Muhammad Nurhuda, Dosen UB Penemu Kompor Biomassa UB-03

Memberi sumbangsih kepada negara sendiri saja sudah luar biasa, apalagi memberi sumbangsih ke negara-negara lain, jelas sangat luar biasa. Dialah Muhammad Nurhuda, salah seorang dosen Fisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB). Melalui inovasi kompor biomassa buatannya, Nurhuda mampu mengambil peran untuk penghematan energi di Indonesia, bahkan dunia.

Namanya adalah Kompor Biomassa UB-03. Sudah banyak penghargaan nasional yang Nurhuda terima atas penemuannya itu. Kompor ini juga sudah mendapat apresiasi langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2009. Meski saat itu kompor ini belum sampai pada bentuk akhir, kompor ini tetap menuai banyak penghargaan.
Ide membuat kompor ini sendiri muncul sejak 2008 di mana isu ledakan LPG masih sering. Nurhuda berkeinginan memberikan alternatif kompor dan bahan bakar yang lebih aman dan relatif mudah diperoleh, yakni biomassa. Dilakukanlah penelitian. Namun, penelitian itu tidak serta merta jadi. Butuh waktu hingga 5 tahun lebih sehingga kompornya jadi seperti kondisi yang sekarang.
Kompor ini disebut-sebut hemat energi lantaran bahan bakarnya bukan gas maupun minyak. Ya, bahan bakar untuk Kompor Biomassa UB 03 ini berasal dari sumber daya alam yang melimpah di Indonesia. Bahkan, limbah sekalipun bisa diolah sebagai bahan bakar dari kompor buatan pria kelahiran Mojokerto itu.
Bayangkan, tak perlu mengeruk kekayaan energi seperti minyak dan gas untuk memasak bila Kompor Biomassa UB-03 ini digunakan secara massal. Sebab, untuk menyalakan kompor ini limbah jerami, sekam padi, cangking sawit, bahkan sampah kota sekalipun bisa dijadikan bahan bakar untuk kompor ini. Tentu setelah melalui beberapa proses hingga menjadi pellet biomassa. Nurhuda juga memberikan alternatif untuk masyarakat dengan cara membuat tabung bahan bakar yang bisa diisi oleh potongan kayu bakar. Tentunya, dua jenis bahan bakar ini, memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.
Tak hanya sampai situ, kompor ini juga hampir tidak mengeluarkan asap, sehingga masyarakat bisa lebih nyaman menggunakannya. Untuk penggunaan bahan bakar tertentu, api yang dihasilkan juga mampu berwarna biru. Keunggulan lainnya adalah emisi gas buangnya jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).
"Ini akan membuat penggunaan energi di Indonesia lebih hemat, karena bahan bakar untuk kompor ini tersedia sangat banyak di negara ini," kata Nurhuda kepada Malang Post saat ditemui rumahnya di kawasan Kendalsari, Tulusrejo, Lowokwaru, Kota Malang.
Sayangnya, penggunaan kompor diakui tak akan bisa merata selama masih ada gas LPG bersubsidi di Indonesia. Pasalnya, dengan LPG bersubsidi, hitungan bahan bakar untuk Kompor Biomassa UB-03 lebih mahal.  Untuk tiap satuan kalori yang sama, lanjut Nurhuda, 1 kilogram gas LPG setara dengan 3,5-4 kilogram pellet biomassa.
Artinya, harga LPG masih disubsidi adalah Rp 5.500/kg dan harga pellet biomassanya Rp 2.000/kg, harga LPG bersubsidi akan lebih murah dibandingkan pellet biomassa milik Nurhuda. Di mana, untuk mendapatkan kalori yang sama seperti 1 kilogram LPG, dibutuhkan biaya sekitar Rp 7.000 sampai Rp 8.000.
Namun, coba bayangkan bila subsidi dicabut, harga LPG 1 kilogram Rp 12 ribu, pellet biomassa akan lebih murah dibandingkan LPG. "Karena itu, kompor dan bahan bakar ini akan lebih berguna di masa depan saat subsidi dicabut," tegas Nurhuda seraya meyakinkan bahwa suatu saat Indonesia akan mencabut subsidi untuk LPG.
Lalu, bagaimana pemasarannya? Ya, hingga saat ini kompor yang diproduksi dalam dua ukuran ini sudah didistribusi sampai ke negara-negara di belahan Afrika, mulai Zambia, Tanzania, Senegal, Kamerun atau Afrika Selatan. Di negara-negara tersebut, sumber energi masih lemah sehingga penggunaan Kompor Biomassa ini cocok dengan kondisi negara mereka. Pemasaran ke negara-negara ini melalui perjanjian bisnis dengan salah satu distributor internasional, Prime Cookstoves sejak tahun 2013.
Sedangkan di Indonesia, Kompor Biomassa disalurkan melalui program-program dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI di pelosok-pelosok negeri. Kompor Biomassa UB-03 Nurhuda menjadi langganan Kementerian ESDM RI. Produk hemat energi buah kerja keras Nurhuda ini sudah sampai ke daerah-daerah kawasan timur, seperti Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi. Pernah juga Kementerian ESDM mendistribusikannya ke Lampung.
"Distribusi di Indonesia memang sulit bila masih ada LPG bersubsidi. Sehingga, untuk penyebaran di Indonesia biasanya melalui program dari ESDM," tegasnya. Ia akui, bahwa penggunaan kompor biomassa tak seefisien penggunaan kompor gas seperti sekarang. Pemasaran di pulau Jawa dan kota-kota besar tentunya bakal lebih memilih menggunakan kompor gas.
Karena itu, kata Nurhuda, seiring berjalannya waktu Kompor Biomassa UB-03 ini akan dikembangkan dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat. "Saya tidak menarget kapan akan kami lakukan pengembangannya, namun sudah ada niatan untuk melakukannya," pungkasnya.
Sekadar informasi, penjualan kompor Biomassa UB-03 sendiri sampai saat ini sudah mencapai puluhan ribu dan disebar di Indonesia maupun luar negeri. Meski begitu, Nurhuda enggan menyebutkan angka spesifik dari penjualan kompor tersebut. (Muhamad Erza Wansyah/ary)