Musim Penghujan Masih Kesulitan Air, Satu Sumur Rame-Rame


MESKI telah memasuki musim penghujan, masyarakat Dusun Salamrejo, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo masih mengalami kekeringan. Pasalnya, di tempat itu baru turun hujan sebanyak dua kali. Untuk mendapatkan pasokan air bersih, warga memanfaatkan sebuah sumur yang belum mengering dan dipasang 30 unit pompa air.

Cuaca terik panas menyengat di Kecamatan Donomulyo Jumat (11/12/2015) siang kemarin. Sepertinya awan mendung pembawa hujan, enggan mampir ke tempat tersebut. Kondisi ini, tentunya berbanding terbalik dengan wilayah lainnya di Malang Raya, yang sudah turun hujan. Akibatnya, masyarakat merasakan dampaknya yakni kesulitan mendapatkan air bersih.
Kondisi tempat itu yang berbukit dan bertanah kapur, memang sangat sulit untuk mendapatkan air dalam tanah. Harus menggali sumur bor bawah tanah sedalam 20 meter lebih hanya untuk mendapatkan air bersih. Itupun debitnya tidak sebanyak yang dibayangkan. Selain itu, kualitas air yang masih jelek, lantaran bercampur lumpur.
Warga yang kesulitan air, terpaksa mengantrekan jerrycan dan baknya di rumah-rumah warga yang airnya masih keluar. Itupun debitnya tidak melimpah.
Sebagian warga lainnya, lebih memilih menunggu pasokan air bersih dari PMI Kabupaten Malang. Kemudian, pasokan air bersih itu ditaruh di tandon milik warga yang sudah dipersiapkan.
Ada juga warga yang memiliki ide kreatif. Yakni dengan memanfaatkan sumur yang masih mengeluarkan air. Setidaknya, terdapat tiga sumur di Dusun Salamrejo yang masih mengeluarkan air. Satu sumur, kemudian dipasang 30 sanyo pompa air untuk oleh masyarakat sekitar. Seperti sumur milik salah seorang warga bernama Erma Sujeni ini.
Sumur miliknya, dimanfaatkan sebanyak 30 warga. Artinya, terdapat 30 pompa air yang dipasang di atas sumurnya. Kemudian, warga yang sudah memasang pompa air itu, juga membangun instalasi pipa. Keberadaan pipa ini, sebagai media distribusi air bersih dari sumur dan dialiri ke rumah-rumah warga. Sumur Sujeni, mirip-mirip sedikit dengan PDAM swasta.
“Untuk pompa airnya murah. Cukup merogoh kocek Rp 500 ribu, sudah mendapatkan sebuah pompa air. Namun, yang mahal itu memasang pipa paralon untuk distribusi air ke rumah warga,” ujar Erma Sujeni, kepada Malang Post.
Harga untuk memasang pipa paralon ini, harus merogoh kocek sebesar Rp 2 juta. Nilai sebesar itu, dengan estimasi pipa paralon sepanjang 500 meter. Karena, jarak sumur miliknya itu ke rumah warga memang sangat jauh.
“Pipa paralon ini, sengaja tidak kami pasang di dalam tanah. Bila sewaktu-waktu rusak maupun mengalami kebocoran, dapat dengan mudah diperbaiki,” urai pria berusia 37 tahun ini.
Selain memasang pipa paralon yang amat panjang, warga yang memasang pompa air di sumur itu, harus disibukkan dengan pemasangan aliran listrik. Pasalnya, satu pompa air milik warga, mendapatkan satu aliran listrik dari rumah masing-masing warga itu. Sehingga, kabel listik yang dipasang juga sangat panjang.
Karena dipasang mulai dari rumah warga, hingga ke sumur tersebut. “Pernah kami ditegur oleh PLN karena dituding melakukan pencurian listrik. Setelah dijelaskan kami mengambil listrik ini dari rumah warga masing-masing, PLN akhirnya mengerti,” terang pria yang asli Dusun Salamrejo, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo ini.
Menurutnya, pasokan dari sumur itu semakin berkurang. Terlebih di desanya itu, baru turun hujan sebanyak dua kali. Itupun dengan intensitas rendah dan waktunya singkat. Akibatnya, sumur-sumur dan sumber-sumber di desa tersebut semakin mengering. Hal itu, juga berimbas terhadap instalasi pompa air sumur itu yang berkurang debitnya.
“Untuk penggunaannya, terpaksa kami jadwal dan bergantian. Tidak boleh digunakan secara bersamaan. Kalau dipaksakan bersamaan, maka air sumur ini nantinya bisa habis,” terangnya.
Warga pemasang pompa air pun setuju dan menyepakati bahwa pengguaanya secara bergantian. Selain itu, mereka juga membayar iuran untuk merawat sumur itu.
Selain itu, bagi rumah warga yang belum memasang pompa air di sumur itu, harus mengantre mendapatkan air di rumah warga yang airnya mengalir. Masyarakat pun berbondong-bondung membawa jerigen dan embernya untuk mengantre air. Atas kesadaran sendiri, mereka mengantre dengan tertib.
“Kalau pada musim kemarau kemarin, air di sumur ini kering sama sekali. Saat itu, kami mengandalkan bantuan kiriman air bersih dari pemerintah,” tuturnya.
Menurutnya, di tempat tersebut memang langganan kekeringan. Meski sudah memasuki musim penghujan, bukan menjadi jaminan air akan melimpah.
Buktinya, sekarang masyarakat sulit mendapatkan air dan keberadaan sumur itu, terancam mengering.
“Saya tidak tahu faktor apa yang menyebabkan di desa ini sulit turun hujan. Bila turun hujan pun, intensitasnya rendah dan waktunya singkat,” keluhnya.
Setidaknya, terdapat 610 kepala keluarga (KK) di desa tersebut yang mengalami kekurangan air. Hal ini, dia mendesak supaya pemerintah mencari solusinya. Bentuknya bisa membangun sumur bor dan membagun tandon  Sehingga, diharapkan tempat tersebut tidak mengalami kekeringan lagi. (Binar Gumilang/ary)