya lalu pergi ke Jakarta. Ia menginap di rumah salah satu saudaranya. Kemudian ia menawarkan ke setiap toko bunga di Jakarta melalui petunjuk buku telepon Yellow Pages.
“Beberapa toko penjualan bunga saya datangi, mulai pagi sampai sore tidak satupun yang berminat. Karena semua toko kebanyakan menjual bunga basah. Bahkan, suami sempat melarang untuk menghentikannya. Tetapi saya memiliki semangat, bahwa usaha saya ini pasti bisa berkembang,” terangnya.
Sehari setelah keliling, akhirnya Wenny mendapat petunjuk untuk mencoba menawarkan di stand bunga Mangga Dua Jakarta. Saat ditawarkan, ada stand bunga yang langsung setuju dan memesan dengan jumlah banyak. Dari sinilah, akhirnya usaha Wenny mulai berkembang.
“Namun saat itu sempat ada masalah, karena toko bunga yang biasa memesan kepada saya, dimasuki barang dari Cina. Tetapi saya tetap semangat, dan terus mengembangkan usaha bekerjasama dengan pihak kedua. Termasuk yang mengirim bunga hias saya ke luar pulau dan beberapa negara lain,” jelasnya.
Dari awalnya yang dikerjakan sendiri, saat ini Wenny memiliki sekitar 40 karyawan yang rata-rata adalah ibu rumah tangga.  Pengerjaannya pun, tidak lagi menggunakan bahan manual dari gunting saja. Tetapi sudah menggunakan alat mesin. “Dulu sempat sampai 80 karyawan. Tetapi karena ada naik turunnya, sekarang tinggal 40 karyawan saja,” urainya.
Bahan kulit jagung, selain didapatkan dari warga sekitar yang memiliki tanaman jagung, juga didapat dari daerah lain seperti Kecamatan Pagelaran dan Dampit. Meski tanaman jagung ini musiman, namun Wenny tidak takut kehabisan bahan karena stok yang dimiliknya sangat berlimpah.
“Kalau dulu memang sempat kehabisan bahan, ketika banyak pesanan. Alternatifnya, saya pun terpaksa menebas tanaman jagung milik warga yang usianya masih muda,” katanya, sembari mengatakan bahwa modal awalnya hanya semangat yang tinggi. Sekarang ini, setiap bulan omset yang didapatkan antara Rp 15 juta sampai Rp 50 juta.
Proses pembuatan bunga hias dari kulit jagung, dikatakannya tidak mudah. Diawali kulit jagung yang kering, direndam dengan cairan H2O2. Kemudian dicuci sampai bersih dan direndam dengan warna sesuai selera. Setelah itu kulit jagung dijemur dan diangin-anginkan. Kulit jagung yang masih kaku, disetrika terlebih dahulu sebelum kemudian diproses menjadi bunga. Seperti bunga tulip, mawar, febiros, sedap malam, matahari serta bunga lilin emas.(agung priyo/nug)