Belajar Otodidak dari Youtube, Mampu Bawakan Rampak Banten

PERCAYA DIRI : Rahmadiar Kautsar saat mengikuti Indonesia Deaf Talent 2015 di Jakarta akhir November lalu.

Rahmadiar Kautsar Juara III Indonesia Deaf Talent 2015

“I am difabel, but I am spesial”

Istilah itu rasanya tepat menggambarkan sosok Rahmadiar Kautsar. Jika dilihat dari segi fisik, jelas dia sangat berbeda dengan orang pada umumnya. Bentuk tubuhnya kecil tidak menunjukkan jika usianya kini telah menginjak 20 tahun. Cara berdirinya pun sedikit berbeda, nampak tulang belakangnya sedikit bengkok ke arah kiri.


Perbedaan itu, karena Diar, sapaan akrab, juga menderita penyakit Skoliosis, salah satu penyakit yang menyerang tulang belakang. Selain itu, laki-laki yang saat ini duduk di bangku kelas X SMA LB YPTB itu juga menderita tuna rungu, sehingga membutuhkan alat bantu pendengaran untuk berkomunikasi.
Hanya saja ketika berbicara tentang kepercayaan diri, optimisme, tekad dan kemauan, dan semangat juang Diar adalah sama. Bahkan bisa jadi,lebih dari pada orang-orang normal lainnya. Betapa tidak, dari segala keterbatasannya, ia mampu berprestasi di dunia tari.
Bahkan berhasil menyabet juara III tingkat nasional, dalam ajang Indonesia Deaf Talent 2015, yang baru saja diselenggarakan di Jakarta 27-28 November 2015 lalu. Diar membawakan tarian rampak, yang berasal dari Banten. Minatsir, sang Kepala Sekolah, mengaku terkejut dan bangga atas prestasi yang telah siswanya raih,
“Awalnya saya nggak tahu dia tiba-tiba ngajukan surat izin untuk mengikuti lomba tingkat nasional. Padahal sekolah tidak memfasilitasi apa-apa.” ujar Natsir, sapaan akrab.
Ia juga menambahkan apabila Diar belajar menari dengan ototodidak, melalui tayangan televisi dan youtube dalam kurun waktu hanya dua bulan, sebelum akhirnya melenggang ke ajang nasional.
Saat Malang Post melakukan wawancara yang diwakili oleh kedua orang tuanya. Sang ayah Dodid Edi Jogawidada, mengaku sangat bangga dengan prestasi yang telah diraih oleh anak bungsunya itu. Pria lulusan pertanian Universitas Brawijaya itu mengisahkan awal perjalanan Diar hingga dapat berjuang di ranah nasional,
“Semenjak kecil memang anak ini suka dengan dunia seni, kalau ada orang nari di TV gitu dia suka joget-joget sendiri.” kenangnya.
Semakin dewasa putranya pun semakin mahir menggunakan komputer, dan mulai mengakses gerakan tarian via youtube. Melihat keinginan dan potensi dari Diar yang begitu besar, Dodid, sapaan akrab, memanggil beberapa guru tari. Hanya saja kendalanya saat itu adalah tidak mudah menemukan guru yang dapat melatih anak tuna rungu.
Berdasarkan keterangan sang ayah, cara Diar berlatih menari adalah melalui hitungan ritme untuk mengukur hentakan. Menurutnya ia mampu memperhitungkan kapan dia harus bergerak, dari keterbiasaannya melihat tarian-tarian dari VCD tari yang diberikan, youtube, dan juga melalui bimbingan sang guru tari.
“Karena lebih cenderung ke tari, akhirnya sering saya belikan VCD yang isinya tarian-tarian gitu, dan juga anaknya juga mengembangkan sendiri dengan melihat internet.” ujar Dodid.
Sang ibu, Yetty Jogawinda, juga mengenang ketertarikan anak laki-laki satu-satunya akan dunia seni. Wanita sekaligus pemilik usaha Ayam Goreng Tenes itu menceritakan, apabila putranya memiliki potensi dan bakat di bidang seni dalam hal apapun.
“Dia suka semuanya, lukis juga dia suka, desain-desain dia juga suka, cuman memang yang unggul lebih di seni tarinya.” terang Yetty.
Ia pun menambahkan, kepercayaan diri yang tinggi dari putranya itu karena sebagai orang tua, mereka tidak pernah mendiskriminasikan Diar.
“Semua kita anggap sama. Tidak ada yang berbeda. Kalau kita keluar ya kita ajak, ke pertemuan dengan rekanan bisnis juga kita perkenalkan sebagai anak kita. Jadi dari diri si anak tidak muncul rasa malu maupun minder.” terang wanita yang masih nampak ayu meskipun telah memiliki cucu satu itu.
Selain itu juga, Diar sangat aktif di beberapa komunitas tuna rungu yang berada di Kota Malang, ia tergabung dalam komunitas Gerakan Akar Tuli Indonesia (Geratin), dan Akar Tuli. Tidak hanya itu, ia juga tergabung dalam komunitas tuna rungu yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Bahkan pernah kita ke Padang, yang nyamperin dia teman-teman komunitasnya, bukan kolega kita. Teman mama papa nya kalah sama teman nya dia.” kenang Yetty.
Tujuan dari keikut-sertaan puteranya di komunitas adalah untuk mengembangkan kepercayaan diri dan semangat. Karena komunitas-komunitas tersebut, terutama yang berada di Jakarta, dapat mempengaruhi dan mengarahkan pikiran-pikiran anggota lainnya supaya tidak merasa minder, rendah diri, dan juga lebih maju lagi.
Yetty berharap dampak dari keikut-sertaan Diar dalam komunitas yang selama ini ia ikuti, dapat mempengaruhi teman-temannya yang lain di Kota Malang.
“Karena komunitas yang di Jakarta itu maju-maju, banyak diantara teman-temannya yang tuna rungu kuliah di UI, dan tidak sedikit pula yang lulusan S2.” terangnya.
Adapun keterlambatan usia Diar yang telah menginjak usia 20 tahun tetapi masih kelas X SMA, karena dulunya ia bermasalah dengan kesehatan di usia 0 – 10 tahun. Sang ayah, Dodid menjelaskan pada saat Diar di dalam kandungan, terkena virus rubella yang menyebabkan ia menjadi tuna rungu dan keterbelakangan mental.
Kemudian di usia 2 hingga 3 tahun, Diar menderita Skoliosis yang membuatnya harus sering menyambangi rumah sakit. Belum lagi masalah jantung yang ia derita saat usia 10 tahun. Dodid pun menceritakan, setelah operasi Jantung, Diar mulai bisa fokus dan konsentrasi menerima pelajaran.
“Saat tubuhnya sudah tidak merasa sakit, dia mulai mampu menyerap materi dan kembali fokus menerima pelajaran, baru kita masukkan sekolah lagi.” kenangnya.(Alfinia Permata Sari/ary)