Mengenal Aditya Pratama Somanta, Juara I Muda Saburdata

Prinsip hidup seorang pemuda berbakat, Aditya Pratama Somanta begitu kuat. Pria ini tak lain adalah Juara I Pemilihan Muda Sadar Budaya dan Pariwisata Indonesia atau Pemilihan Muda Saburdata Indonesia 2015.  Bagi Adit sapaan akrabnya, sukses tak akan datang bagi mereka yang hanya menunggu tanpa berbuat apa-apa, tapi bagi mereka yang selalu berusaha wujudkan mimpinya.

Adit mengungkapkan berbagai prestasi yang ia raih memang sudah merupakan obsesi tersendiri baginya untuk menunjukkan bakat yang ia miliki.
“Sejak kecil memang saya sudah sering mengikuti berbagai kompetisi anak muda seperti ini. Kedua orang tua melihat jika saya memiliki kepercayaan diri dan bakat unjuk diri yang besar. Maka, mulai dari olah suara, akademik, dan banyak perlombaan lainnya saya coba ikuti,” urai pemuda asal Batu ini.
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang Jurusan Teknik Elektro ini menyampaikan, keikutsertaannya pada kompetisi Pemilihan Muda Saburdata beberapa waktu lalu tersebut bukan hanya sebagai ajang mencari prestasi saja.
Ia melanjutkan, perlombaan bergengsi yang diselenggarakan tiap tahunnya oleh Asosiasi Duta Wisata Indonesia (Aswindo) bersama Gramuda Saburdata Indonesia National Board ini memiliki visi penting bagi perkembangan negara khususnya bagi peningkatan dalam sektor pariwisata.
“Saya memang memiliki ketertarikan sendiri pada sesuatu yang berhubungan dengan pariwisata. Saya sangat menyukai keindahan dan alam ibu pertiwi yang ternyata masih perlu banyak dikembangkan dan dieksplorasi menjadi lebih baik,” tutur pemuda yang pernah meraih medali Emas dan Perak dalam 4th International Choir Festival Pattaya Thailand ini.
Perkembangan pariwisata di Indonesia memang sudah mulai digalakkan dan lebih ditingkatkan. Namun, untuk mewujudkannya, pemerintah sangat membutuhkan dorongan dan dukungan dari berbagai pihak. Khususnya anak muda.
Alumnus SMAN 1 Batu ini menyampaikan, seharusnya anak muda menjadi garda depan dari pengembangan negara. Ilmu yang dimiliki dan ditimba seluruh anak muda saat ini, akan menentukan sebuah negara dapat berkembang atau tidak.
“Jadi, jika anak muda masih banyak yang meiliki sikap apatis terhadap lingkungan sekitarnya, mau jadi apa negara kita nanti?,” tandas pemuda kelahiran 1994 ini.
Pemilihan Muda Sabudarta yang ia menangkan pada Oktober lalu tersebut menjadikan dirinya semakin percaya diri. Baik dalam membuat berbagai inovasi sekaligus motivasi bagi anak muda lainnya.
Perjalanan meraih prestasi tersebut tidak tanpa kendala dan halangan yang banyak orang kira, lanjutnya. Adit sempat pernah merasa menjadi korban “bully” saat sedang berusaha meraih predikat Pemuda Saburdata 2015 itu.
“Iya, waktu itu saya merasa seperti di ‘bully’. Karena kok bisa-bisa nya saya yang anak teknik bisa dengan pede-nya mengikuti pergelaran wisata. Mereka bilang saya mengerti apa? Begitu,” paparnya sambil tertawa lepas.
Namun, hal tersebut lantas tidak menghentikan langkahnya itu untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Ia menceritakan, apa yang membuatnya memenangkan kompetisi bergengsi tersebut bahkan karena nia berasal dari jurusan keteknikan.
Pada saat perlombaan, ia melanjutkan, dirinya menjadi peserta satu-satunya yang menunjukkan produk hasil karya sendiri dalam tahap presentasi.
“Pada saat itu, saat tinggal 20 besar, juri memberikan saya pertanyaan seputar ekowisata. Sangat kebetulan, saya memang sangat menguasai konsep ekowisata, karena waktu kuliah konsep ekowisata masuk dalam sebuah pembahasan dan saya memang tertarik dengan pembahasan tersebut,” jelas mahasiswa semester 7 ini.
Ia menjelaskan, konsep ekowisata pada saat ini memang merupakan konsep pengembangan sektor pariwisata yang sedang dibutuhkan oleh Indonesia. Ekowisata adalah bagaimana mengkonsep sebuah objek wisata. Sehingga dapat secara selaras memberikan masyarakat edukasi alam, ramah lingkungan dan meningkatkan ekonomi warga. Dari situlah, Adit yang juga menyenangi bidang seni teatrikal ini menjuarai Pemilihan Muda Sabudarta 2015.
Prestasi yang diraih Adit tidak sampai di situ saja. Saat ini, Adit sedang mengembangkan sebuah aplikasi android yang nantinya dapat memberikan akses informasi yang detail yang ditunjukkan khusus bagi pelancong atau turis.
Pada dasarnya aplikasi yang ia kembangkan konsepnya seperti google map atau foursquare. Tetapi, ini lebih dikhususkan pada satu objek wisata saja.
“Jadi, misalkan seseorang berada di Alun-Alun Batu. Dengan menggunakan aplikasi ini, ia dapat mencari tempat kuliner rekomendasi apa saja yang ada di dekat Alun-Alun. Tidak hanya tempat kuliner, penginapan, hotel, tempat angkringan bahkan toilet umum pun bisa dimunculkan,” tandas pemuda yang pernah mewakili Indonesia dalam International program for Indonesian Day on KBRI Bangkok tahun 2011 ini.
Adit kemudian berharap, aplikasi yang ia kembangkan sampai saat ini masih dalam tahap pengajuan proposal pada developer. Saat ini, aplikasi tersebut masih membutuhkan sokongan dukungan dari banyak pihak.
“Semoga apa yang saya lakukan ini dapat memberikan kontribusi bagi negara. Walaupun hanya seperti itu. Dan apa yang saya lakukan semoga dapat menjadi motivasi bagi kawula muda saat ini,” pungkas salah satu penyaji terbaik dalam Lomba Poster dan Essay Ecsotic FEB UB 2013 Tingkat nasional.(Sisca Angelina/ary)