Ikuti Jejak Ki Jopo Sumarah, Tampil di Festival Internasional

Stefanie Claudia Yolanda merupakan salah satu penari tradisional asal Kota Batu, yang mewakili Indonesia sebagai duta kesenian tradisional. Ia tampil pada World Martial Arts Festival, Chungju Korea Selatan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Alumnus SDN Ngaglik 1 Batu ini, membawakan tujuh tarian tradisional pada beberapa bulan lalu. Antara lain tari Cendrawasih (Bali), tari Lenggang Nyai (Betawi), tari Remo Balet (Jatim), tari Mbah Edreg (Malang), tari Monel (Malang), tari Galang Citra Gemilang (Malang), tari Jejer Jaran Dawuk (Banyuwangi).
Stefanie mengatakan, sebelum ditunjuk menjadi perwakilan duta kesenian Indonesia dalam kegiatan World Martial Arts Festival, Chungju Korea Selatan itu, ia menempuh seleksi yang ketat. Lantas dara berusia 18 tahun ini mengikuti audisi penari tingkat Kota Batu.
“Saya mengikuti audisi tari ini, dan Alhamdulillah saya masuk 5 besar. Bagi yang lolos akan mewakili Jawa Timur,” terangnya saat ditemui wartawan Malang Post di Jalan Diran Gang 1, RT 4 RW 1, Kelurahan Sisir Kota Batu.
Sedangkan World Martial Arts Festival yang digelar di Korea Selatan, menginginkan ada kegiatan tarian tradisional Indonesia yang ditampilkan. Pihak dari Presiden World Martial Arts Festival, Chung Wa Lhei menunjuk Indonesia sebagai perwakilan keseniannya.
“Akhirnya dari Indonesia menunjuk kesenian dari Jawa Timur yakni Kota Batu, untuk tampil dalam opening acara dalam kesenian. Dari Kota Batu ada tiga penari diantaranya saya, Karin Miranda (19 tahun), Devi Kiki (25 tahun),” terang perempuan alumnus SMAN 1 Batu ini.
Ketiga penari asal Kota Batu ini, terbang ke Korea Selatan untuk tampil dalam pembukaan acara untuk kategori keseniannya. Perempuan berambut panjang ini, tampil membawakan tarian dalam bentuk tari tunggal, berpasangan, dan beregu.
“Saya menari itu, dalam satu hari satu sampai dua tarian ketika pembukaan acara dan penutupan. Festival ini, kan olahraga bukan festival kesenian, saya menari di sini hanya menjadi penari pembukaannya saja,” tutur perempuan yang juga hobi basket ini.
Aktivitas yang ia lakukan selama pementasan di sana, sangat diapresiasi oleh pihak penyelenggara acara maupun masyarakat Korea Selatan. Saat mereka melihat penampilan dari tariannya, para penonton yang melihat seperti tersihir.
“Pertama saya tampil menari, suara tepuk tangan nampak bergemuruh dan suasana semakin meriah. Saya melihat, kalau mereka itu, masih heran dengan kebudayaan Indonesia mulai dari kostum, make up dan musik keseniannya,” papar dia sembari tertawa.
Menurutnya, mereka memang menunggu aksi kesenian dari Indonesia. Bisa jadi masyarakat di sana menilai kebudayaan Indonesia dalam segi bentuk tarian, kostum lebih susah.
“Kalau dibandingkan kesenian Indonesia sulit dipahami dibandingkan kesenian tari dari Korea Selatan sendiri. Karena tari Indonesia lebih banyak gerakannya dibandingkan tari di sana,” ucap perempuan bermata sipit ini.
Bisa menari di event internasional, menjadikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi dirinya. Bakat menari tersebut, didapatkan dari sang ibu, Luluk Yuli Mulyati. Ibaratnya buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
“Memang sejak kecil, saya suka menari saat melihat ibu main di pentas pertunjukan,” ungkap Stefanie.
Sejak kecil, ia selalu melihat dan mengikutinya ke mana saja ibunya tampil menari. Ia menyukai bidang kesenian terlihat di bangku sekolahnya.
“Menyukai bidang kesenian tari mulai SD sudah menjadi perwakilan Kota Batu untuk perlombaan tari tradisional di tingkat provinsi, waktu itu mendapat juara 2,” terangnya.  
Menginjak bangku SMP, perempuan tiga bersaudara ini, mulai mengembangkan bakat kesenian tari tradisionalnya, melalui kegiatan ekstra kurikuler di sekolahnya. “Awal masuk SMP saya ikut ekskul tari disekolah bersama teman-teman,” katanya.
Menurut dia, pengetahuan bakat kesenian yang didapat dari sekolah masih belum cukup. Sampai akhirnya, bisa bertemu Ki Jopo Sumarah Purbo. Ki Jopo, maestro seni tradisi asal Kota Batu, yang terkenal sebagai penari seribu topeng. Bahkan sudah pentas di kancah internasional.
“Waktu itu, saya ikut di Sanggar Sumarah Purbo menajadi anak didiknya Ki Jopo, untuk belajar dan mengasah bakat seni tari tradisional dengan baik dan benar. Mulai sering mengikuti perlombaan FLS2N tingkat Jatim juara 1,” urai perempuan murah senyum ini.
Di bawah asuhan Ki Jopo, Stefanie semakin memperlihatkan kemampuan seni tari tradisionalnya. Setiap Ki Jopo melakukan pentas, ia juga diberikan kesempatan untuk menampilkan tariannya.
”Sering sekali saya diajak Ki Jopo pentas bareng mulai acara di Pemerintah Kota Batu, ulang tahun Kota Batu, dan tempat wisata lainnya,” pungkasnya.(Imam Syafii/ary)