Pertama Ikut Lomba, Langsung Juara Desain Jembatan

KEBERHASILAN siswa, tidak bisa dilepaskan dari peran guru. Seperti Guru SMKN 1 Singosari bernama Supriyanto SPd ini, baru saja mengantarkan tiga siswanya meraih Juara Nasional Bridge Design Competition (BDC) di Semarang. Prestasi membanggakan ini, tentunya mempermanis peringatan Hari Guru Nasional.

Supriyanto adalah Guru Teknik Konstruksi Batu Beton (TKBB) SMKN 1 Singosari. Saat wartawan datang, ia tengah menyampaikan ilmu kepada anak didiknya. Tampak telaten saat menyampaikan pembelajaran di Kelas XII Jurusan TKBB.
Kebetulan, saat itu sesi terakhir pembelajaran. Sehingga, tidak sampai 10 menit dia bisa menemui wartawan Malang Post. Pria lulusan TTUC Bandung sekarang Politeknik TEDC Bandung ini berkisah tentang sukses di BDC Semarang.
Lomba skala nasional itu, diadakan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang pada 9-12 November 2015 yang lalu. “Ini merupakan lomba mendesain maket jembatan. Sebelum jembatan asli dibangun, harus ada maket maupun rancang bangunnya. Supaya saat membangun jembatan asli, lebih mudah lagi,” ujar Supriyanto kepada Malang Post.
Persiapan yang dilakukan untuk menghadapi lomba bergengsi tersebut selama empat bulan. Lomba ini, baru kali pertama diikuti oleh SMKN 1 Singosari. Selain itu, tantangannya sangat tinggi. Apalagi harus bersaing dengan 60 SMA sederajat terbaik dari seluruh Indonesia, yang biasa mengikuti ajang tersebut.
Sedangkan dia memilih tiga anak didiknya yang dianggap mumpuni dan andal dalam perlombaan itu. Mereka adalah Achmad Maulana, Fatur Rozikin dan Jiwanggo Warsito yang keseluruhannya adalah kelas XII TKBB SMKN 1 Singosari.
“Mulanya, kami mengirimkan proposal terlebih dahulu, sebelum mengikuti lomba itu,” imbuhnya.
Proposal itu, wajib diberikan. Mengacu kepada pembuatan jembatan pada umumnya. Mereka mengajukan jembatan Sukarno Hatta yang akan didesain maket dan dilombakan dalam BDC. Dewi Fortuna juga menaungi tim yang dibina oleh Supriyanto ini. Proposal tersebut, dinyatakan lolos oleh dewan juri.
Tim ini melangkah tahap kedua dan bersaing dalam tes wawancara bersama 40 sekolah lainnya. Merekapun lolos tes wawancara dan melaju pada final yang diikuti oleh 10 sekolahan. Pada final, mereka berlomba membuat maket. Bukan sembarang maket yang mereka buat.
“Usia dari jembatan Sukarno Hatta itu sudah lama. Sehingga, kami berupaya mencari solusi dengan membangunnya yang baru,” kata Supriyanto.
Ada dua kriteria yang dinilai pada lomba itu. Diantaranya lendutan dan beban maksimal dari jembatan itu. Sedangkan bahan pembuatan yang disediakan oleh panitia adalah dari kayu Balsa yang sangat langka.
“Hasil penilaian tim juri, maket jembatan yang kami buat mampu menahan beban hingga 58,5 kilogram,” tuturnya.
Menurutnya, hasil itu merupakan yang terbaik. Mengingat hanya UI yang mampu mempertahankan bebas 31 kilogram. Atas prestasi itu, mereka mendapatkan piala bergilir dari Rektor Undip, lantaran menjadi juara nasional dan juara favorit. Menurutnya, prestasi ini bukanlah tujuan utama. Melainkan, dia sebagai guru, bisa membagi ilmunya kepada anak didik dengan baik. Apalagi dia merasa senang, bila anak didiknya meraih prestasi.
Terlebih, dia juga ikut mendampingi untuk meraih Juara Nasional BDC tersebut. Hal ini tentunya merupakan hadiah terindah paa peringatan Hari Guru Nasional, kemarin. Meski demikian, momen Hari Guru Nasional ini akan dimanfaatkannya untuk menjadi lebih baik lagi, utamanya mencetak generasi penerus berkualitas.
 Sedangkan menurut Fatur Rozikin, Supriyanto merupakan sosok guru yang teladan. “Beliau itu sabar dan telaten mengajari kami. Sehingga, kami pun semangat mendapatkan ilmu dari beliau,” aku siswa ini. (Binar Gumilang/ary)