Mengenal SIPLO Ciptakan Dr.Ir.H. Sugiarto, Akademisi Unisma

Dr.Ir.H. Sugiarto saat mengaplikasikan SIPLO di persawahan di Gorontalo

Sistem Intensifikasi Potensi Lokal (SIPLO) adalah berhasil diciptakan Dr.Ir.H. Sugiarto. SIPLO ciptaan akademisi Universitas Islam Malang ini, bisa menguraikan nutrisi dalam tanah diantaranya. Bahkan bisa menekan biaya operasional karena pembelian pupuk anorganik tidak begitu diperlukan.
Produktivitas padi rata-rata nasional di Indonesia masih relatif rendah yaitu 6-7 ton/Ha. Produktivitas tanaman padi di Indonesia masih relatif rendah, sehingga diperlukan peningkatan untuk menunjang kebutuhan pangan nasional (Deptan, 2004).  
Fakta di atas ternyata menjadi latar belakang salah seorang praktisi akademis peduli ketahanan pangan bernama Dr. Ir. H. Sugiarto.MP., menciptakan alat yang dapat mengatasi solusi buruknya kualitas tanaman padi Indonesia secara signifikan.
Alat dan aplikasi yang dinamakan SIPLO (Sistem Intensifikasi Potensi Lokal) ini telah mendapatkan pengakuan Dirjen Perindustrian dengan peandatanganan MoU pemakaian alat yang diciptakannya tersebut.
“SIPLO pada dasarnya merupakan alat yang dikembangkan dengan menggunakan sistem elektrifikasi yang dimanfaatkan bagi pengurai unsur hara yang ada dalam tanah. Isilathnya seperti akupuntur pada tanah menggunakan arus listrik,” tutur pria yang lebih akrab disapa Sugi ini, saat ditemui di Kantor Dosen Universitas Islam Malang, Jumat (13/11/15).
Pria asli Malang ini menceritakan, keprihatinannya sebagai salah seorang anak bangsa melihat kualitas pangan negara yang kian merosot menjadikannya termotivasi untuk menciptakan sesuatu.
Prinsip dasar dari peningkatan kualitas tanaman padi hanya terdapat pada kualitas tanah, lanjutnya. Menurut penelitian yang ia lakukan, unsur dan nutrisi dalam tanah di sebagian besar wilayah Indonesia masih belum terurai dengan baik dikarenakan kerusakan agroekosistem.
“Tanah memiliki zat hara atau bahasanya gampangnya adalah nutrisi tanah. Istilah ilmiahnya adalah kation dan anion. Dengan arus listrik, kedua unsur pembentuk nutrisi tanah tersebut akan dengan mudah teruraikan. Sehingga dapat segera diserap tanah kemudian diserap tanaman,” papar Dosen Agroklimatologi Unisma ini.
Sugi menerangkan produksi padi rata-rata di Indonesia hanya berkisar sekitar 6 – 7 ton per hektare. Jumlah ini jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang kian meningkat tidak akan mencukupi. Sementara alat SIPLO dapat memberikan hasil panen padi sekitar 13 - 14 ton sekali panen per hektare.
Pria kelahiran 1961 ini menceritakan, alat hasil temuannya ini telah diaplikasikan ke banyak daerah di Indonesia. Diantaranya, Banyuwangi, Jombang, Sragen, Gorontalo, Tegal, Garut, sampai Nusa Tenggara Barat. Alat ini memang ia prioritaskan ke berbagai wilayah yang memang memiliki potensi tanaman padi yang besar di mana masyarakatnya juga lebih membutuhkan.
“Ini yang sedang kami usahakan di daerah Sragen. Tanggal 25 besok, mereka akan panen dari hasil pertama tanaman padi menggunakan SIPLO. Dan saya berharap dapat menghasilkan 15 ton saat panen nanti,” ucapnya dengan penuh semangat.
Keunggulan SIPLO selain menguraikan nutrisi dalam tanah diantaranya adalah, efisiensi biaya. Biaya operasional akan berkurang karena pembelian pupuk anorganik tidak begitu diperlukan. Selain itu, ia menambahkan, aplikasi teknik SIPLO dapat mengendalikan hama dan penyakit dalam tanah.  Keunggulan lainnya adalah SIPLO dapat mengembalikan tingkat keasaman (pH) dalam tanah menjadi normal sehingga dapat menopang kesuburan tanaman. Keadaan tersebut akan menjadikan semua unsur hara makro dan mikro tersedia dalam kondisi sempurna.
“Selain itu, performance tanaman menjadi lebih kokoh dan tidak mudah rebah. Organ tanaman menjadi lebih kompak akibat perkembangan jaringan sel tanaman yang tumbuh dengan sempurna,” katanya sambil memperlihatkan skema alat SIPLO.
Sugi kemudian melanjutkan, alat SIPLO yang ia kembangkan telah membawanya pada kesempatan langka yaitu bertemu langsung dengan Dirjen Perindustrian untuk membicarakan langsung terkait kerjasama penggunaan SIPLO.
Ia berujar, oleh Dirjen Perindustrian tersebut, SIPLO telah dipesan sebanyak kurang lebih 18 unit untuk diaplikasikan ke berbagai daerah di Indonesia dalam program industri desa mandiri dengan membina petani daerah untuk mempelajari teknik baru pertanian yang mutakhir.
“Yang lucu adalah, pada saat itu, Dirjen menyebut saya sebagai dokter akupuntur tanah saat bertemu,” tuturnya sembari tertawa kecil.
Ayahanda dari putri bernama Shafira Ghoni ini mengungkapkan, pengembangan teknologi yang mengarah pada peningkatan ketahanan pangan ke depannya akan sangat dibutuhkan. Pasalnya, kondisi alam Indonesia, semakin hari semakin sempit wilayahnya.
Maka dari itu, lanjutnya, masyarakat dan pemerintah diharapkan selalu melakukan kerjasama. Masyarakat harus lebih jeli dan berinovasi untuk mengembalikan ketahanan pangan bangsanya. Sementara pemerintah harus secara progresif memberikan dukungan dalam bentuk apapun kepada masyarakat dalam usaha peningkatan produksi agrikultur.
“Intinya, harus sama-sama komitmen dalam mencintai lingkungan dan alam. Karena, kesuama nya ini adalah untuk anak cucu kita semua. Bukan ke yang lain,” pungkasnya. (Sisca Angelina/ary)