Mengenal Lilis Indriyawati, Pemilik D’Sil Home Made

Usaha kecil dan menengah (UKM), tidak patut dipandang sebelah mata. Ketika sang pelaku bisnis piawai mengerjakannya, hasil maksimal pun bisa digapai. UKM D’Sil Home Made salah satunya. Siapa yang menyangka, jika hanya dengan sisa-sisa kain perca, bisa mengasilkan aneka craft. Seperti cover buku, tas , hingga bantalan kursi yang telah dikirim ke 15 negara di dunia.


D’Sil Home Made merupakan usaha yang dirintis oleh Lilis Indriyawati sejak tahun 2008. Usahanya, disesuaikan dengan keahlian yang dimilikinya akan kerajinan tangan. Bisa dibilang, usaha ini berawal dari hobinya akan craft. Kini sudah bisa didapatkan di Amerika Serikat, Belanda, Kroasia hingga Perancis.
“Sejak kecil, memang saya suka craft. Menyulam hingga membuat tas dan terus berlanjut sampai sekarang,” ujar Lilis Indriyawati, mengawali cerita.
Maklum, ketika kecil statusnya sebagai anak kolong, yang mengharuskan Lilis tinggal di asrama. Craft pun menjadi satu aktivitas menghabiskan waktu luang yang ternyata, kini menjadi lahan baginya untuk membiayai hidup. Terutama ketika dia ditinggal wafat oleh sang suami.
“Apalagi sejak 2012, saya menggantungkan craft sebagai usaha yang harus berkembang dan untuk membiayai hidup. Tetapi, dari 2008 ketika saya membuka usaha ini, almarhum sudah sangat mendukung,” beber dia kepada Malang Post.
Dia menuturkan, hobi itu coba dia terus jalankan sekalipun sudah berkeluarga. Dia mengerjakan segala kerajinan tangan itu seorang diri, bahkan hingga dua tahun lalu. Segala produk yang akan dijual untuk mengisi workshop, untuk pameran maupun pesanan, dia kerjakan dengan kedua tangannya. Namun, ketika permintaan sudah meningkat, bahkan hingga menyuplai tetap ke beberapa kota, secara otomatis dia membutuhkan tangan orang lain.
“Tetapi yang membantu masih keluarga juga. Ketika permintaan banyak, misalnya untuk memenuhi permintaan dari customer di Bangka Belitung,” imbuhnya.
Ya, D’Sil Home Made, memiliki jadwal rutin mengirim sejumlah hasil kerajinan tangan, setiap dua bulan sekali, sejak dua tahun lalu. Hal itu berawal, ketika di Babel mengikuti Misi Dagang 2013 dengan Disperindag Provinsi. Selain Babel, Bandung merupakan kota berikutnya yang memesan produk di bisnis yang beralamat di Sawojajar Gg 19/61D itu. Kiriman lainnya, ke Surabaya dan Jogjakarta. Untuk kota lain, tidak memiliki jadwal tetap.
“Biasanya permintaan dari luar kota, muncul setelah saya mengikuti pameran UKM. Setelah membeli produk di pameran, mereka pesan lagi. Makanya, saya sering mengirim ke luar kota,” urainya.
Menurutnya, berbagai macam produk yang dipesan. Mulai dari cover buku, tudung saji hingga tas yang terbuat dari kain perca yang dipadukan dengan kain batik, seperti yang sering diproduksi beberapa waktu terakhir. “Sekitar dua tahun ini, saya coba mengombinasikan dengan batik. Ternyata hasilnya jauh lebih bagus, dan peminatnya justru lebih besar,” tambah perempuan berusia 41 tahun ini.
Menurut Lilis, perpaduan batik yang membuat craft buatannya menembus luar negeri. Berawal dari pameran pula, muncul permintaan dari Atase Militer, yang tidak hanya dari satu negara. Istri dari pegawai di kedutaan ini, kemudian menyebarkan ke perkumpulannya. Dari sanalah, koleksi D’Sil Home Made tembus ke 15 negara. Tercatat, Atase Militer di kedutaan Pakistan, Papua Nugini, Mesir, Belanda, Turki, Beijing, Rusia, Kamboja, Thailand, Kroasi, Filipina, Malyasia, Amerika Serikat, Perancis hingga Australia. Sang pemesan, menjadikan koleksi ini untuk hadiah kepada tamu kenegaraan.
“Ketika mereka hendak kunjungan ke negara tertentu atau menerima tamu, koleksi saya yang dijadikan hadiah. Katanya Indonesia banget,” papar dia, bangga.
Menurut dia, sebelumnya untuk hadiah tersebut, istri-istri dari Atase Militer ini telah memilih kerajinan khas dari beberapa wilayah. Misalnya dari Yogyakarta dengan berbelanja ke Pasar Beringharjo. Namun, ketika koleksinya dijadikan hadiah kepada orang luar negeri itu, justru suka dan bertanya mengenai asal-muasal hadiah.
“Orang luar negeri pun, suka dengan segala sesuatu yang khas Indonesia. Terutama sentuhan batik. Banyak kiriman dari ibu Atase Militer ini, yang menunjukkan koleksi saya dipakai setelah menjadi hadiah,” terangnya.
Saking banyaknya permintaan, showroom untuk koleksinya pun sering tidak terupdate. Setelah barang buatannya jadi, langsung dikirim, dan barang habis lagi. Begitu membuat barang baru, ikut pameran, eh sold out pula. “Makanya, beberapa waktu terakhir saya mengajak saudara untuk mengerjakan pesanan, membuat koleksi untuk pameran. Untuk workshop, sangat sedikit karena pasti hampir habis begitu ada tamu yang datang atau yang memesan via online setelah saya upload,” urai dia panjang lebar.
Lilis kini terus mengupdate akan produknya. Dia tidak ingin ketinggalan mengeluarkan model terbaru, tetapi tetap menampilkan cita rasa Indonesia. Caranya, dengan mengikuti beberapa workshop, di sela kesibukannya memenuhi pesanan. “Pokoknya masih harus nuansa Indonesia dan bisa mengirim ke banyak negara lain,” pungkas dia.(stenly rehardson/ary)