Yunus Erlangga Komikus Malang yang Go International

Satu lagi kartunis  asal Malang go international. Setelah Admira Wijaya yang bergabung dengan Art Director untuk Imaginary Friends Studios yang berbasis di Singapura dan Jakarta. Serta Toni Masdiono yang kerap  mendapatkan project komik dari negara India dan Singapura. Kali ini ada Yunus Erlangga, yang terpilih sebagai Official Artist untuk program World Toilet Day.
Bapak dua anak ini adalah kartunis, yang memiliki segudang prestasi. Kini tinggal di Jalan Bandara Narita, Oma View, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.
“World Toilet Day merupakan program UN Water,  di bawah naungan Unicef. World Toilet Day sendiri diperingati setiap 19 November,’’ jelasnya.
Ditemui Malang Post, Yunus santai mengenakan kaos polo warna cokelat tua dipadu dengan celana warna abu-abu tua. Di ruang tamu, puluhan gambar kartun berjajar indah dan sangat menarik. Ada delapan gambar yang ditempel di tembok. Satu gambar diletakkan pada sketsel menghiasi pojok kiri dan kanan ruang tamunya.
Tatanannya sederhana, dengan gambar dan pewarnaan yang sederhana pula. Namun, dari kesederhanaan tersebut, siapapun yang masuk rumah, pasti berdecak kagum.
 “Ini semua karya saya,’’ akunya bangga. Dia menyebutkan, dari delapan gambar kartun yang dipajang tersebut, semuanya sudah pernah dimuat majalah atau tabloid luar negeri.
“Saya memang mengirim. Kebetulan saya ikut agen di Belanda, dan agen inilah yang memasukkan gambar-gambar saya ke majalah-majalah luar negeri,’’ sambungnya. Bahkan, beberapa diantarannya juga pernah terpilih menjadi finalis. Salah satunya Yunus menunjukkan gambar kartun  senjata AK-47 dan di pucuk senjata terlihat dot susu.
Gambar tersebut masuk finalis dalam ajang World Peace International Cartoon 2014, yang digelar di Iran. Selanjutnya, dia menunjukkan gambar sebuah koper berisi senjata AK-47 dan burung merpati yang paruhnya menggigit dahan. Gambar juga menjadi finalis event kartun internasional 2012 lalu, di Norwegia.
“Semua gambar di sini saya sajikan dengan tidak verbal. Ada pesan jelas, karena di sini saya ingin masyarakat tidak sekadar melihat, tapi juga berpikir cerdas. Seperti gambar senjata ini,’’ tambah pria kelahiran 30 Mei 1970 ini.
Dia menjelaskan, gambar senjata dengan botol susu di bagian pucuknya merupakan sindiran terhadap maraknya anak-anak yang berada di negara-negara konflik menjadi gerilyawan, dengan senjata di tangan.
Termasuk gambar koper dan senjata, pesannya adalah perdamaian. Merpati menurutnya menjadi lambang perdamaian, sedangkan senjata AK-47 dalam kondisi terlepas pada masing-masing bagiannya.
Tapi paling menggelitik ada sebuah gambar toilet yang dipadu dengan gambar otak. Meskipun tidak menjelaskan detail pesan dari gambar tersebut, yang pasti sepintar apapun orang atau siapapun dia semuanya butuh toilet.
“Gambar toilet ini tahun lalu juga saya ikutkan dalam event World Toilet Day yang digelar Unicef. Tapi karena saya terlambat menyerahkan ya akhirnya tidak terpilih,” urainya.
Sebagai Official Artist, Yunus pun menceritakan ihwal dirinya ikut. Tahun 2014  dari seorang teman dia mendapat informasi tentang event ini. Yunus tidak berpikir panjang, dia pun mengirimkan tujuh gambar kartun saat ini. Tapi begitu, karena terlambat, karyanya pun tidak sempat masuk meja panitia. Hingga akhirnya Agustus 2015 lalu, dia kembali mengirimkan lima soft copy gambar kartun.
Yunus seraya tidak percaya, karena selain lima gambar yang dikirim, panitia juga mengikutsertakan gambar  yang dikirimnya tahun lalu. “Program ini kan berhubungan dengan air bersih dan sanitasi. Gambar yang saya kirimkan pun tidak jauh dari itu. Semuanya bergambar toilet,’’ terangnya.
Dia menyebut, program ini dibuat karena Unicef memiliki data 2,5 miliar penduduk di dunia tidak bisa mengakses air bersih dan sanitasi. Dan dari data Unicef juga 1 Miliar penduduk dunia, terpaksa buang hajat tidak di tempat semestinya.
“Dari data itu kemudian program ini dibuat. Dan dari data itulah, saya mengirimkan gambar-gambar kartun,’’ katanya.
Yunus mengatakan, menjadi kartunis merupakan pilihan hidup. Sekalipun dia tidak tergabung dengan perusahaan, dan memilih freelance dia mengaku tidak pernah kekurangan. Bahkan, puluhan juta bisa diraihnya setiap bulan dari kegiatan menggambarnya.
Dia mulai suka dengan kartun saat usianya masih sangat dini. Bahkan tahun 1978 lalu, dia ikut les gambar karton di Tino Sidin. Bakat tersebut sempat terhenti saat dia masuk SD dan SMP. Kalaupun dia menggambar Yunus hanya menggambar untuk konsumsi pribadi.
Hingga kemudian dia masuk SMA Alumni SMA Muhammadiyah I Jogjakarta ini mulai menggarap majalah. Yang menarik, majalah tersebut tidak hanya beredar di Jogjakarta, tapi seluruh pelajar Muhammadiyah di Indonesia.
Dari membuat majalah inilah, suami dari Agni Tripratiwi ini mulai mendapatkan penghasilan. Dia melanjutkan sekolah di ISI Jogjakarta. Yunus sendiri mulai masuk sebagai kartunis profesional tahun 2003. Dia mulai membuat kartun untuk cover majalah, dan ilustrasi. Dia bekerja kepada penerbit.
Tujuh tahun, kemudian Yunus mulai aktif dengan komunitas kartun luar negeri. Dan 2013 dia mulai MoU dengan agency yang berada di Belanda,  Norwegia dan Jerman. Pria yang suka dengan benda-benda antic ini juga kerap ikut lomba.
Yunus pun mengatakan, yang diperolehnya saat ini bukan langsung datang secara tiba-tiba. Sejak 2003 lalu, tidak hanya mendapatkan senang, tapi juga kekecewaan. “Saya tidak ingin membandingkan sebetulnya, tapi memang beda. Di luar negeri, karya kita sangat dihargai. Tapi di sini ya begitulah.,’’ urainya.
Dia menyebut saat ini bergabung dengan agency di Belanda CartoonMovement.Com. Ada dua warga Indonesia yang masuk dalam agency ini. Dan dua-duanya bukanlah kartunis terkenal di Indonesia. “Sementara dari negara lain, yang masuk dalam agency ini adalah kartunis-kartunis terkenal,’’ tambahnya.
Yunus sendiri sedikit bersyukur saat ini pemerintah sedikit membuka hati untuk para kartunis, atau komikus. Salah satunya pemerintah memberikan penghargaan kepada komikus Teguh Santosa. Dia pun berharap perhatian ini tidak hanya sekali itu saja, tapi terus ada setiap tahun.
Disinggung proyek besar yang saat ini dikerjakan, pria berkacamata minus ini sedang mengerjakan proyek pembuatan komik Sukarno. Komik ini diproduksi dalah satu studio di Belanda.
“Komiknya nanti terbit 75 halaman. Sekarang masih dikerjakan. Di komik ini menceritakan Sukarno tahun 1965-1967,’’ urainya. Dan yang membuat pria bertubuh kurus ini bangga dan sangat mengerjakan karena dia mendapatkan bayaran cukup tinggi. Yaitu setiap lembar komik digaji  200 euro.
“Jangan menyerah dan jangan takut  untuk membuat berkarya,’’ tandasnya seraya memberikan pesan kepada para kartunis lain, untuk terus menggambar, dan memanfaatkan teknologi untuk mengenalkan karyanya.(ira ravika/ary)