Jumadi Efendi Wasit Nasional Merangkap Kasir RSSA

WASIT seringkali jadi bulan-bulanan dalam sebuah pertandingan sepakbola. Dipukul, dicaci, dimaki dan dilempar botol adalah makanan harian dari pengadil lapangan. Hal tersebut juga dialami pria kelahiran Jodipan, Jumadi Efendi. Dia adalah salah satu wasit sepakbola yang kini naik daun paska Piala Presiden. Kepada Malang Post, Efendi pun bercerita soal kehidupan serta suka dukanya sebagai wasit di sepakbola Indonesia.

Nama Jumadi Efendi meroket sejak memimpin partai 8 besar Persib Bandung lawan Pusamania Borneo FC di Piala Presiden beberapa waktu lalu. Saat itu, Efendi dipuji karena tegas dan tak segan menjalankan law of the games meskipun memimpin di pertandingan Persib. Jumadi menghujani para pemain Persib dan PBFC yang dianggap kasar dan membahayakan pemain lain.
Sejak itu juga, nama pria kelahiran Jodipan tersebut naik di kancah sepakbola nasional. Kemarin, Efendi pun bercerita suka dukanya mengawali karir di dunia wasit bola Indonesia. Dia menyebut bahwa awalnya keinginan Jumadi jadi wasit berawal dari Arema.
“Saya saat itu masih kecil. Ingin nonton Arema di Gajayana. Pas Galatama. Nah, kebetulan wasit yang sedang memimpin pertandingan, lupa bawa kartu. Saya kok kebetulan disuruh mengambil. Saya masuk Gajayana gratis. Sejak itu, saya ingin jadi wasit karena bisa nonton bola gratis, haha,” kelakar Efendi.
Namun, keinginan menjadi wasit tersebut masih disimpan dalam hati. Efendi yang lulus SMA, mencoba mencari peruntungan lain di pekerjaan formal. Lulus SMA, pria kelahiran 1972 itu melamar pekerjaan di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA). Dia dapat pekerjaan sebagai kasir, yang masih dijalani Efendi sampai sekarang.
Mimpi sebagai pemain sepakbola masih dijaga oleh Efendi. “Saya saat itu sempat ikut seleksi Persema U-21. Tapi ternyata kalah tanding, hehe. Setelah itu, saya jadi pemain amatir RSSA FC yang ikut di kompetisi internal PSSI Askot Malang. Masih nonton Arema juga,” papar Efendi. Sadar bahwa dia tak bisa berkiprah di sepakbola sebagai pemain profesional, Efendi memutuskan gantung sepatu.
Pada umur 27 tahun, Efendi resmi pensiun. Namun, rasa cintanya buat sepakbola masih belum sirna. Setahun setelah pensiun, Efendi mencoba peruntungan dalam kursus wasit C.3 tingkat lokal. Tahun 2000, Efendi lulus jadi wasit. Dia memiliki hak untuk memimpin pertandingan lokal di Kota Malang.
“Kesempatan itu tak saya sia-siakan. Sertifikat C.3 saya kantongi dan memulai karir di profesi wasit,” paparnya. Tahun 2002, dia mengejar lagi sertifikat wasit C.2 yang saat itu dihelat di Yogyakarta.  Lisensi wasit ini bisa dipakai untuk memimpin pertandingan tingkat provinsi. Setelah itu, Efendi mendapatkan lisensi untuk memimpin di kasta tertinggi, yakni C.3 tahun 2003.
Sejak itu, dia sudah diperbolehkan menjadi wasit untuk kompetisi profesional Indonesia. Meski sudah pernah jadi pemain dan mengantongi lisensi, ternyata Efendi masih grogi juga saat turun kali pertama sebagai wasit. Pasalnya, dia harus menilai pertandingan secara objektif dan tidak memihak.
Saat itu juga, Efendi akhirnya merasakan sendiri, jahatnya perlakuan suporter, pemain dan ofisial kepada pengadil lapangan. “Pertama kali jadi wasit kompetisi profesional tahun 2004. Saya memimpin di Divisi Utama. Grogi juga sih. Saya dapat sumpah serapah, makian, bahkan sampai didorong-dorong pemain,” paparnya.
Efendi pernah dipukul oleh pemain, yang menurutnya tidak memahami law of the games. Dia juga pernah mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari pemain nasional, satu di antaranya Hamka Hamzah saat kompetisi ISL  tahun 2012. Dalam pertandingan Sriwijaya FC kontra Mitra Kukar, Efendi memberi kartu merah buat Hamka karena protes yang berlebihan.
“Saat istri dan anak saya melihat perlakuan yang saya terima, mereka menangis. Kadang anak-istri saya masih tidak terima dan ingin membalas perlakuan Hamka pada saya. Padahal, saya sendiri sudah akur-akur saja dengan Hamka sekarang, hehe,” sambung ayah dari Viony Ramadhan Efendi dan Bryan Beckham Efendi itu.
Pengalaman-pengalaman sulit yang dialaminya, tidak membuat bapak dua anak ini kapok. Dia malah makin serius menjalani profesi sebagai wasit. Tiap cacian, makian sumpah serapah serta ejekan membuatnya terlecut untuk jadi wasit sebaik mungkin. Efendi punya prinsip, selama berpegang pada rule atau law of the games, tidak ada wasit yang tidak bisa memimpin pertandingan.
“Selama kita sesuai law of the game atau rule sepakbola, pertandingan sesulit apapun pasti bisa teratasi. Sejak saya jadi wasit, istri selalu bawa catatan untuk melihat kejadian-kejadian pertandingan. Istri pun sedikit banyak kuasai law of the games karena baca buku-buku saya,” sambungnya.
Sebagai orang Malang, Efendi juga seringkali melihat bahwa wasit selalu disalahkan dalam setiap kekalahan Arema. Suami dari Chatarini ini membuat kopian buku peraturan pertandingan, dan disebarkan ke tetangga-tetangganya yang juga Aremania. Kebetulan, tetangga Efendi di Jodipan adalah fans berat Aremma.
“Saya sebar buku peraturan buat tetangga. Jadi biar tetangga ngerti juga soal wasit. Kalau nanti Arema kalah, mereka tak selalu menyalahkan kinerja wasit,” sambung Efendi. Sebagai wasit sejak tahun 2000, Efendi tak pernah meninggalkan tugas utamanya sebagai kasir di RSSA Malang.
Dia hanya absen dari pekerjaan kantornya saat hendak memimpin keluar kota. Ternyata, lingkungan RSSA pun sangat mendukung pekerjaan sampingan Efendi sebagai wasit. Andai ada pertandingan, teman-teman kerja serta atasan di RSSA pun sudah tahu bahwa Efendi akan absen kerja.
“Tapi saya tetap profesional. Semua pekerjaan saya bereskan dulu sebelum berangkat luar kota. Jam-jam lembur pun saya penuhi. Sebab, bagi saya pekerjaan kasir ini adalah pekerjaan utamanya. Jadi wasit hanyalah sampingan,” tambahnya. Jelang Jenderal Sudirman Cup, Efendi pun berharap bahwa turnamen ini bisa jadi ajang mengisi kekosongan kegiatan perwasitan.
Bukan hanya pemain dan ofisial klub saja yang menderita sejak sepakbola vakum. Para wasit yang menggantungkan hidup dari pekerjaannya sebagai pengadil lapangan pun, kesulitan mencari rezeki. Tak heran, Efendi berdoa agar turnamen bisa berjalan lancar tanpa ada halangan apapun.
“Alhamdulilah bisa mengisi kekosongan kegiatan perwasitan. Wasit pun perlu diasah dari segi pengalaman, jam terbang memimpin dan feeling saat mengambil keputusan. Kita pun perlu turnamen seperti ini untuk menjaga fisik agar tetap terjaga,” tutupnya.(fino yudistira/nug)