Pelukis Siswi SMAN 3 Raih Prestasi Internasional

PRESTASI demi prestasi terus diukir siswa siswi SMAN 3 Malang.  Salah satunya adalah  Kalayfa Nabilah Tazakka,   salah satu pelukis muda berbakat dari Bumi Arema  dan  karyanya telah dipamerkan di berbagai  negara.
Taza,sapaan akrabnya,  baru-baru  ini juga berhasil  mendapatkan pengakuan dunia atas karya lukisnya meraih  Silver Award dan dipamerkan di Museum of Recent History Celje dalam   ajang bergengsi pelukis muda dunia di 20th Competition of the World of Art, Celje, Slovenia.
“Peserta nya ada sekitar 1000 orang di seluruh dunia. Dan karya saya termasuk salah satunya yang berhasil masuk seleksi dan dipajang di galeri event tersebut. Sayangnya, saya tidak dapat hadir pada pameran lukisnya,” ungkap Taza saat ditemui Malang Post  di kediamannya di jalan Kripton Kavling 36 Malang.
Gadis berusia 16 tahun ini bercerita, karya lukisnya yang dipamerkan di Slovenia tersebut menurutnya merupakan karya lukis unik dan paling istimewa. Pasalnya, proses pengerjaannya pun juga terbilang unik.
Ia menceritakan, pada awal proses pengerjaan, dirinya sempat merasa kebingungan untuk menentukan tema. Tema yang diberikan panitia adalah harus mengangkat perihal tari dan baju adat negara sendiri. sempat terpikir oleh Taza untuk mengangkat tari Bali sebagai tema lukisannya. Namun kemudian ia berpikir kembali.
“Tari Bali memang sangat pas untuk diangkat karena memang sudah mendunia. Tetapi kemudian, saya berpikir lagi. Mengapa saya tidak mengambil tari lain di Indonesia yang juga memiliki keindahan yang sama namun belum banyak diketahui mata dunia. Maka saya pilihlah tari Reog,” tutur Taza yang bercita-cita menjadi dokter ini.
Bukan hanya itu saja, hal unik lainnya mengenai proses pembuatan lukisan tersebut adalah ternyata lukisan tersebut dibuat bukan menggunakan bulu kuas lukis yang selayaknya dipakai. Tetapi, Taza menggunakan ujung balik dari kuas tersebut.
Ia mengaku, ingin memberikan sentuhan realistis dari lukisan yang ia buat selama 3 jam tersebut. Jika menggunakan kuas lukis, hasil masih belum terlihat nyata dan kasar, maka dengan otak kreatifnya, Taza menggunakan ujung balik kuas untuk melukis.
“Baru kali ini juga saya mencoba menggunakan ujung balik dari kuas. Ternyata hasilnya sangat memuaskan. Lukisan Reog ini jadi terlihat nyata, karena tekstur kasar dari cat terasa dan menjadikan lukisan seperti timbul dan nyata,” imbuh Taza yang mengidolakan pelukis terkenal Indonesia, Affandi.
Gadis berbakat dari pasangan Herly Herjudy dan Ninuk Srie Wahyuni ini juga telah mendapatkan pengakuan dari negara luar lainnya seperti India, China dan Macedonia.
Pada bulan Mei 2015, lukisan Taza mendapatkan predikat Golden Pallete di ajang pelukis internasional, The Small Montmatre of Bitola, Macedonia. Selain itu, pada Juni 2015, hasil karya gadis alumnus SMPN 3 Malang ini juga mendapatkan predikat Golden Artist di ajang Annual Watercolour Art Contest dari Picasso Art Contest, India.
Kemudian, di tahun yang sama pula, Taza turut mendapatkan Golden Award pada ajang 7th Tuanjin International Children’s Painting Competition & Exhibition 2015 yang diselenggarakan Tianjin Cahay Future Culture and Art Foundation China.
Taza berujar, setiap prestasi yang ia dapatkan tersebut bukanlah semata-mata hanya sebagai prestasi belaka. Baginya, hobi melukis yang berbuah prestasi menjadi penyemangat dan motivasi untuk lebih bisa berkarya dan mengembangkan bakat diri ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
“Ibu selalu bilang, prestasi lukis yang saya dapat harus juga diimbangi dengan prestasi akademik di sekolah. Jadi, ketika saya mendapat prestasi di bidang lukis ini. Ambisi mendapatkan nilai bagus di sekolah juga jadi terpacu lebih tinggi lagi,” imbuh gadis yang juga hobi menyanyi dan menari ini.
Sambil mengutak-atik rambut panjangnya, Taza mengaku untuk kedepannya masih ingin berkompetisi di salah satu kompetisi lukis dunia lainnya. Yakni, bersaing di kompetisi Look and Learn di London. Ia menambahkan, sudah lima kali dirinya mengikuti kompetisi yang diadakan setiap bulan itu, tapi belum ada satu pun yang lolos.
“Setiap kali yang mendapatkan juara memang sudah langganan juara bertahan di event tersebut. Target terdekat bisa lolos di London, padahal sudah mencoba lima kali dikirim e-mail, tidak bisa lolos. Karena pesaingnya yang berat,” tandas gadis kelahiran 7 Februari 1999 ini.
Taza pun kini juga sedang proses belajar mencari teknik-teknik lukis yang baru dan berbeda supaya setiap orang yang melihat lukisannya tidak bisa menebak hasil karyanya. Ia bahkan mengaku telah bereksperimen melukis dengan menggunakan campuran air garam dan alkohol agar menghasilkan warna yang tergradasi secara sempurna.
Lebih lanjut, ia berpesan kepada anak muda yang merasa memiliki bakat di bidang apapun. Bahwa memiliki bakat akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan usaha untuk unjuk diri. Karena, dengan unjuk diri, seseorang akan mengetahui batasan mana yang ada pada dirinya sehingga dapat menjadi sebuah motivasi untuk lebih mengembangkan diri setinggi mungkin.
“Karena seni, itu bahasa seseroang untuk mengekspresikan karakter diri sendiri,” pungkas Taza. (sisca angelina/nugroho)