Dirikan Sanggar Wayang, Ajak Generasi Muda Cintai Seni Tradisi

Oktavianus Eko Putro berpose bersama wayang favoritnya, ia adalah dalang muda dari Kota Batu

Sedikit sekali pemuda yang rela mendedikasikan hidupnya untuk seni tradisi. Oktavianus Eko Putro (29 tahun) adalah salah satu dari yang sedikit tadi. Dalang muda ini, memberikan pembelajaran pedalangan kepada anak-anak muda di Kota Batu tanpa kenal lelah.
Kemajuan teknologi yang berkembang pesat saat ini membuat budaya asing gampang masuk ke Indonesia. Salah satunya kebudayaan barat yang mendominasi negeri ini lewat musik, film, maupun tarian modern. Hal tersebut sebagai tantangan tersendiri, untuk mempertahankan budaya tradisional Indonesia terutama kesenian wayang kulit.
Oktavianus Eko Putro, seniman dalang wayang kulit sekaligus pemilik sanggar Seni Kridha Manggala Laras (KML) yang berada di Jalan Kasiman No 43, Kelurahan Ngaglik, Kota Batu ini, mempunyai tekad dan tujuan untuk mempertahankan dalam mengembalikan ruh kebudayaan  seni tradisional. Melalui pembelajaran kesenian wayang kulit kepada generasi muda sebagai pelaku senimannya.
Sebelum menjadi dalang dan pemilik sanggar seni, Puput sapaan akrabnya ini, telah menyukai kesenian wayang sejak Sekolah Dasar (SD). Darah seninya jatuh dari kakek buyutnya, yang merupakan seniman wayang asal Pare, Kediri Jawa Timur.
“Saya suka wayang kulit dan suara gamelan sejak kecil, kakek buyut menjadi dalang wayang, jadi sering diajak dan melihat langsung beliau melakukan pertunjukan wayang,” ungkap dia saat ditemui Malang Post di rumahnya yang berada di Kelurahan Ngaglik, Kota Batu.
Pria 29 tahun ini, mengaku sejak duduk di bangku kelas 6 SD, ia berambisi ingin sekali menjadi dalang wayang kulit. Dari hobinya tersebut, ia mengaplikasikan wayang kulit dengan cara menggunting gambar atau kardus yang ada gambar wayangnya.
“Pokoknya kalau ada buku yang bergambar wayang, pasti saya rangkai menjadi wayang sungguhan, dan saya mainkan wayang sendiri di rumah,” terang dia dengan tersenyum.
Setiap hari Minggu ketika ada acara wayang kulit yang disiarkan di TV ia pasti mengikuti. Bahkan siaran radio maupun rekaman kaset tape. Dari situ, ia menirukan gaya seorang dalang wayang kulit tersebut.
“Sambil membawa wayang dari kardus, laku dalang saya tirukan sendiri,” ucap pria berkulit sawo matang ini.
Dari hobi tersebut, terus ia kembangkan setelah lulus SD, dengan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler kesenian tradisional. Ia aktif ikut berbagai organisasi di bidang kesenian mulai karawitan, gamelan dan materi tentang kesenian wayang.
“Selain saya ikut ekstra kesenian di sekolah, saya juga sering membaca buku sejarah tentang ke cerita ketokohan wayang, lakon, dan kesenian,” terang pria alumni SD Sang Timur Batu ini.
Jika materi kesenian yang ada di sekolah itu tidak cukup, ia sering membeli buku cerita tentang tokoh-tokoh pewayangan mulai dari buku Mahabharata sampai buku Bharatayuda yang tebalnya sekitar 100 halaman.
“Buku tersebut isinya tentang kamus wayang, silsilah nama kerajaan, istri tokoh, sampai senjata yang dimiliki tokoh wayang tersebut,” papar pria alumni SMPK Widyatama Batu ini.
Disinggung favorit dalang wayang kulit, ia menjawab dengan lantang Ki Anom Suroto asal Jawa Tengah. Alasan suka dengan dalang tersebut, menurutnya dalang kondang asli Solo ini, ketika menjadi dalang wayang kulit suaranya tegas, berwibawa.
“Saya sangat kagum dengan suaranya, dan pembawaan lakon dalam pertunjukan wayang kulit,” akunya.
Disamping itu, selama di bangku SMP ia juga sering mengikuti perlombaan dalang wayang kulit di Kota Batu. Meskipun tidak menjadi juara, tapi semangat menjadi dalang sangat besar. Setelah ujian SMP kelas 3, kali pertama ia tampil menjadi dalang wayang kulit di kampung Ngaglik dalam acara Agustusan.
Setelah lulus SMP. Pria hobi jogging ini, awal masuk SMA ikut bergabung di Paguyuban Adi Laras Sidomulyo, dan Ngesti Laras Songgoriti. Selam tiga tahun bakat pedalangannya sudah berkembang pesat.
“Saya lulus SMA saya melanjutkan kuliah di ISI Surakarta Jawa Tengah. Setelah menjalani berbagai tes akhirnya masuk di perguruan tesebut,” tuturnya.
Diterangkan dia, kali pertama masuk kuliah pada tahun 2007-2001 di Fakultas Pertunjukan di Jurusan Pedalangan. Dari ilmu kuliah tersebut, ia mendapatkan kesulitan dalam materi pedalangan seperti olah suara, pemahaman alat karawitan.
“Kesulitan kuliah pedalangan mulai memainkan gamelan, teknik memegang wayang dengan baik dan benar, paham lakon, dan silsilah. Itu dasar ilmu yang harus dikuasai oleh seorang dalang,” kata pria alumni SMAK Yos Sudarso Batu ini.
Selama kuliah ia juga sering ikut pementasan menjadi dalang wayang kulit, di berbagai pertunjukan di sanggar kesenian Solo. Setelah lulus kuliah ia mengembangkan ilmunya di Sanggar Ngesti Laras.
“Saya lulus kuliah, ilmu pedalangan saya kembangkan kepada pelajar sekolah khususnya di Kota Batu, agar mereka mampu menjadi seorang seniman,” ujarnya.
Tahun 2010 ia mendirikan Sanggar Seni Kridha Manggala Laras dengan mengumpulkan peserta mulai SD sampai sampai SMA. Tujuannya memberikan pemahaman kesenian pada anak muda, karena kebanyakan generasi muda sudah tidak tertarik lagi dengan kesenian budaya terutama wayang kulit.
“Saya melihat setiap diadakan pagelaran wayang kulit, seniman yang tergabung dalam paguyuban atau sanggar wayang kulit, identik dengan generasi orang tua, untuk itu saya seniman wayang kulit dari generasi muda,” terangnya.
Awalnya banyak kendala saat mengajari kesenian pada anak muda, dengan karakter dan kemampuan yang berbeda. Dengan tekad dan kerja kerasnya, akhirnya membuahkan hasil. Sampai sekarang ia sudah mempunyai 15 anggota seniman yang didominasi pelajar di sanggar tersebut.
“Anggota paling muda yakni Raffi anak kelas 5 SD, ia sudah bisa memainkan alat kesenian tradisional yakni peking dengan Gending Cucur Bawok, padahal alat ini susah, dan jarang orang lain bisa memainkannya. Kalau sekarang ia sudah mulai belajar dalan, agar ada generasi penerusnya,” urainya.
Sekarang sanggar tersebut, sering banyak tawaran job dari Kota Batu sendiri sampai laur daerah, seperti Surabaya, Kediri, Lumajang, dan Blitar. Upaya Puput dalam mendirikan sanggar dan mengadopsi senimannya dari anak muda, dibilang berhasil.
Dia berharap, kesenian wayang kulit saat ini, sudah dikenal oleh orang luar negeri, bahkan kesenian Jawa tradisional yang mendunia, sudah ditetapkan sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan benda Warisan Manusia dari UNESCO internasional.
“Khusus generasi muda jangan malu belajar tentang kesenian, karena banyak orang asing yang ingin mempelajari kesenian membayar dengan mahal. Budaya kita sendiri harus dikembangkan, dan memiliki jiwa kesenian dengan moral yang baik dan benar,” tandasnya.(Imam Syafii/ary)