Anak Muda Pandegani Jamas 100 Pusaka dan Ruwatan

AKTIVITAS yang dilakoni para pemuda di Perguruan Arya Naga Sylendra patut diacungi jempol. Mereka menggelar upaya pelestarian kebudayaan tradisional, dengan menjamas 100 pusaka dan ruwatan sukerto. Kegiatan yang dilakukan di Candi Sumberawan, Singosari, kemarin ini dalam rangka menyemarakkan bulan Suro 1949.

Bulan Suro memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Jawa pada umumnya. Selain nuansa mistis, banyak juga tradisi dan ritual budaya yang kerap digelar masyarakat Jawa bersamaan dengan kedatangan tahun baru tersebut. Salah satu ritual suroan itu, seperti yang dilakukan di Candi Sumberawan, Singosari, kemarin sore.
Di tempat itu, puluhan pemuda memakai pakaian jawa sedang menyiapkan ritual ruwatan sukerto dan jamas 100 pusaka. Sebagian dari mereka, mengeluarkan benda pusaka satu per satu dari dalam kotak peti, kemudian ditaruh di atas meja. Yang lainnya, sibuk menyiapkan perlengkapan ritual.
Seperti arang, kemenyan, dupa, aneka minyak wangi, lonceng, kembang tujuh rupa dan wajan khas Jawa. Semua peralatan tersebut, kemudian ditaruh di atas meja yang telah disediakan. Sedangkan benda pusaka yang akan dijamas adalah keris. Berbagai jenis dan ukuran keris tersebut, milik perguruan Arya Naga Sylendra.
Salah seorang anak muda yang mengenakan baju adat Jawa berwarna putih, membaca mantra sebelum memandikan keris-keris tersebut. Dia adalah Ki Kresna Soesamto Sastra Wijaya. Setelah sejenak membacakan mantra, cucu mantan Wali Kota Malang  H.Soesamto (almarhum) ini mulai melakukan penjamasan benda-benda pusaka tersebut.
Hal pertama yang dilakukan adalah membersihkan keris itu dengan air yang telah dicampuri bunga tujuh rupa. Setelah bersih, kemudian keris tersebut diasapi menggunakan arang dan kemenyan. Lalu memasuki proses jamasan selanjutnya yakni pembersihan badan keris, menggunakan penghapus berwarna hitam.
“Setelah semua proses selesai dilalui, kemudian seluruh keris maupun benda pusaka iti dikumpulkan untuk didoakan,” ujar Ki Kresna Soesamto Sastra Wijaya, kepada Malang Post.
Melalui doa-doa yang dipanjatkan itu, supaya membawa aura maupun energi positif terhadap keris ini. Sehingga, pemiliknya juga mendapatkan enrgi positif itu pula.
“Perlu diingat, manusa tidak boleh diperbudak oleh benda pusaka. Karena bila diperbudak oleh benda pusaka, akan menghasilkan energi yang negatif atau tidak bagus. Maka dari itu, harus didoakan supaya masuk energi positif itu,” paparnya. Menurutnya, ini adalah ritual yang semata-mata untuk melestarikan kebudayaan tradisional.
Apalagi keris merupakan peninggalan asli dari Indonesia, yang telah diakui oleh dunia. “Kalau bukan kita generasi penerus, siapa lagi yang akan melestarikannya,” imbuh pemuda ramah ini.
Sedangkan digelarnya ritual ini, memang mengambil waktu yang pas, yakni setiap bulan Suro.
“Bulan Suro ini merupakan Wongso Bodro Warno dalam istilah Jawa. Yang artinya, awal yang baik untuk melakukan hal positif,” tuturnya.  
Sedangkan yang membedakan dari ritual ini, adalah keikutsertaan para pemuda. Biasanya, para pemuda paling enggan untuk melakukan hal-hal yang bersifat tradisional maupun kuno.
Untuk itu, Ki Kresna sapaan akrabnya terus mengajak para pemuda untuk mencintai kebudayaan tradisional. Karena kebudayaan adalah warisan yang patut dilestarikan keberadaannya. Terlebih melalui kebudayaan tradisional, sekaligus merupakan cermin bangsa dan juga masing-masing daerah, yang bisa menjadi ciri khas tersendiri.
“Yang mengikuti ritual ini, merupakan para pemuda perguruan Arya Naga Sylendra. Mereka datangnya dari berbagai daerah, ada pula mahasiswa yang sedang menjalankan studinya di Malang,” imbuh Ki Kresna.
Menurutnya, melalui ritual ini juga terdapat unsur edukasi, terutama untuk pelestarian kebudayaan tradisional. Implementasinya, yakni mengedukasi para pemuda untuk melakukan ritual semacam ini.
“Ritual ini, tidak melulu ada nuansa mistisnya. Melainkan juga ada unsur edukasi, sebagai pelajaran pelestarian kebudayaan tradisional yang telah ada ini,” terangnya.
Dia mengakui memang tidak sedikit kendala yang menghadang saat melakukan pelestarian kebudayaan tradisional. Termasuk mengajak para pemuda untuk lebih mencintai kebudayaan tradisional. Namun, dia tetap optimis  keinginannya pasti dapat  terus berjalan bahkan kelak membuahkan hasil maksimal.
“Ya kami anggap inilah risiko perjuangan bagi anak-anak muda seperti kami. Apalagi kami sudah terbiasa dalam pergerakan. Jadi seluruh hambatan kami hadapi dan laksanakan saja, ibarat air yang harus terus mengalir,” paparnya.
Melalui ritual semacam ini, keberadaan kebudayaan tradisional tetap terjaga. Selain itu, di tahun baru Jawa ini, bangsa Indonesia, terhindar dari