Robby Hidayat Konsisten Menulis Topeng Malang

Ketika seseorang menuturkan kata Topeng Malangan, seorang Drs. Robby Hidayat,M.Sn., akan langsung mengkoreksinya. Inilah yang terjadi saat penulis mendatangi dan melontarkan kata Topeng Malangan kepada seniman aktif, penulis buku dan pelestari koleksi Topeng yang ada di Malang.
“Ketika saya mendengar orang menyebutkan Topeng Malangan, saya langsung akan mengkoreksinya. Apa yang anda pikirkan ketika mendengar akhiran –an dibubuhi di sebuah kata benda seperti buah misalnya. Buah-buahan, pensil-pensilan, itu kan seperti palsu dan tidak asli,” jelasnya tegas saat ditemui di kediamannya di Jalan Janti Selatan No. 6 Malang, Minggu (29/11/15)
Ia melanjutkan, masyarakat harus membiasakan untuk menyebut Topeng Malang seperti adanya. Masalahnya, Robby menambahkan, tidak banyak yang memperdulikan warisan budaya Topeng Malang seperti ini bahkan dengan cara menyebutnya sekalipun.
“Topeng Malang merupakan karya orisinil yang berkarakter yang harus terus dilestarikan. Bukan hanya sekedar nama saja,” papar pria kelahiran 1960 ini.
Ia kemudian menuturkan, Topeng Malang dalam lakonnya memiliki karakteristik yang khas dan lakonnya merupakan kisah perjalanan historis yang diyakini sebagai simbol penyatuan antara individu dan pribadi antara rakyat dan raja.
Robby yang senang memakai blangkon ini mengatakan kembali perihal filosofi lakon Topeng Malang yang orang banyak belum begitu mengetahuinya.
“Penari yang tampil menyembunyikan wajah sebagai simbol penyatuan, artinya, kehadiran individu tidak ingin diketahui jati dirinya. Oleh karena yang didalam itu, bukan yang di luar. Namun, yang di luar itu sejatinya berada dengan didalamnya,” ceritanya sambil memainkan salah satu koleksi Topeng Malang nya.
 Pria yang memiliki 50 jenis Topeng Malang ini menuturkan, publik baru mengetahui bahwa terdapat satu jenis Topeng Malang yang saat ini dikira telah hilang, ditemukan kembali.
“Topeng Malang tersebut adalah Topeng Ragil Kuning yang merupakan satu dari sedikit Topeng generasi pertama Malang yang dibuat langsung oleh salah satu pencetus Topeng Malang, Mbah Reni,” ujar pria yang saat ini tengah menempuh studi S-3 di Institut Seni Indonesia.
Saat mengetahui bahwa Ragil Kuning ini telah ditemukan, Robby dengan sigap langsung mengkontak penemu Topeng tersebut, Yudit Perdananto salah seorang kolektor karya seni di Malang, yang juga kebetulan temannya sendiri. Barulah, ia dan kawannya tersebut menggagas Kirab Pusaka Topeng di Polowijen pada 15 September lalu.
Ia menjelaskan, Topeng jenis Ragil Kuning ini satu-satunya, tidak akan dapat dilihat selain di Malang, alias satu-satunya di dunia. Ia pun mewanti-wanti kawannya tersebut untuk tidak diduplikasi lebih banyak agar menjaga keorisinalitas dan kesakralan topeng yang selama ini dikira hilang tersebut.
“Ragil Kuning ini karakternya wanita. Sebenarnya dia merupakan sebuah karakter dalam lakon Topeng Malang berkisah tentang asmara antara lakon-lakon seperti Panji, Kelana, Sekar Taji, Gunung Sari dan Bapang,” imbuh pria asli Malang ini.
Lebih lanjut, ia menerangkan, terdapat kurang lebih 76 jenis Topeng Malang yang terdata. Namun, hanya sebanyak 15 – 20 jenis saja yang populer dimainkan dalam lakon Tari Topeng. Inilah yang disayangkan dari perkembangan Topeng Malang di Kota Malang saat ini.
Penulis buku “Mozaik Koreografi” ini mengatakan seniman Topeng Malang yang ada di Malang seperti Seniman Topeng Jabung dan Kedungmonggo sebenarnya masih banyak memiliki jenis topeng yang belum dipublikasikan.
“Sebenarnya masih banyak warga asli Malang yang memiliki warisan jenis topeng yang belum kita semua ketahui. Kebanyakan memang warisan keluarga, dan mereka takut untuk memperlihatkannya ke hadapan publik,” jelas Robby yang masih aktif mengajar seni tari di Program Pendidikan Seni Tari Fakultas Sastra di Universitas Negeri Malang.    
Ketakutan yang dialami oleh mereka, terlebih yang dikategorikan warga yang sudah menginjak usia renta, salah satunya adalah traumatik akibat peristiwa G30 S PKI pada tahun 65. Di mana, pada jaman itu, orang-orang yang memiliki karya seni tradisional akan ditangkap dengan alasan yang tak jelas.
Namun, ia melanjutkan, jika dikaitkan dengan isu yang sekarang, ketakutan terbesar pemilik asli jenis Topeng Malang yang masih tersembunyi keberadaannya ini adalah aksi duplikasi.
“Dan dengan ditambah akses modern saat ini, warisan Topeng Malang yang belum masih tersimpan tersebut akan tetap tersimpan sampai akhirnya akan menghilang tidak diketahui masyarakat,” jelasnya.
Maka, ia menambahkan, Kirab Polowijen yang diselenggarakan beberapa waktu lalu itu,  diharapkan dapat memberikan semacam energi kebanggaan bagi warga yang juga memiliki kepedulian yang sama untuk melestarikan Topeng Malang. Dan akan mengerti bahwa Topeng Malang merupakan warisan seni yang patut diketahui banyak orang.
Robby Hidayat sampai saat ini telah menulis lebih dari 20 buku perihal seni dan Topeng Malang. Buku terakhirnya yang berjudul “Makna Simbolis Wayang Topeng Malang” yang rencananya akan dilaunching segera masih terhambat masalah dana. Sehingga masih belum dapat secara resmi diterbitkan ke khalayak publik.(Sisca Angelina/ary)