Syamsul Subakri, Kembangkan Seni Ukir dalam Botol

Karya ukir Syamsul Subakri terbilang unik. Ia adalah pelaku seni ukir dalam botol. Ya karya yang ia ukir berada di dalam botol. Karya luar biasa ini, sudah dimiliki oleh Andi F Noya hingga Presiden RI, Joko Widodo. Kini goresan seni yang ia tuangkan dalam sebuah botol itu telah terbang hingga ke Eropa.


Seni ukir di dalam botol ini beberapa kali ia berikan sebagai buah tangan untuk teman-temannya yang berasal dari Eropa. Seperti Belanda, Italia, Inggris, dan Perancis. Seni ukir kaya ragam ini diharapkannya mampu menyampaikan sebuah pesan kepada masyarakat global, bahwa Indonesia memiliki kreativitas yang bersaing.
 “Ini salah satu contoh karya ukir di dalam botol yang saya buat khusus untuk Andi F. Noya yang berbentuk wajahnya. Ukiran ini saya buat sebagai salah satu bentuk apresiasi yang saya berikan atas perhatian yang diberikan kru dari Andy,” urai Syamsul Subakri yang tinggal di Jalan MT Haryono no. 11 Kota Malang ini.
Sedangkan untuk rekan dari Eropa, ia sengaja memberi beberapa karya ukir secara cuma-cuma. Namun yang dia berikan bukan karya sembarangan. Sebab, rekan Eropa, diharapkan membawa misi mengenalkan karya anak bangsa.
Seni ukir di dalam botol yang dibuatnya bersama sang isteri ini merupakan eksperimen terbarunya di tahun 2015 ini. Meski banyak yang menaruh minat terhadapnya, namun hasil ukir terbaru ini tidak pernah dikomersilkan. Baginya, setiap orang memiliki takaran yang berbeda dalam menilai sebuah karya seni.
Teknik mengukir di dalam botol ini tidak jauh berbeda dengan teknik yang diterapkan dalam seni ukir botol di luar. Perbedaannya adalah pada tingkat kesulitan yang cenderung membutuhkan ketelatenan lebih. Jam terbang yang mumpuni diyakininya mampu membuat seseorang mengerjakannya dengan baik. Untuk itu, dibutuhkan pelatihan secara terus menerus dalam melatih kelenturan tangan.
Lepas dari itu, ia dan isteri juga banyak membuat berbagai karya fantastis seperti ukir di luar botol, lukis botol, lukis kaca, lukis sulam, wayang suket, dan needle art. Setiap karya yang dibuat selalu banyak diminati penikmatnya. Sehingga dengan mudah narasi yang kental akan nilai budaya dalam setiap karya yang dibuatnya ini sampai kepada masyarakat.
Prinsip yang dipegangnya adalah padat karya, sebagaimana arti dari sanggar yang ia buat dengan nama Asta Karya Panca Wiguna. Nama ini berasal dari bahasa Jawa yang bermakna, bahwa lima tangan yang dimiliki manusia, memiliki banyak manfaat untuk menciptakan sebuah karya.
Di era modern seperti ini, banyak orang berpikiran bahwa memproduksi dengan jumlah yang banyak akan memberinya banyak keuntungan. Namun tidak dengan pasangan suami isteri ini, mereka lebih memilih berkarya dengan tangannya meski dengan jumlah yang terbatas. Ini merupakan salah satu strategi yang sengaja diterapkan untuk membuat setiap karyanya bernilai lebih eksklusif.
 “Saya pernah diminta memproduksi dalam jumlah banyak, namun saya menolak. Jika memang orang itu berminat maka saya akan mengerjakannya dengan waktu yang sedikit lama,“ urainya.
Karya yang ia buat ini bukan dari mesin, tapi dengan ke dua tangan. Ia memilih membuat karya dengan penuh ketelatenan, namun peminatnya tetap banyak
“Apalagi kalau memakai mesin, dan mesinnya dari utang,“ jelas suami Suli ini sembari dibarengi gelak tawa khasnya.
Sebagai seniman yang tidak memiliki latar belakang pendidikan seni, mereka tidak pernah menyerah untuk selalu belajar. Membentuk karakter melalui berbagai proses terjal tidak pernah disia-siakan. Dengan kritik yang didapat dari berbagai kalangan, bukti dukungan pun mulai didapatkan.
Keberhasilannya ini merupakan sebuah tanggungjawab sosial yang harus disampaikan kepada masyarakat. Di sela kesibukannya, ia dan isteri selalu menyempatkan diri untuk melakukan berbagai pelatihan untuk instansi sekolah maupun instansi non formal lainnya. Pelatihan ini juga merupakan misi utama yang sengaja ingin mereka terapkan kepada banyak orang.
Sang isteri, Sulaihah yang akrab dipanggil Suli menceritakan sebuah pengalaman menariknya ketika mengisi sebuah pelatihan di sebuah desa di Ponorogo. Selama sepuluh hari ia harus mengajarkan para ibu rumah tangga untuk mengembangkan kemampuan yang telah dimiliki menjadi lebih berkembang. Keterbatasan alat tidak membuatnya kebingungan, namun membuatnya tertantang untuk lebih berkembang.
Pada akhirnya, para ibu rumah tangga dalam pelatihannya ini mendapat gelar juara dua dalam ajang nasional yang dibuat dalam tingkat daerah pada tahun 2013.
Menghadapi isu MEA yang menuntut kesiapan masyarakat, pasangan suami isteri ini lebih memfokuskan dirinya untuk terus membuat hasil karya yang lebih bermakna lagi. Mereka tidak sedikit pun merasa takut, karena setiap karya yang dibuat memiliki nilai khas yang dapat membedakan diri dengan yang lain.
Menurutnya, bersinergi bersama membangun sebuah kekuatan hasilnya akan lebih baik, daripada harus saling menyikut satu sama lain. Era MEA merupakan kesempatan yang seharusnya dimanfaatkan untuk membangun pagar besi yang kuat. Dengan komitmen ini, maka tidak akan ada kekuatan yang mampu menyaingi.(Pipit Anggraeni/ary)