VJ Luwky, Visual Jockey Finalis Visual Mapping di Jepang

Profesi Visual Jockey (VJ) memang jarang dapat sorotan dibandingkan Disc Jockey (DJ). Namun demikian, Lucky Bayu Kurniawan, VJ sekaligus DJ domisili Blimbing adalah finalis Japan One Minutes International Projection Mapping Fest. Festival visual yang dihelat di negeri sakura Jepang. Seperti apa profesi visual jockey, simak tulisannya berikut ini.

 
Bagi para penikmat entertainment club dan dunia malam, profesi DJ sudah sangat populer dan lumrah. DJ memainkan musik di atas deck, untuk mengangkat atmosfer klub agar semakin enak untuk nge-dance. Namun, bukan hanya DJ saja yang berperan mengangkat suasana dan atmosfer dugem.
VJ atau Visual Jockey adalah seniman lain yang ikut menyutradarai suasana visual night club saat sedang menghibur para pengunjung. Berbeda dengan Disc Jockey yang mengandalkan mix dari lagu-lagu, VJ adalah seniman visual sekaligus audio. Dia mengatur proyektor berteknologi canggih serta tayangan visual video untuk mengubah suasana klub malam.
Efeknya, suasana klub malam lebih berwarna. Efek laser visual, perubahan warna background, adalah hasil kerja dari VJ. Mereka, biasanya selalu bekerjasama dengan DJ untuk membaca suasana klub dan memberi efek visual yang pas. Lucky Bayu Kurniawan, adalah VJ sekaligus DJ domisili Blimbing yang mulai naik daun di kalangan pecinta dunia malam dan night club.
VJ Luwky baru saja menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi finalis One Minutes International Projection Mapping Festival di Jepang bulan Oktober 2015 lalu. Luwky menyingkirkan 60 peserta dari berbagai negara untuk menembus event puncak lomba konsep visual se-dunia ini.
“Setahu saya sih, cuma saya orang Indonesia yang masuk final di Jepang. Tapi, saya saat itu gak bisa hadir ke Jepang karena ada project lain. Akhirnya, saya hanya lihat karya visual mapping saya ditayangkan di event tersebut lewat visual,” kata Luwky kepada Malang Post, ditemui di Pujasera Taman Trunojoyo, Malang Post Jalan Sriwijaya, Rabu dini hari kemarin.
Dalam final lomba visual mapping ini, VJ Luwky menampilkan satu menit tayangan visual proyektor dengan tema gedung yang sudah diberikan panitia lomba. Dalam satu menit, VJ Luwky harus memikirkan konsep kreatif untuk menutup gedung dengan visual mapping bertema cross cultural Indonesia-Jepang.
“Saya langsung memikirkan kombinasi adat Indonesia dan Jepang. Saya pakai konsep bangunan rumah khas adat Bali dan tradisional Jepang. Lalu boneka Kokeshi khas Jepang, dipadu dengan pakaian batik. Dengan konsep ini, saya sukses jadi finalis lomba visual mapping internasional,” sambung pria 27 tahun itu.
Menurut Luwky, kategori penilaian dari  lomba visual mapping ini bukanlah sekadar pamer kecanggihan teknologi dan alat visual. Namun, sulung dari dua bersaudara itu mengatakan bahwa kreativitas serta konsep visual mapping adalah kategori penilaian utama. Sebab, VJ harus bisa menampilkan karya dan konsep visual secara tepat dan cepat, sembari membaca situasi dan atmosfer penonton.
“Yang dilombakan konsep, jadi kita murni mengandalkan konsep dan kreativitas untuk visual mapping dalam satu menit,” kata pria yang juga tim Creative Media Development di Indigital Camp, penggarap konsep visual Jatim Park Grup ini.
Luwky sendiri tidak menyangka bisa menjadi finalis di lomba visual mapping internasional itu.
Sebab, dia baru mendapat kabar tentang lomba ini H-3 deadline pengiriman sample visual mapping kepada panitia.
Luwky mendapat informasi dari para VJ internasional yang jadi teman di Facebook-nya. Pemilik akun Instagram @luwky_vj ini mengatakan, kreativitas itu menjadi nilai utama sebuah karya, meskipun software visual yang dipakai untuk karyanya, open source alias gratis.
“Saya hanya dapat waktu tiga hari untuk bikin konsep ini. Saya pakai software yang free dan open source, Blender untuk bikin konsep visual ini. Teknologi memang penting, tapi konsep dan kreativitas yang paling penting,” sambungnya.
Selain menjadi konseptor visual di klub malam, pria yang mendalami Visual Jockey sejak 2010 ini juga menjadi pendesain dan pembangun bioskop 360 derajat pertama di Indonesia. Yakni, dome theater di Surabaya Carnival, dan bioskop tiga dimensi Hanoman di Eco Green Park Batu. Baru dua tempat ini yang memakai konsep bioskop 360 derajat buatan Luwky.
“Saya yang menggarap konsep visual di Museum Angkut, Eco Green Park, Surabaya Carnival, dan yang tebaru adalah Predator Fun Park Batu. Konsep bioskop 360 derajat Hanoman di Eco Green juga yang pertama di Indonesia dari hasil karya saya,” papar alumnus Diskomvis UM dan SAE Institute Indonesia ini.
Selain menggarap konsep visual di taman wisata, profesinya sebagai VJ juga terasah di event-event klub. Lucky, pernah ikut jadi Visual Jockey di event EDM terbesar di Bali, Ultra yang dihadiri para DJ internasional. Dia juga menjadi konseptor event seperti Borneoland Fest dan Electro Lion Malang.
“Kalau jadi VJ di Ultra, itu hanya karena saya nonton ke sana saja. Pengennya hanya lihat dan menikmati suasana. Tapi, ada VJ yang kenal dengan saya, langsung ngajak manggung juga. Akhirnya saya ikut bantu VJ di Ultra Bali,” paparnya.
Bakat serta talenta Luwky, bukan hanya sebagai konseptor visual dan Visual Jockey saja. Usut punya usut, Luwky ternyata juga seorang ghost producer muda. Sebelum menekuni Visual Jockey, Luwky adalah seorang produser electro music yang jadi supplier lagu dan aransemen untuk grup-grup musik nasional.
“Saat lagi tren boyband, saya yang garap aransemen dari SMASH serta episode full Galaxy Superstar ajang pencarian bakat boyband. Saya bikin lagu dan aransemen sesuai keinginan mereka. Ada yang beli putus, tapi ada juga yang masih beri credit title untuk aransemen saya,” tandas Luwky.(fino yudistira/ary)