Dari Buruh, Jatuh Bangun hingga Miliki Pabrik Sendiri

SOSOK Suroyo bisa menjadi inspirasi bagi para pemuda. Pengusaha kerupuk asal Kecamatan Kepanjen ini, termasuk orang yang tangguh. Meskipun beberapa kali usaha kerupuknya mendapat cobaan, namun ia tidak pernah putus asa. Semangatnya untuk mengembangkan usahanya, malah semakin menggebu.
 
Pria kelahiran 7 April 1967 ini, memang bukan asli orang Malang. Ia lahir dan besar di Jogjakarta. Sejak masih muda (bujangan), ia sudah merantau kemana saja untuk mencari pengalaman. Impiannya untuk menjadi seorang pengusaha sukses, akhirnya terwujud sekalipun harus beberapa kali jatuh bangun.
Sebelum menjadi seorang pengusaha kerupuk dan memiliki pabrik sendiri di Jalan Ketanen, Kelurahan Penarukan, Kepanjen, Suroyo adalah seorang buruh di sebuah pabrik kerupuk. Mulai dari bekerja membuat kerupuk, hingga berjualan keliling dari kampung ke kampung. Maklum, dari segi pendidikan, Suroyo hanya protolan SMP saja.

Meskipun hanya protolan SMP dan dari keluarga petani, namun Suroyo memiliki impian yang besar. Ia ingin menjadi seorang pengusaha kerupuk. “Tekad saya saat itu ingin merubah nasib dan membahagiakan orangtua,” ujar Suroyo.
Sekitar empat tahun bekerja di sebuah pabrik kerupuk, Suroyo yang sudah memiliki pengalaman ini, lalu ingin membuka usaha sendiri. Dengan modal hanya Rp 500 ribu, bersama dengan Surono, adik kandungnya ia mulai membuat usaha kerupuk dengan merantau ke Tulungagung pada 1989 lalu dengan merek Cita Rasa.
Mulai dari pembuatan kerupuk, penggorengan hingga penjualannya dilakukan sendiri bersama dengan adiknya. Meski hanya kecil-kecilan, namun saat itu usahanya berjalan lancar. Tetapi dua tahun kemudian, Suroyo harus memutuskan untuk merantau lagi. Usahanya yang dirintis dengan adiknya pecah.
“Usaha kerupuk di Tulungagung, saya serahkan kepada adik. Karena saat itu adik sudah menikah, sedangkan saya masih membujang. Saya memutuskan untuk merantau ke Kepanjen,” tutur bapak tiga anak ini.
Di Kepanjen, Suroyo mencari tempat kontrakan untuk mengembangkan usaha kerupuknya. Sebelum menetap di Jalan Ketanen, ia harus tujuh kali berpindah kontrakan. Ia menggeluti usahanya secara sabar dan semangat. Hasilnya, kerupuk Cita Rasa mulai berkembang pada tahun 1994.
Setahun setelah berkembang, ia lalu menikah dengan seorang perempuan asal Kepanjen, yaitu Nanik Maskula. Bersama dengan istrinya, Suroyo lantas mengembangkan usahanya.
“Jarak 5 tahun setelah setelah saya pindah ke Kepanjen, adik saya menyusul ke Kepanjen mengikuti jejak saya. Sebab usaha kerupuk di Tulungagung, saat itu mulai surut,” katanya.
Di saat usahanya mulai berkembang, pada 2004 ada permasalahan keluarga yang harus membuatnya berpisah dengan istrinya. Kerupuk merek Cita Rasa, diberikan kepada istrinya. Suroyo yang tidak patah semangat, meski diterpa badai tetap tegar.
Dengan modal yang dimiliki, ia merintis usaha kerupuk lagi yang diberinama Idola. Begitu kerupuk Idola berkembang, ia membuka lagi usaha kerupuk dengan merek Sahabat dan kemudian Andalas. Tiga pabrik kerupuk itu, semuanya dikembangkan di Kepanjen bersama paman dan adiknya dengan kontrak tempat.
“Ketika berpisah dengan istri, saya bertekad harus menjadi lebih sukses. Karena jika tidak, malah akan ditertawakan banyak orang. Apalagi perpisahan saya dengan istri, saat itu sempat dipublikasikan media,” urainya.
Secara perlahan akhirnya usahanya membuahkan hasil. Dari tiga pabrik kerupuk itu, Suroyo akhirnya memiliki rumah dan tempat usaha kerupuk sendiri sampai saat ini, yang diberi merek Andalas. Sedangkan kerupuk merek Idola dan Sahabat, diserahkan kepada adik dan pamannya.
Setelah berhasil meraih impiannya, Suroyo lantas mengajak istrinya untuk rujuk pada 2006. Pertimbangannya karena ia tidak bisa jauh dengan anak-anaknya. Kerupuk merek Cita Rasa yang diserahkan kepada istrinya, saat itu bangkrut dan dijual oleh istrinya kepada orang lain yang kini berubah merek menjadi Wirajaya.
Kerupuk Andalas milik Suroyo ini, sudah dikenal oleh masyarakat luas. Rasanya yang enak, gurih dan renyah membuat orang suka. Dan dari yang semula dikerjakan manual dan sendiri, kini Suroyo telah memiliki sekitar 50 karyawan.
Kerupuk Andalasnya, diedarkan di seluruh Malang Raya, mulai dari Kabupaten Malang, Kota Malang hingga Kota Batu. Termasuk di semua pelosok, ada kerupuk merek Andalas milik Suroyo.
“Saya tidak menghitung berapa omset yang saya dapatkan setiap bulannya. Yang terpenting bisa mencukupi keluarga, menyekolahkan anak sampai kuliah, termasuk bisa untuk membayar cicilan membeli ruko,” paparnya.
Untuk produksi, setiap harinya menghabiskan sekitar 5 kwintal tepung untuk bahan kerupuk. Namun ketika musim hujan, produksinya malah meningkat sampai menghabiskan sekitar 7 kwintal tepung.
“Prinsip saya adalah niat dan semangat. Dulu saat masih muda, saya sama sekali tidak merasakan bagaimana senangnya anak muda. Karena begitu protol sekolah, langsung dituntut untuk bekerja. Berbeda dengan anak muda sekarang, yang lebih banyak menghabiskan kesenangan daripada memikirkan masa depannya,” urainya.(agung priyo)