BNN Kabupaten Malang Keliling Desa Sosialisasi Narkoba

REHAB PECANDU : Drs. Mohammad Khoirul, MM, Kasi Rehabilitasi BNN Kabupaten Malang, bersama petugas lainnya saat menginterogasi pecandu narkoba untuk direhabilitasi.

BNN Kabupaten Malang Keliling Desa Sosialisasi Narkoba/sub
Libatkan Toga dan Tomas, Door To Door ke Rumah Pecandu//Judul

BADAN NARKOTIKA NASIONAL (BNN) Pusat, tahun 2015 ini membuat program gerakan nasional 100 ribu rehabilitasi penyalahguna narkoba. Untuk mencapai target itu, 75 persen ditanggung BNN, 15 persen Kementerian Kesehatan dan 10 persen Kementerian Sosial. Lantas bagaimana upaya BNN Kabupaten Malang berburu pecandu narkoba yang mau direhabilitasi.

Siang itu, cuaca sekitar Kota Kepanjen mendung. Awan gelap menyelimuti langit. Volume kendaraan baik roda dua dan roda empat yang melintas, masih cukup padat.
Di Kantor BNN Kabupaten Malang Kepanjen, beberapa petugas terlihat sibuk. Baik petugas BNN, Kepolisian, Kejaksaan, Kementerian Hukum dan HAM serta petugas dari Dinas Kesehatan. Mereka memeriksa dan menginterogasi sembilan orang pecandu narkoba secara bergantian.
Sembilan orang pecandu tersebut, adalah tersangka kasus narkotika yang ditahan di Polres Malang. Mereka didata dan diinterogasi, untuk dilakukan rehabilitasi. Karena tidak semua pecandu narkoba harus dihukum pidana, tetapi bisa disembuhkan dengan rehabilitasi.
"Mereka semuanya (sembilan tersangka narkoba, red) kami berikan rekomendasi untuk direhabilitasi. Tetapi nanti tergantung Hakim saat persidangan kasusnya. Yang pasti kami telah merekom mereka untuk direhabilitasi,"  Drs. Mohammad Khoirul, MM, Kasi Rehabilitasi BNN Kabupaten Malang.
Program rehabilitasi narkoba ini, dilakukan mulai Mei 2015 lalu. BNN Kabupaten Malang, semula menargetkan 310 pecandu untuk direhabilitasi. Namun sampai terakhir administrasi penjangkauan pecandu pada 20 November lalu, sudah mendapatkan 299 pecandu narkoba untuk direhabilitasi.
Untuk menggapai target dan mencari pecandu narkoba direhabilitasi, bukan urusan mudah. Karena selama sebulan lebih, BNN Kabupaten Malang harus sosialisasi pada masyarakat dengan keliling desa.
BNN harus menumbuhkan kepercayaan masyarakat tentang program rehabilitasi. Karena jangan sampai rehabilitasi hanya menjadi tempat berlindung para pengedar dari kejaran polisi.
Tokoh masyarakat (Tomas) dan tokoh agama (Toga) dirangkul untuk mendukung program gerakan nasional 100 ribu rehabilitasi. Toga dan Tomas tersebut, diminta untuk mendata warganya yang ditengarai sebagai pecandu narkoba.
"Mengapa Toga dan Tomas, karena mereka tidak akan dicurigai oleh para pecandu. Sedangkan kalau kami (BNN) atau polisi yang mendata, mereka akan curiga," tutur Khoirul.
Begitu ada data dari Toga dan Tomas, petugas BNN dengan didampingi Toga dan Tomas mendatangi mereka satu persatu. Atau door to door, dari satu rumah ke rumah pecandu lainnya.
Syarat utama pecandu narkoba untuk bisa direhabilitasi adalah niat untuk sembuh. Karena jika tidak ada niat, maka akan membuat kekisruhan di tempat rehabilitasi.
Mereka yang direhabilitasi juga wajib didampingi oleh wali ketika melapor. Hal ini berkaitan dengan pengawasan pasca rehabilitasi.
"Program rehabilitasi ini, masyarakat semula beranggapan kami yang mengikuti permintaan mereka. Kalau pecandu parah minta dirawat jalan, padahal harus direhabilitasi medis," ucapnya.
"Pernah ada niat dari pecandu narkoba untuk sembuh. Tetapi kami tahu bahwa ia sulit sembuh, karena juga mengidap HIV. Tetapi kami tidak bisa menolaknya untuk dilakukan rehabilitasi," sambung Khoirul.
Rehabilitasi ini, bukan segala-galanya untuk menghentikan para pelaku pecandu sadar dan tidak kembali pada dunia narkoba. Karena mereka bisa saja kembali terjerumus dalam dunia narkoba, jika mendapat iming-iming. Karenanya pasca rehabilitasi akan terus dilakukan pengawasan.
Dari 299 pecandu narkoba yang direhabilitasi, hanya lima persen saja pecandu narkoba dari luar Kabupaten Malang. Seperti Pasuruan, Probolinggi, Banyuwangi dan Madura yang tidak ada BNN. Sisanya dari Kabupaten Malang.
Usia pecandu yang akan direhabilitasi, adalah usia produktif 20 - 40 tahun. Ada juga usia di bawah 20 tahun sekitar lima persen, yang terpaksa direhabilitasi karena tingkat kecanduannya sangat tinggi.
"Bahkan ada juga anak sekolah yang direhabilitasi karena hilang ingatan sementara. Sehingga terpaksa kami rehabilitasi dengan memintakan izin ke Kepala Sekolah-nya," paparnya.
Tempat rehabilitasi di Kabupaten Malang adalah, RSJ Radjiman Wedyodiningrat Lawang, Puskesmas Gondanglegi, Hayunanta Medical Center Dau, Pesantren Rakyat Al-amin Sumberpucung, Yayasan Raden Sapu Jagad Kalipare, Padepokan Sawung Nalar Wajak, Yayasan Bina Husada Lawang dan Corpus Christi Lawang.(agung priyo/ary)