Dihargai Sejumlah Negara, Dapat tawaran Beasiswa Korea University

MEMBANGGAKAN : Wahid Hasyim Asyari Samalo memamerkan karya ciptaannya yang bisa tembus ke Thailand dan sejumlah negara.

Siswa SMA Surya Buana Bikin Alat Deteksi Kerusakan Listrik

Siswa SMA Surya Buana, Wahid Hasyim Asyari Samalo berhasil menciptakan alat pendeteksi kerusakan listrik. Berkat alat ciptaannya itu, Wahid sapaan akrabnya, meraih beberapa medali emas, perak, dan perunggu dari beberapa negara. Bahkan ia juga mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan studi di Korea University.

Wahid ini pada mulanya membuat alat yang bisa mendeteksi tegangan dan arus listrik. Namun, ia berinovasi lagi untuk mengembangkan alatnya. Ia mulai merancang alat pendeteksi kerusakan listrik sejak duduk di bangku SMA.

“Saya terinspirasi dari kerusakan listrik di rumah, kalau ada detektor kerusakan akan lebih praktis,” ungkap siswa yang saat ini duduk di bangku kelas XI SMA ini.
Alat pendeteksi kerusakan ini juga telah diuji oleh beberapa ahli. Saat di rumah pun ia juga memasang alat ini untuk mendeteksi kerusakan listrik sejak dini. Pelajar kelahiran Ambon ini mengaku ingin membantu orang tuanya mendeteksi kerusakan listrik di rumahnya.
“Di rumah Ayah buka usaha percetakan, kalau ada kerusakan yang tidak diketahui, otomatis pekerjaan akan terbengkalai,” ujarnya.
Menurutnya, alat ini memang diciptakan pada mulanya untuk membantu pekerjaan sang ayah saja. Namun, setelah ia bersekolah di SMA Surya Buana, ia diwadahi oleh pihak sekolah untuk lebih mengembangkan alatnya agar lebih baik.
Pada awalnya dulu alat ini belum sesempurna sekarang. Dulu hanya berupa rangkaian dan belum ada pelindungnya. Setelah dibantu oleh guru, alat ini ia perbaiki agar tampilannya lebih bagus. Selain itu, dulunya tidak ada alarm pada alat deteksi ini. Sekarang, ia telah menambahkan alarm pada alatnya. Sehingga ketika alat ini dipasang dekat kwh meter, apabila terjadi kerusakan alarm akan berbunyi. Kerusakan pada listrik akan cepat diketahui dengan alat ini.
Pada saat perlombaan di Thailand pada awal tahun 2015 ia berhasil membawa pulang medali perak. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan penghargaan atas inovasinya di bidang kelistrikan. Sebagai anak yang usianya masih muda ia telah berhasil memukau para juri di Thailand.
Selain itu, ia juga pernah mendapatkan penghargaan spesial dari Malaysia atas inovasinya. Bahkan dari Kroasia, ia juga berhasil mendapatkan medali emas dan baru-baru ini ia juga mendapatkan penghargaan dari Kroasia atas prestasi yang telah diraihnya.
Pembina Yayasan Surya Buana, Sri Istuti Mamik pada dasarnya ingin mengurus hak paten atas alat deteksi milik Wahid ini.
“Sepulangnya dari Taiwan nanti, kami akan membantu Wahid mengurus hak paten atas alatnya,” ujar Mamik.
Menurutnya, hak paten atas alat ini diperlukan agar alat ini tidak ditiru oleh pihak lain. Karena sudah banyak pihak yang ingin membeli alat ini. Saat ia mengikuti pameran teknik di Korea Selatan, alat ini sempat ingin dibeli oleh tim dari Jepang, namun ia menolak.
“Ini karya saya, kalau mau beli nanti saja kalau sudah diproduksi massal,” ungkap lelaki berkacamata ini kepada Malang Post.
Siswa sekaligus santri di Pondok Pesantren Surya Buana ini tidak selalu mendapatkan keberhasilan. Pada awal menciptakan alat deteksi kerusakan listrik ini ia kesusahan mencari bahannya. Di samping itu, pengetahuan yang ia dapatkan di sekolah menurutnya masih belum cukup untuk menyempurnakan alat ini.
Ia dibantu oleh salah satu guru karya ilmiah di SMA Surya Buana, Mardiyah, untuk menyusun alat ini. Mardiyah membantu Wahid untuk menentukan teori apa yang akan dipakai pada alatnya.
“Teori ralat yang saya terapkan untuk membuat alarm pada alat saya ini dibantu oleh Bu Mardiyah,” ungkap santri asal Ambon.
Alarm dipasang agar kerusakan listrik dapat dengan mudah diketahui. Bahkan setelah disempurnakan, alat ini menurutnya lebih sensitive. Ketika listrik berjalan dengan kecepatan sangat rendah, alat ini akan mendeteksi apa yang sedang terjadi pada arus maupun tegangan listrik tersebut.
Wahid ingin alatnya dapat diproduksi secara masal. Karena menurutnya alat akan semakin berfungsi jika dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Namun, usahanya untuk memproduksi alat ini secara masal masih terkendala biaya. Kalaupun ada perusahaan atau sponsor yang bersedia memberikan dukungan finansial kepadanya, ia bersedia memproduksi alat ini dengan jumlah yang cukup banyak.
Rencananya, bulan Desember 2015 mendatang ia akan kembali berlaga pada ajang internasional di Taiwan. Namun, berbeda dengan biasanya. Nanti ia akan membawa alat baru yang telah dirancangnya, yaitu alat pendeteksi penyakit pada tubuh manusia.
Akan tetapi, alat baru ini masih belum sempurna. Ia belum menemukan pelindungnya, sehingga di Taiwan nanti ia akan mempresentasikan karyanya dalam bentuk flow chart. Ia berharap alat baru yang diciptakannya ini juga dapat diterima oleh masyarakat kelas internasional.
Berkat prestasi gemilang yang diraihnya, ia mendapatkan tawaran dari beberapa universitas untuk melanjutkan studinya secara gratis. Salah satunya adalah Korea University. Ia mengaku pada bulan Agustus 2016 mendatang ia akan mengikuti pameran di Korea sekaligus mendaftarkan diri sebagai calon penerima beasiswa di Korea University. Ia ingin membuktikan pada dunia bahwa warga negara Indonesia juga dapat menciptakan inovasi dalam bidang-bidang tertentu. (Lailil Hidayah/ary)