Catatan dari Singapore International TVET 2015 (2

Singapore International TVET 2015 yang disponsori Temasek Foundation diikuti 340 delegasi dari 33 negara di dunia sukses diselenggarakan 3-6 November 2015 lalu. Malang Post menjadi satu-satunya koran regional Indonesia yang diundang sebagai media participant. Berikut catatan wartawan Malang Post, Dewi Yuhana.
Sebagai negara yang bertetangga, kerjasama antara Singapura dan Indonesia sudah berlangsung sejak lama. Pun begitu dalam dunia pendidikan. Beberapa Politeknik di negara yang dikenal dengan sebutan little red dot ini memiliki kerjasama dengan Politeknik tanah air, di antaranya adalah Republic Polytechnic dengan Politeknik Negeri Malang dan Poltekom Malang.
Kerjasama ini berupa pertukaran mahasiswa, di mana mahasiswa dari Indonesia akan belajar dan tinggal di Singapura selama dua minggu, begitu juga sebaliknya. Mereka mengerjakan proyek berbasis teknologi berdasarkan kebutuhan masyarakat dan tentu saja melakukan interaksi budaya yang menjadi pembelajaran berharga lain bagi mahasiswa.  Sayang, tak ada delegasi dari dua Politeknik ini yang mengikuti konferensi tersebut.
Alasan yang disampaikan salah satu petinggi Poltekom saat bertemu dengan saya beberapa hari sebelum event adalah, biaya konferensi dinilai cukup mahal, SGD 1.500 atau Rp 15 juta (kurs Rp 10 ribu per SGD 1) per orang. Ya untungnya, Malang Post menghadiri konferensi tersebut, hehehehe.
Salah satu keynote speaker Bernie Trilling, Founder dan CEO of 21st Century Learning Advisors mengatakan, tugas pendidik saat ini tidaklah mudah. Sebab mereka harus menyiapkan siswa untuk pekerjaan yang ‘belum ada’ saat ini, menggunakan teknologi yang bahkan belum jadi, serta menyiapkan mereka untuk dapat menyelesaikan masalah yang bahkan kita sekarang belum tahu apa masalahnya. Nah lho!.
“Ketika mendidik siswa, maka yang harus dipikirkan adalah pekerjaan yang akan mereka hadapi di masa mendatang,” ujarnya di hadapan audiens.
Menurut Bernie, jenis pekerjaan baru saat ini bisa berubah dan muncul dengan sangat cepat, secepat kedipan mata. Kondisi inilah yang harus dipahami para akademisi saat menyiapkan anak didiknya untuk menyongsong masa depan. 10 tahun lalu, masyarakat tentu belum membayangkan dapat mengenakan produk wearable atau jam tangan pintar seperti yang dikenakan tokoh di dalam film-film sci-fi.
Namun lihatlah sekarang, banyak brand mengeluarkan produk ini yang meski dibandrol mahal tetap laris dibeli konsumen. Tenaga yang memproduksi produk ini adalah mereka yang sudah membekali diri dengan keterampilan dan teknik yang dibutuhkan masa depan. Maka, wahai para guru dan dosen, bayangkanlah sebuah pekerjaan dan masalah baru, yang akan muncul 10 hingga 20 tahun ke depan ketika Anda mengajar saat ini.  
“Lalu menurut Anda, keterampilan apakah yang paling dibutuhkan anak muda sekarang untuk dapat bersaing?,” kata Bernie yang meminta audiens untuk menyampaikan pendapatnya.
Kemampuan berkomunikasi, menjaring networking dan kolaborasi serta penguasaan bahasa merupakan beberapa poin yang diutarakan para delegasi kepada Bernie. Khusus poin terakhir, saya mengamininya 100 persen. Keterampilan yang masih minim dikuasai oleh warga Indonesia. Poin ini mengingatkan saya pada sebuah pertanyaan (lucu sebenarnya) yang dilontarkan wartawan kepada Duta Besar Indonesia untuk Singapura setahun lalu, “Kenapa tenaga kerja Indonesia lebih banyak bekerja sebagai pembantu rumah tangga, bukan kasir atau pekerjaan lain di toko”.
Jawaban Duta Besar pun simpel “Tenaga kerja kita belum dapat memenuhi syarat untuk bekerja sebagai kasir. Mereka tak bisa berbahasa Inggris. Banyak warga Filipina menjadi kasir di toko-toko di Singapura karena mereka bisa berbahasa Inggris dengan baik”.
Masih soal kemampuan bahasa, saya terkesan dengan semangat salah satu pembicara lain dalam konferensi, Prof. Dr. Karl-Otto Dobber, Director dan CEO Institute for Didactics and Teacher Training (Vocational Schools) Jerman. Saat mengawali sesi ceramahnya, Prof Karl-Otto berterus terang kepada audiens bahwa kemampuan bahasa Inggrisnya belum bagus. Ia pun mengakui harus mengambil kursus bahasa Inggris setiap seminggu sekali selama 1,5 jam untuk memperlancar kemampuan percakapannya.
“Saat saya muda, bahasa Inggris tidak populer di Jerman. Saya tidak harus berhadapan dengan bahasa Inggris ketika kuliah S1, S2 dan bekerja. Baru beberapa tahun terakhir saya menggunakannya karena harus bertemu dengan tamu asing,” ujarnya saat berbincang dengan saya.
Kakek tiga cucu ini memutuskan untuk lebih intens belajar bahasa Inggris sejak enam bulan terakhir, karena ia harus memberikan ceramah dalam bahasa ini lebih sering. “Usia saya sekarang 67 tahun, tapi saya tetap bersemangat untuk belajar. Karena belajar dan terus beraktivitas, bagus untuk otak sekaligus kesehatan saya sebagai orang tua. Saya bisa gampang sakit kalau hanya diam diri di rumah,” ujarnya panjang lebar.
Ada banyak pelajaran ringan yang muncul selama konferensi TVET berlangsung, begitu juga saat kami mengunjungi Republic Polytechnic dan Nanyang Polytechnic. Kurikulum dan fasilitas di kampus keduanya benar-benar keren!. (dewi yuhana/bersambung)