Zaenal Arifin Pelukis Kota Batu yang Piawai Bikin Lagu

Seniman Zaenal Arifin sedang memainkan gitar, saat ditemui Malang Post di Sidomulyo, Gang Modes RT 2 RW 9, rumahnya. Sesekali pulpen di tangan menulis di selembar kertas. Dibanding membuat lukisan, Zaenal sapaan akrabnya, kini lebih sering membuat lagu.
"Sebenarnya sejak kecil di bangku Sekolah Dasar (SD), suka menggambar dan melukis, sebelum sekarang ini senang membuat lagu," ungkap pria 51 tahun ini.
Bidang seni yang dia tekuni awalnya adalah menggambar dan melukis. Sejak kecil, suka menggambar tentara yang sedang perang.
“Kalau.ada tugas di.sekolahnya pasti hasil gambarnya, mendapat nilai bagus,” aku alumni SDN Sidomulyo 2 ini.

Kegemaran tersebut, membuat ayahnya, sampai sering membelikan buku gambar dalam waktu dua hari sekali, karena keseringan menggambar. Ia malah tidak suka menggambar tema tentang pemandangan, ataupun hewan. Sebab, tantangannya lebih sulit dibandingkan menggambar orang ketika sedang perang. "Hasil gambar saya, mendapat apresiasi dari guru-guru dinilai sangat bagus, beberapa guru ingin memberikan pembinaan khusus," papar alumni SMP Muhammadiyah 4 Batu ini.
Kali pertama ikut lomba menggambar dan melukis setelah lulus SD adalah di tingkat kota. Menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP), terus mengembangkan bakatnya. Jika teknik menggambar dulu masih menggunakan manual, dan ada sedikit orang sudah menggunakan rugos.
"Dulu kala menggambar masih memakai teknik manual dengan rugos, yang sudah terbentuk pola seperti bentuknya mobil, huruf dan angka. Jadi tinggal menggosok ke media kertas saja," terang pria kelahiran Malang, 20 September 1965 ini.
Pada tahun 1982, pria berambut panjang ini, mengikuti pameran lukis dalam rangkan Malam Dana Galunggung, ketika Gunung Galunggung meletus. Dari hasil karya yang dipajang di Galeri Raos membuatnya, dikenal dibanyak kalangan para seniman di Kota Batu dan Malang.
Kemudian, menginjak Sekolah Tinggi Menengah(STM) ia mulai aktif bergabung dengan organisasi seniman di Malang Raya. Dari organisasi tersebut, pria dua bersaudara ini, mulai belajar mencoba mendalami seni teater meliputi seni peran, musik, penulisan puisi dan syair lagu.
“Saya sudah mengerti sedikit banyak seni lukis, saya akan mencoba mengikuti seni teater,  musik dan menulis syair. Dari organisasi itu, banyak pementasan yang mengundang dirinya, untuk mengisi kegiatan acara tersebut,” tegasnya.
Pada tahun 2006, ia diundang salah satu sastrawan Indonesia Sindhunata dalam kegiatan seni rupa yang mengusung tema A Beautiful Death keliling Jogja, Surabaya Bali, dan Malang. Seniman yang mengikuti ada 66 orang seluruh Indonesia.
“Saya memamerkan seni lukis bertajuk Sejatine pati gapurane urip kang sejati. Karena temanya memperingati kematian ibunda Sindhunata yang bernama Suningsih,” tuturnya.
Ia sendiri kemudian  mulai menggemari puisi pada tahun 2004, ketika ada kejadian bencana alam, kematian, kebakaran hutan. Pria ini, menulisnya dengan catatan yang menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia.
Setelah menjadi sebuah sajak puisi atau lirik, kemudian ia aplikasikan ke sebuah lagu dengan iringan musik gitar.“Pada waktu itu kejadian  tsunami di Aceh, saya menulis catatan puisi menjadi sebuah lagu berjudul ‘Nanggroe Aceh Menangis,” urainya
Menurutnya, lagu yang sudah diciptakan tidak dipublikasikan secara masal, hanya dipertunjukkan ketika ada pameran yang diadakan oleh seniman saja. Sekarang ini, ia sudah mengantongi sekitar 30 lagu ciptaannya sendiri, di mana liriknya terinspirasi dari fenomena di sekitarnya.  
“Judulnya ada Nanggroe Aceh Darusalam, Wingit, Renungan Bentang Hijau, Kematian Angeline, dan lainnya,” tuturnya.
Kenangan yang membuatnya bangga, ketika ia menyanyikan sebuah lagu ciptaannya tentang kebakaran hutan di Galeri Raos, Kota Batu. Ada salah satu wisatawan dari Perancis menghampiri dan memberikan apresiasi atas musikalisasi puisinya.
“Saya dihampiri orang Perancis saat pentas, dan ia sangat senang dengan lagu yang saya bawakan. Malah ingin meminta liriknya, yang berjudul Renung Bentang Hijau,” pungkasnya.(Imam Syafii/ary)