Fahrul Khakim Penulis Muda yang Sempat Alami Jatuh Bangun

Sempat ditolak beberapa kali oleh penerbit, kini tulisan seorang Fahrul Khakim berhasil mengukir prestasi dalam berbagai ajang nasional bergengsi. Baru-baru ini ia didaulat sebagai delegasi Gagas Media dan Tripanzee untuk menghadiri even Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang diselenggarakan awal November 2015 lalu.

Lebih dari 165 penulis dari 25 negara berbeda berkumpul bersama membahas ide besar dan cerita-cerita inspiratif. Ditemui disela-sela kesibukannya sebagai seorang penulis dan juga mahasiswa S2 Universitas Negeri Malang, pria bernama asli Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim ini menceritakan pengalaman menariknya dengan sangat antusias. Perjalanan yang dilewati hingga saat ini ia akui sangat tidak mudah. Persaingan yang ketat tidak membuatnya patah semangat untuk terus berkarya dan mengharumkan nama bangsa..
“Untuk mengikuti festival ini setiap bulan saya selalu mengirimkan naskah, dari bulan Maret sampai dengan bulan Juli. Empat bulan pertama tulisan saya dianggap belum menarik, dan di bulan terakhir ternyata karya saya ini diterima. Padahal waktu itu saya juga sempat pesimis,” tutur pria kelahiran Tuban ini
Tulisan yang ia boyong untuk ikut serta dalam festival ini adalah cerita perjalanannya selama bernostalgia di Tulungagung bersama sahabatnya. Dalam tulisannya ini dia tidak hanya berbasa-basi menuliskan keindahan panorama pantai yang ia kunjungi.
Namun ia juga tidak lupa mengajak para pembacanya untuk mencintai dan menjaga kelestarian pantai. Menurutnya ini merupakan salah satu kekuatan tulisannya ini, sebab penilaian utama yang telah ditetapkan adalah pada nilai guna dari sebuah perjalanan yang dilakoni.
“Inti penilaian untuk tulisan perjalanan ini bukan kemewahan dari sebuah perjalanan, namun hikmah yang dapat diambil dari perjalanan itu, ’’ ujarnya
Selama melakukan perjalanan, dia dan temannya memunguti sampah yang berserakan, dan aksinya dilihat masyarakat.
‘’Dengan ini saya berharap masyarakat akan lebih menyadari arti penting sebuah lingkungan. Saya pun belajar banyak dari tulisan saya sendiri,” jelasnya.
Sulung empat bersaudara ini beberapa kali menyabet piala dalam berbagai ajang bergengsi termasuk ajang nasional. Beberapa prestasi yang pernah ia raih diantaranya adalah Juara satu lomba menulis cerpen Malang Post 2011 tingkat Nasional, Juara dua lomba cerpen retakan kata 2012 tingkat Nasional.
Serta 15 Cerpen terbaik lomba cerpen nasional korean wave ufuk publishing 2012, 10 terbaik sayembara menulis cerpen FLP ranting UM Se Jawa Bali 2012 kategori umum, nominator terbaik lomba cipta cerpen tingkat Mahasiswa Se-Indonesia 2013 LPM OBSESI STAIN Purwokerto.
Dia juga  pemenang unggulan (juara 5) lomba menulis cerpen hutan dan lingkungan perhutani Green Award 2014 Nasional kategori umum,  juara satu lomba menulis cerpen Nasional HUT Buku Untuk Papua 2014, juara dua lomba blog prioritas land indonesia 2014 tingkat Nasional.
Prestasi paling berkesan yang pada akhirnya mampu membawanya terus berkarya hingga saat ini adalah ketika meraih juara satu  lomba menulis cerpen Malang Post 2011 tingkat Nasional. Ketika itu dia berhasil menyisihkan banyak pesaing yang memiliki kualitas tidak main-main, termasuk di dalamnya adalah mentornya sendiri yang saat itu meraih juara dua.
“Mas Mashdar Zainal sampai mendatangi saya dan menepuk bahu saya sambil mengucapkan selamatnya. Saya sangat tidak percaya, karena peraih juara ke dua adalah mentor saya sendiri,’’ akunya.
Sejak saat itu motivasinya untuk menulis semakin tinggi. Dia semakin lebih berani dalam mengekspresikan tulisan. Tidak hanya berhenti menulis cerpen, ia mulai mengembangkan sayapnya dengan menulis beberapa novel.
Karyanya tergolong sering ditunggu para penggemarnya. Tidak jarang ia diberondong banyak pertanyaan dari rekan-rekan dan penggemarnya di media sosial. Karya terbarunya yang hingga saat ini masih bisa ditemui disemua toko buku di Indonesia adalah novel berjudul Hiding My Heart dan Dandelion Lover. Dua karyanya ini diterbitkan dalam waktu yang berdekatan.
Perjuangan untuk menerbitkan karyanya tidaklah mulus, karena beberapa kali ia mendapat penolakan. Bahkan ia harus menunggu hingga satu tahun lamanya untuk mendapat jawaban dari penerbit.
Hobi menulis yang sudah ia tekuni sejak masih SMP ini terus ia kembangkan. Berbagai saran dari keluarga, teman, dan sahabatnya selalu dihimpun dengan baik. Termasuk salah satunya adalah saran untuk ‘mendapat nama’.
Pengakuan akhirnya ia dapat melalui berbagai karya yang ia tulis dan diterbitkan dalam media massa. Setelah ia melewati fase susahnya menembus media massa, kini karyanya pun mampu diterima masyarakat secara luas. Sebuah kebanggaan tersendiri baginya, karena karyanya ini dapat menghibur siapapun dan dari kalangan manapun.
Tidak hanya puas di situ saja, ia juga telah merencanakan sebuah projek baru. Latar belakangnya sebagai mahasiswa jurusan Sejarah akan ia kembangkan melalui tulisannya. “Ke depannya saya akan memulai menulis naskah drama sejarah. Harapannya masyarakat akan lebih mudah mempelajari sejarah bangsanya sendiri. Sejauh ini saya juga sedang konsentrasi membuat puisi sejarah, dan banyak yang dimuat Malang Post, (sambil tertawa lebar). Teman-teman saya juga banyak yang memanfaatkannya sebagai media pembelajaran,” tutupnya.(Pipit Anggraeni/ary)