Livi Zheng Tebar Motivasi di Malang

Sutradara Film Box Office Kelahiran Blitar
MALANG–Sutradara kelahiran Blitar yang sukses menembus Hollywood Livi Zheng hadir di Kota Malang, kemarin. Livi menyebar semangat berkarya di Universitas Wisnuwardhana dan Rumah Makan Ringin Asri. Bangsa Indonesia patut berbangga hati. Sebab, salah satu sineas tanah air yang terhitung masih muda itu, mampu menembus ketatnya persaingan film Hollywood.
Livi Zheng, sukses menyutradarai sekaligus berperan dalam film Brush with Danger, dan merupakan salah satu nominasi Academy Awards ke 87 di tahun 2015.
Film tersebut, telah sukses menarik minat masyarakat di Amerika Serikat ketika pertama kali dirilis 2014 lalu. Sekitar dua bulan, film yang diperankan oleh Ken Zheng ini mampu bertahan di bioskop. Wajar, jika akhirnya menjadi nominasi Oscar kategori Best Picture.
Setelah setahun, film ini segera dirilis pula di Indonesia. Livi Zheng pun, sejak Oktober lalu mulai road show ke beberapa kota, mengenalkan film itu agar disukai oleh masyarakat, sebagai karya anak bangsa yang mampu merebut hati pecinta film di AS.
“Memang jarak pemutaran di Indonesia ini lumayan lama. Menunggu liburan yang lama, sebab saya memegang sendiri untuk penayangannya. Termasuk untuk melakukan promo,” ujar Sutradara Brush With Danger, Livi Zheng, ditemui di Rumah Makan Ringin Asri, Kamis (5/11) kemarin.
Menurut dia, film yang menarik minat masyarakat di AS, sudah sepantasnya bersinar di Indonesia. Dia optimis, setelah rilis yang dijadwalkan 26 November mendatang, orang Indonesia juga menyukainya. Ketika masih dikenalkan rencana rilis film, beberapa kota besar di Indonesia dan tokohnya, antusias. Misalnya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Wagub Jatim Saefullah Yusuf.
“I do my best. Harapannya, film ini pun memikat masyarakat Indonesia,” tambahnya.
Di AS, film ini sempat menjadi pembahasan New York Times. Berdasarkan pengalaman, film yang menjadi perbincangan atau perdebatan dalam majalah itu, berarti menarik minat pengamat. Sekalipun isinya merupakan kritik atau saran demi kebaikan, hal itu membuktikan jika film diperhatikan.
Film ini, berisi tentang perjuangan kakak-beradik yang berasal dari Asia dan menjadi imigran di Amerika Serikat. Alice, yang diperankan oleh Livi Zheng, dan juga sang adik, Ken, yang diperankan oleh Ken Zheng, adalah seorang petarung dan pelukis yang menumpang kapal kargo dan mendarat di Seattle, Wangshinton. Awal kedatangan mereka di Amerika adalah sebagai tuna wisma dan tuna karya, yang terpaksa menjadi penjual lukisan jalanan sekaligus mempertontonkan jurus-jurus bela diri. Justus Sullivan, seorang pemilik galeri seni melihat bakat seni Alice dan Ken, ingin menampung bakat mereka dengan maksud terselubung. Ia memaksa Alice dan Ken untuk memalsukan sebuah lukisan klasik karya Van Gogh, yang pada akhirnya menyeret mereka dalam dunia criminal Amerika yang penuh bahaya.
Menjadi film box office dengan rentetan penghargaan, diakui Livi tidak melalui proses yang mudah. Awal karir ia malah dicemooh oleh beberapa film maker Hollywood terkait cita-citanya ingin menjadi sutradara. “Mereka bilang you are everything wrong about being director, karena saya masih muda, perempuan, dan saya dari Asia. Karena selama ini sutradara Hollywood adalah pria yang sudah berpengalaman,” ujar wanita pencinta rawon tersebut.
Namun, tekad dan semangat yang kuat itulah yang pada akhirnya mematahkan persepsi orang-orang mengenai orang Asia dan wanita. Tidak hanya itu, ia dan sang adik pun harus mati-matian mencari executive produser yang tertarik dengan ide dan konsep yang mereka tawarkan.
 Wanita yang saat ini merupakan mahasiswa S2 jurusan Film Production di University of Southern California tersebut mengaku ketertarikannya di dunia perfilman muncul setelah menyelesaikan kuliah S1 jurusan ekonomi. Livi mengaku menjadi bisa menjadi seperti sekarang berawal dari hal-hal kecil, ia mengisahkan pernah melakoni semua job desk dalam penggarapan sebuah film.
“Aku dulu pernah jadi pembantu umum, scripwriter, sampai akhirnya jadi assistant sutradara dan sutradara.” Wanita yang saat ini juga berperan sebagai President of Asian American Cinema Association University of Southern California tersebut juga menegaskan kepada peserta yang hadir, dalam mengerjakan sesuatu entah itu besar atau kecil harus totalitas. “Jangan mentang-mentang film kecil ngerjainnya cuman 20 persen kalau film besar ngerjainnya baru 100 persen,” tambah Livi.
Tidak hanya berprestasi di dunia film, Livi juga menyabet beberapa penghargaan di bidang olahraga, yang memangn merupakan kegemarannya, diantaranya adalah First Place USA World Champhionship, Las Vegas, USA tahun 2009, First Place US Open, Orlando, Florida, USA tahun 2009, First Place LMA Open Martial Arts Tournament tahun 2010, dan masih banyak lagi.
Prof. Dr. H. Suko Wiyono, SH. MH, selaku rektor Universitas Wisnuwardhana, tak henti-hentinya berdecak kagum atas prestasi yang telah diraih oleh Livi. “Makanya, mbak Livi ini perlu diajak pulang ke Indonesia, untuk menginspirasi teman-teman lain. Sungguh saya kagum saya dia,” ujar pria yang juga menjabat sebagai ketua APTISI Jawa Timur.
Dalam pembukaan pidatonya, beliau menuturkan tidak mudah berkiprah di dunia Hollywood, apalagi menjadi sutradara dan bintang film. Lebih lanjut Suko menuturkan awal pertemuannya dengan Livi pada saat, wanita tersebut menjadi pembicara dalam pertemuan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI). Dalam acara itu Livi berbicara di depan para Rektor Perguruan Tinggi Swasta se-Indonesia. Setelah acara berakhir, Suko meminta Livi untuk berkunjung ke Malang dan menjadi pembicara di kampus yang ia pimpin.
Suko menambahkan, pihak Universitas Wisnu Wardhana mengundang siswa dan siswi SMA dan SMK, dengan tujuan agar mereka dapat memulai inovasi sedari dini. “Seperti Livi ini kan memulai semuanya dari kecil ya, jadi anak-anak diharap bisa contoh perjuangannya, tidak harus menjadi bintang film, kalau mau semangat, mau bekerja keras dan bersungguh-sungguh insyaallah bisa. Jangan gampang menyerah, jangan gampang sakit hati.” Tambah Suko melalui wawancara khusus dengan para wartawan.
Sementara itu, Owner Ringin Asri Hariadi mengakui, jika karya anak bangsa patut diapresiasi. Untuk itulah, ketika berkesempatan mengunjungi Malang dan melakukan pengenalan film, dia sangat antusias. “Sangat bagus, apalagi ketika melihat hasil dan penghargaan dan filmnya disukai. Kualitas internasional,” terangnya. (mg6/ley/ary)