Belajar dari Singapore International TVET Conference 2015 (1)

Institute of Technical Education (ITE) dan lima Politeknik di Singapura menggelar Singapore International TVET Conference 2015, 3-6 November lalu. Event besar yang disponsori Temasek Foundation ini diikuti 340 delegasi dari 33 negara termasuk Singapura dan negara lain di Asia, Australia, Canada, Jerman dan Amerika. Malang Post yang diwakili Dewi Yuhana menjadi satu-satunya koran regional di Indonesia yang diundang sebagai media participant.
Singapura termasuk negara yang sukses mengimplementasikan Technical and Vocational Education and Training (TVET) atau Pendidikan dan Pelatihan Teknik dan Kejuruan (PPTK). Keberadaan Politeknik dengan TVET-nya tidak dipandang sebelah mata, banyak anak muda yang sengaja merencanakan pendidikannya dengan memilih Politeknik atau pendidikan tinggi vokasi sebagai tempat menimba ilmu.
Ada lima politeknik yang bisa dipilih remaja Singapura, Singapore Polytechnic, Ngee Ann Polytechnic, Nanyang Polytechnic, Temasek Polytechnic dan Republic Polytechnic.  Ya meskipun, pemilihan tersebut terkadang lebih karena berdasarkan alasan ekonomi untuk segera dapat pekerjaan dibandingkan pilihan pribadi.
Indonesia sebenarnya tak mau ketinggalan. Seiring dengan populernya TVET beberapa tahun terakhir, pemerintah berusaha menambah jumlah Politeknik dan memperbanyak SMK, walaupun perbandingannya belum sepadan dengan banyaknya SDM yang harus belajar dan jumlah SDM yang harus dihasilkan sebagai tenaga terampil untuk memenuhi dunia industri masa depan. Kebutuhan dana Politeknik yang lebih besar dibandingkan universitas juga menjadi masalah tersendiri di tanah air. Karena seharusnya, kelas di Politeknik tak lebih dari 30 mahasiswa dan harus disiapkan laboratorium serta peralatan lengkap penunjang pembelajaran.  
Empat hari konferensi TVET ini sebenarnya didesain untuk para pemegang kebijakan di pemerintah, pemimpin Politeknik, kepala sekolah dan praktisi pendidikan vokasi. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil melalui tema yang disajikan sekaligus networking yang dapat dibangun oleh para peserta. Tidak hanya dengan delegasi dari 32 negara lain, tapi juga dengan delegasi dan pemegang kebijakan dari Singapura.
Nah, sebelum mengupas TVET lebih lanjut, saya ingin mengajak Anda pembaca Malang Post untuk belajar tentang penyelenggaraan event dari Singapura. Terlihat sepele karena event sejenis dengan topik berbeda pun sering diselenggarakan di Indonesia, termasuk di Malang. Perguruan Tinggi di Malang juga cukup sering menggelar acara berskala internasional yang dihadiri perwakilan banyak negara. Tapi, saya benar-benar terkesan dengan efisiensi acara tersebut sehingga ingin membaginya dengan Anda.
Di tanah air, acara molor sudah biasa. Pembicara tampil melebihi waktu yang ditetapkan panitia dan pejabat telat datang juga bukan hal aneh. Namun kesemuanya tak bisa ditemui dalam konferensi TVET. Saya awalnya agak ragu ketika melihat rundown acara yang meminta peserta hadir di lokasi pukul 07.50 (sama dengan 06.50 WIB) dan pembukaan konferensi pukul 08.15. Akankah peserta datang tepat waktu?. Nyatanya, peserta hadir on time, begitu pula para pejabat dari institusi terkait dan menteri pendidikan.  Tidak ada yang telat. Mereka rela mempercepat durasi makan pagi untuk bisa hadir di area konferensi, termasuk saya hehehe.
Dari semua hal ‘sepele’ yang saya lihat itu, saya paling suka bagaimana cara Acting Minister for Education (Higher Education and Skills), Ong Ye Kung saat menyampaikan sambutan. Memang sudah ada teks yang disiapkan untuk dibaca oleh sang menteri, namun ia tak terlihat sedang membaca. Ia mampu menjaga koneksi dengan audiens tanpa terdengar membosankan dan monoton, intonasi suaranya pas, sang menteri pun tahu kapan harus menyampaikan kalimat serius dengan tegas atau ketika mengatakan joke dengan nada santai.
Saya awalnya belum tahu jika teks yang dibaca Mr. Ong Ye Kung juga diletakkan di atas meja masing-masing peserta. Setelah beberapa menit kemudian menemukan teks delapan lembar itu dan membacanya, saya semakin terkesan dengan isinya. Pidato itu ditulis secara sistematis berikut dengan contoh-contoh untuk menguatkan pernyataan yang disampaikan, tidak sekadar berisi data dan kalimat membosankan yang biasanya masih kita dengar dari sebagian pidato pejabat. Ada contoh singkat tentang Steve Jobs, JK Rowling, Lionel Messi hingga contoh dari anak muda Singapura alumnus Politeknik yang sukses dengan kariernya, yang ditulis di dalam teks itu.  
Teks pidato dengan contoh detil tersebut dapat menjaga si pembaca untuk terhindari dari ‘silap lidah’ ataupun kesalahan dalam memberikan contoh yang tidak sesuai dengan konteks. Tidak hanya itu, teks yang dibuat secara rapi juga menempatkan sang menteri untuk berbicara tepat waktu, tak kurang atau melebihi alokasi yang ditetapkan panitia. Ia dengan mudah dapat melihat hitungan mundur jatah waktu pidato melalui monitor besar yang di pasang di bagian belakang audiens. Simpel, berguna.
Konferensi hari pertama yang dimulai sangat pagi itu berakhir pukul 17.30, sesuai dengan jadwal.(dewi yuhana/bersambung)