Pebalap Gerry Laurent Salim Ukir Prestasi di Jepang

MUDA dan bertalenta, siapa yang tidak terkesan? Di dunia otomotif tanah air, nama Rio Haryanto mungkin sudah familiar karena bermain di balap internasional. Akan tetapi, ada sosok Gerry Laurent Salim, yang tak kalah berjuang mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Kepada  Malang Post, pembalap andalan Jatim   yang  baru pulang dari Jepang ini menuturkan All Japan Championship, merupakan ajang balap di Jepang  diikuti oleh pebalap berusia 18 tahun itu. 2015 ini, merupakan keikutsertaan kedua dan menjadi satu-satunya asal Indonesia yang bersaing dengan 34 pebalap lain dan berusia muda. "Sebagian besar merupakan pebalap dengan usia 15-20 tahun," ujarnya.
Gerry yang bergabung dengan Astra Honda Racing Team, mencatat hasil mengesankan di tahun ini. Posisi kelima overall, menjadi hasil yang bagus di ajang balap, yang kerap menjadi lompatan bagi pebalap muda, sebelum turun ke Moto3 hingga ke MotoGP. Jauh lebih baik ketimbang nomor 31 di tahun sebelumnya.

Bahkan, di ujung kompetisi, putra dari pebalap Gunawan Salim ini sempat merasakan podium sebagai juara ketiga. Raihan itu, membuat namanya diperhitungkan untuk kompetisi tahun depan. "Jika tahun depan turun lagi di All Japan Championsip. Siapa tahu sudah beralih ke Moto3 di Spanyol," beber dia.
Menurut dia, Moto3 akan memperbesar peluangnya tampil di Moto2 dan MotoGP. Dengan catatan, di Moto3 dia bisa berbicara dengan pebalap lain. "Berkaca pada pengalaman, setiap kelas saya butuh waktu satu musim untuk belajar dan mencatat hasil maksimal di musim berikutnya. Tetapi, dilihat saja musim depan," tegasnya.
Diakuinya, MotoGP memang goal darinya, yang total di dunia balap. Termasuk ketika harus bolak-balik Jepang-Indonesia, karena statusnya yang masih menjadi pelajar, hingga pertengahan tahun ini. Untungnya, antara seri satu dan seri berikutnya, terdapat jeda sehingga terkadang dia bisa pulang ke tanah air.
Menurut pebalap jebolan Honda Racing School ini, bermain di persaingan internasional, banyak tantangannya. Akan tetapi, ketika mendapat hasil, podium misalnya, yang bangga bukan hanya dirinya. Team yang dibela, hingga nama negara yang menjadi perbincangan. Itu pula yang kerap dibagikan kepada siapapun yang ingin terjun di ajang balap internasional.
"Bayangkan, harus jauh dengan keluarga. Push dari klub serta membiasakan dengan kondisi di tempat baru. Misalkan soal makanan, budaya dan juga rasa kangen dengan masakan Indonesia," beber  pria asal Surabaya ini.
Balap, juga tidak hanya duduk di atas motor, menggeber gas dan bersaing di atas lapangan. Kuat mental, maka fisik juga wajib digapai. Apalagi, ketika tim sekelas Honda yang dibela. "Tujuan mereka pasti tidak hanya memainkan saya di All Japan Championship. Saya harus mengikuti rule," tambahnya.
Gerry berbagi pengalaman untuk mendapati fisik yang ideal dan prima. Ketika hendak berlomba, berat badan pun diukur. Pernah, ketika awal kompetisi, berat badannya sangat kurang. Alhasil, dalam hitungan hari, adik dari Tommy Salim ini harus menambah berat badan. "Saya dipaksa makan tuna dan beberapa jenis ikan lain. Ditambah berlatih fisik agar tubuh berisi," sebut dia.
Menurut dia, personal trainer untuk fisik pun disediakan oleh tim. Gerry mesti tinggal di apartemen dan mendapat pantauan aktivitasnya. "Mereka juga total untuk membentuk didikannya," tegas alumnus SMA 2 Giki Surabaya tersebut.
Namun, hal ini menjadi pelajaran baginya yang sejatinya sudah mencatat raihan bergengsi di ajang balap junior. Selain masuk dalam godokan Honda Racing School, Gerry pernah menjadi runner up Asia Dream Cup 2013. Tahun lalu, dia juga sempat menjadi peserta wild card Moto3.
"Saya belajar dari didikan HRC, yang hampir sama ketika di Jepang. Riding skill, fisik, mental dan way of thinking, itu yang ditekankan. Tujuannya, untuk menghasilkan pebalap berkualitas," urai dia.
Menurut dia, pebalap di Indonesia harus mau bekerja keras dan memiliki cita yang besar. Pasalnya, pemandu bakat juga melirik talenta di tanah air, melalui pabrikan otomotif. Termasuk dia yang bersinar karena didikan tim Honda.
Kepada pebalap tanah air, termasuk ketika di Malang, Gerry berharap untuk talenta muda khususnya, mau berusaha maksimal. Masalah hasil, nomor berikutnya. "Termasuk jika ada yang dari Malang. Pasti ada bibit, sehingga Malang pun sering menjadi tempat untuk even nasional," pungkas dari anak asuh dari Franky Laurens, mantan racer tangguh di tahun 1990an itu. (stenly rehardson)