On Call 24 Jam, Setiap Telepon Masuk Dianggap Kabar Bencana

Tiga petugas BPBD Kabupaten Malang, yang siaga di posko memantau ancaman bencana alam di Kabupaten Malang.

Melihat Kesiagaan Staff BPBD Kabupaten Malang di Musim Hujan
MUSIM hujan sudah mulai turun. Bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan puting beliung, mulai mengancam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, sudah mulai siaga tanggap darurat bencana alam. Sedikit saja informasi tentang bencana akan langsung di cross check kebenarannya.

Tiga petugas BPBD Kabupaten Malang, terlihat sibuk di depan komputer masing-masing di dalam posko tanggap bencana. Seorang petugas mengawasi perkembangan cuaca dari jaringan online BMKG, seorang petugas lagi sibuk mencatat setiap perkembangan cuaca. Sedangkan satu petugas lagi, sibuk komunikasi lewat handphone dan pesawat udara atau handy talky (HT).
Ia memantau perkembangan kondisi dan cuaca wilayah Kabupaten Malang, melalui beberapa relawan dan anggota SAR. Dengan komunikasi tersebut, harapannya sekecil apapun kejadian bencana alam yang terjadi bisa termonitor. Sekaligus bisa segera mendapatkan perhatian dan bantuan.
"Komunikasi dengan relawan dan Tim SAR terus kami lakukan setiap saat. Karena datangnya bencana alam tidak bisa diprediksi," ujar Kepala BPBD Kabupaten Malang, Hafie Lutfi.
Intensitas hujan di Kabupaten Malang saat ini, memang belum tinggi. Namun BPBD sudah membuka posko tanggap bencana sejak dua minggu lalu. Selain juga masih ada posko waspada kekeringan yang masih terjadi di Kabupaten Malang.
"Posko darurat tanggap bencana alam ini, sudah kami buka karena tidak ingin terlena. Karena bencana alam tidak bisa diprediksi kapan datangnya," tutur Hafie Lutfi.
Berbagai persiapan sudah dilakukan BPBD Kabupaten Malang, dalam mengatasi ancaman bencana alam. Seperti membentuk relawan desa tangguh yang berjumlah 60 orang, sekitar dua minggu lalu. 60 relawan tersebut dari tiga desa di tiga kecamatan.
Yaitu Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Desa Lebakharjo Kecamatan Ampelgading dan Desa Pandansari Kecamatan Ngantang.
"Masing-masing setiap desa ini berjumlah 20 orang. Kenapa hanya tiga desa tersebut, karena yang sering terjadi bencana. Namun para relawan ini siap saja ketika membantu daerah yang terjadi bencana," terangnya.
60 relawan bentukan BPBD ini, adalah orang pilihan yang didata oleh kecamatan. Mereka terpilih sebagai tim relawan, karena memiliki kepedulian terhadap bencana. Termasuk memiliki kemauan dan komitmen untuk membantu penanganan bencana.
Sebagai antisipasi, BPBD juga sudah mulai menyiapkan alat berat dan peralatan penanganan bencana lain. Termasuk menyiapkan makanan siap saji. BPBD juga sudah mulai turun ke lapangan, untuk memantau daerah yang sering terdampak bencana banjir dan tanah longsor.
Seluruh peran serta masyarakat dan perangkat desa, akan dilibatkan untuk memantau kondisi di sekitarnya. Karena setiap awal musim hujan tiba, selalu dibarengi dengan angin kencang, yang rawan berpotensi dengan pohon dan baliho tumbang. Untuk itu, pohon tua dan baliho yang rawan roboh didata semuanya untuk segera dilakukan penanganan.
"Jangan sampai setelah ada korban baru dipangkas. Sebab bencana puting beliung tidak bisa dipetakan. Karena kami akan mengajak juga bagian perizinan yang memasang baliho, untuk ikut mengawasinya," paparnya.
Untuk mengantisipasi sekaligus mengawasi ancaman bencana yang terjadi, BPBD juga akan membuat surat kepada Bupati Malang. Agar memerintahkan semua Camat di Kabupaten Malang untuk memantau kondisi wilayah di sekitarnya.
"Kami setiap hari on call selama 24 jam. Setiap telepon masuk dan berdering, pikiran kami hanya dua. Yaitu mengabari bencana atau menanyakan soal bencana," katanya.
Bagyo Setiono, Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, juga mengatakan demikian.
Setiap hari di posko ada lima orang yang stand by selama 24 jam. Dan ada petugas yang stand by on call. Di mana tiap perwira dan anggota yang stand by harus tetap dalam jangkauan selular serta handy talky (HT). "Siapapun yang telepon, pasti kami berpikir apakah ada bencana," kata Bagyo.(agung priyo/ary)