Mengenal Livi Zheng, Sutradara Kelahiran Malang Tembus Hollywood

Awal Desember ini nama Indonesia terkenal di Amerika Serikat berkat sosok pianis cilik Joey Alexander yang masuk nominasi Grammy Award. Namun, jauh sebelumnya, anak muda Indonesia juga telah mencuri nama karena menorehkan prestasi di dunia hiburan, melalui sosok Livi Zheng. Melalui karyanya berjudul Brush with Danger, dia menjadi orang pertama Indonesia yang mampu menembus ketatnya persaingan film di Amerika. Bahkan, tahun ini sampai menjadi nominasi Academy Awards.
Beberapa waktu lalu, ketika melakukan promo film Brush with Danger, Malang Post berkesempatan berbincang dengan perempuan kelahiran Malang tersebut. Suka duka menjadi sineas di negeri Paman Sam hingga akhirnya film bisa diputar, termasuk hadir di bioskop tanah air sejak 26 November 2015 lalu, diceritakan olehnya.
Bangga. Satu kata itu langsung terucap dari mulutnya, begitu ditanya bagaimana perasaannya mendapat pengakuan internasional. Bukan jalan mudah, membuat film yang terinspirasi dari temannya yang berasal dari Ethiopia itu. “Terutama agar scriptnya diterima produser terkenal di Hollywood. Penolakan sampai 32 kali,” ujarnya, ketika mengawali cerita.
Tidak hanya itu, Livi juga kesulitan dalam mencari kru yang mau turut menggarap film. Pasalnya, di Amerika, film tidak hanya harus bagus. Sosok penulis atau sutradara, juga mempengaruhi minat dari kru. “Mereka juga pilih-pilih. Kadang untuk yang belum memiliki nama, banyak ditolaknya,” terang anak kedua dari tiga bersaudara itu.
Akan tetapi, menurut Livi, hal-hal itu tidak mengurangi niatnya untuk tetap menggarap film ketiganya, selama di Amerika Serikat tersebut. Sebab, dia memiliki niat besar untuk mengejar mimpi dan agar cita-citanya terwujud. “Semua berawal dari mimpi atau cita-cita. Perlahan saya mewujudkannya, dan kini sudah sampai pada titik ini,” papar dia.
Awal karir, dia malah dicemooh oleh beberapa film maker Hollywood terkait cita-citanya ingin menjadi sutradara. “Mereka bilang you are everything wrong about being director, karena saya masih muda, perempuan, dan saya dari Asia. Karena selama ini sutradara Hollywood adalah pria yang sudah berpengalaman,” ujar wanita pencinta rawon tersebut.
Dia mengisahkan bagaimana waktu yang dia habiskan di luar negeri, hingga mencoba membuat scrip sejak 2008 dan akhirnya menjadi sutradara sejak 2012. Ketika SMP, dia mesti meninggalkan tanah air, dan mengambil studi di Beijing, Tiongkok. Di sana, tidak hanya belajar, Livi mesti belajar akan wushu. Ya, dia awal mulanya merupakan atlet wushu dan mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan di Beijing, pasca lepas dari Shi Cha Hai Sport School.
“Dari kecil saya suka wushu. Ternyata, wushu sangat masuk dalam film Tiongkok dan saya sempat menjadi pemeran dalam film yang harus menunjukkan keahlian bermain wushu,” papar Livi yang menghabiskan masa kecilnya di Blitar tersebut.
Untuk karier wushu, Livi sejatinya tak kalah moncer. Sebanyak 26 medali telah dia dapat di pertandingan internasional. Misalnya USA World Championship Las Vegas dan US Open di Florida.
Prestasi itu, tidak menghalangi dia untuk serius menjadi sineas. Tercatat, empat naskah telah menjadi film yang tayang di Amerika Serikat. Mulai dari The Empire’s Throne, Legend of The Best, Brush with Danger dan yang akan rilis tahun 2016, Untitled Action Thriller. Yang paling moncer, Brush with Danger, karena mendapat nominasi Oscar dalam kategori Best Picture. Hal itu membuatnya bangga dan setahun pasca rilis di AS, film ini dilepas di bioskop tanah air.
“Memang agak lama selisihnya. Saya menunggu kelarnya studi S2, agar bisa ikut dalam gala atau promo film di Indonesia,” tegas dia.
Brush with Danger diperani oleh sang adik pula, Ken Zheng. Film ini pada akhirnya digarap oleh Production House Sun and Moon Films.  Di AS, film ini sempat menjadi pembahasan New York Times. Berdasarkan pengalaman, film yang menjadi perbincangan atau perdebatan dalam majalah itu, berarti menarik minat pengamat. Sekalipun isinya merupakan kritik atau saran demi kebaikan, hal itu membuktikan jika film diperhatikan.
“Saya malah senang dikritik. Itu artinya film saya diperhatikan. Disejajarkan dengan Mocking Jay Part 1 dan Birdman,” paparnya.
Menurut dia, film yang menarik minat masyarakat di AS, sudah sepantasnya bersinar di Indonesia. Beberapa tokoh, misalnya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Wagub Jatim Saifullah Yusuf mengapresiasi film ini. “I do my best. Harapannya, film ini pun memikat masyarakat Indonesia,” tambahnya.
Dia pun berpesan, untuk serius ketika menekuni sesuatu. Wanita yang saat ini juga berperan sebagai President of Asian American Cinema Association University of Southern California menyampaikan, dalam mengerjakan sesuatu entah itu besar atau kecil harus totalitas. “Jangan mentang-mentang film kecil ngerjainnya cuman 20 persen kalau film besar ngerjainnya baru 100 persen,” pungkas Livi yang mengaku akan terus menciptakan naskah dengan kualitas internasional. (Stenly Rehardson/ary)